4 - Cokelat Emas

9 2 0
                                    

“Pagi, Nek”

Pemilik indekos yang sedang membersihkan halaman dengan sapu lidi di tangan kanan dan pengki di tangan kirinya menoleh ke arahku, “Pagi, Nak. Sudah mau berangkat?”

“Iya, Nek.” Aku berjalan menghampiri untuk mencium tangannya yang telah mengeriput.

“Oh iya, Nenek sudah dapat kabar....” Sambung wanita lanjut usia itu dengan senyumannya yang lembut.

“...Katanya Nak Mika bulan depan mau main lagi ke sini loh.”

“Kalau begitu bakal ramai lagi ya, Nek,” aku menelan ludah. Meskipun ini memang sudah menjadi rutinitas tahunan, hatiku tidak siap.

Raut wajah Nenek berubah, kemudian disusul tawa kecil sambil kembali menyapu halaman.

Mika adalah cucu perempuan beliau, ia dan orang tuanya tinggal di kota yang jauh dari sini. Di kala liburan datang, perempuan yang satu tahun lagi akan menyelesaikan pendidikan sarjananya itu selalu berkunjung. Menginap selama beberapa hari, meski sebenarnya Nenek bilang dia lebih lama tinggal sejak mengetahui kalau ada aku di tempat ini. Seharian memaksaku untuk menjadi teman main, dia satu-satunya perusak waktu liburanku. Walaupun kuakui cukup menyenangkan.

Tahun demi tahun kulihat perempuan itu berbeda, dia semakin tumbuh dewasa. Pastinya, perempuan yang selalu mengajakku berbicara itu pun akan menjadi seorang wanita. Jatuh cinta, menikah, dan memiliki keluarga sendiri.

Aku tidak yakin kalau ini adalah cinta. Tetapi, dapat memiliki pasangan yang lebih dewasa dan dapat diandalkan di kala susah atau pun senang adalah harapanku. Namun bisa jadi karena selama ini hanya dia perempuan yang sering ada di sampingku.

Aku menyadari bahwa hal itu tidak akan bertahan lama. Jauh berbeda denganku, dia berada di tingkatan yang tinggi—aku tidak akan pernah dapat menggapainya.

“Hmm... Maaf,” sapa seorang siswi yang berdiri di hadapanku. Memegang sebuah buku cukup tebal dengan logo sekolah di sampulnya, kurasa yang menghentikan langkahku di depan gerbang sekolah ini adalah petugas kedisiplinan.

Tidak asing bagiku, hanya dia yang kukenal seperti ini. Menundukkan wajahnya dan sesekali melihat ke arahku, sikap pemalu siswi ini ternyata tidak berubah sejak SMP dulu.

“Jas seragam sekolah... Apa kau tidak membawanya?” tanya si siswi petugas kedisiplinan dengan ramahnya.

“...Hmm.” Aku bergumam lalu memejamkan mata, mengeluh dalam hati memikirkan sesuatu.

Hari sialku telah datang. Gadis yang kemarin kubuat kesal kembali memenuhi isi kepalaku saat ini. Setelah kejadian waktu itu, Cindy lari begitu saja sambil membawa jas milikku. Tentu aku tidak bisa mengatakan alasan ini kepadanya.

“Hilang... Sepertinya.”

“E-eh? Apa maksudmu hilang?” Ia merespons alasanku dengan antusias. Tidak ada kulihat keraguan dari mata gadis itu. Tetapi aku masih belum bisa tenang begitu saja.

“Apa yang terjadi? ...Ah, kau rupanya.” Sosok yang biasa bersama gadis pemalu ini pun muncul. Mungkin kah dia yang mengajaknya menjadi petugas kedisiplinan? Aku yakin memang dia.

“Kau berhasil mendapat tangkapan yang bagus, sahabatku!” dia mengatakannya sambil cengar-cengir dan menepuk punggung si gadis pemalu.

“Kau! Temui ketua di ruangannya nanti siang!” perintah siswi petugas kedisiplinan yang asal nimbrung itu.

Tak ada pilihan selain menurutinya. Aku pergi meninggalkan mereka setelah menuliskan namaku di lembar pelanggaran siswa. Dapat terlihat jelas kepuasaan di wajahnya, sedangkan rasa bersalah pada si pemalu.

When with YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang