We Went Right Back To Your Games

865 119 6
                                        


Seminggu tanpa Taehyung. Seminggu tanpa kabar dan berita dari Taehyung. Seminggu yang penuh siksaan untuk Jimin. Ia merindukan Taehyung, tetapi disisi lain ia merasa marah dan sedih dengan sikap Taehyung yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Di sisi lain ia juga merasa takut untuk kehilangan Taehyung. Akan tetapi, pantaskah ia merasa takut untuk kehilangan Taehyung ketika ia sendiri tidak tahu kejelasan hubungan mereka berdua. Inikah yang disebut orang dengan friends with benefit? Apakah ia hanya sekedar hiburan untuk Taehyung?

Kim Taehyung itu berbahaya.

Jimin menutup matanya, membiarkan sinar matahari dari jendela kamarnya menyinari wajahnya. Ia tidak keluar rumah selama seminggu terakhir, kembali merasa nyaman dengan kamarnya. Tentu saja kamarnya akan menjadi satu-satunya tempat yang membuatnya nyaman, karena tempat yang lain hanya menyediakan kenyamanan untuknya ketika ia bersama Taehyung. Perkataan Jihoon masih terngiang-ngiang di pikirannya. Benarkah Taehyung berbahaya?

Ia tidak akan bertahan lama.

Benarkah? Jimin tidak ingin mempercayai Jihoon. Akan tetapi, Taehyung terlanjur menghilang ketika mereka baru saja menghabiskan waktu yang lebih intim dibandingkan sebelumnya. Taehyung menghilang ketika hubungan mereka masih belum bisa dibilang lama.

Ia tidak bisa setia kepada satu orang saja.

Atau mungkin Taehyung memiliki orang lain selain Jimin? Apa mungkin Jimin hanya sebagai opsi saja untuk Taehyung? Apakah Taehyung memilih orang lain dibandingkan dirinya?

Ia akan pergi ketika ia sudah merasa bosan.

Mungkinkah Taehyung merasa bosan dengan dirinya? Jimin yang tidak memiliki pengalaman apapun mengenai cinta, mungkinkah Taehyung merasa bosan dengan dirinya yang seperti ini? Jimin yang tidak tahu apa-apa mengenai seks, tidak tahu seperti apa ciuman yang memuaskan, tidak tahu apapun mengenai kenikmatan batin. Mungkinkah Taehyung bosan dengan Jimin yang seperti ini?

Jimin menarik nafas panjang. Angin sepoi-sepoi yang berhembus ke dalam kamarnya memberikan aroma pantai dan laut khas Busan. Dulu, Jimin menyukai aroma pantai dan laut Busan. Sekarang ia lebih menyukai perpaduan aroma stroberi dan rokok khas Taehyung. Sayangnya, aroma tersebut tidak dapat dinikmati lagi oleh Jimin. Taehyung menghilang dan Jimin tidak tahu harus berbuat apa.

***

Dua minggu berlalu dan Jimin menyerah. Ia tidak lagi mencoba menghubungi Taehyung, walaupun ia tetap berharap Taehyung akan memberikan respon. Hanya saja,  semakin Jimin menunggu, semakin tidak ada kabar yang datang mengenai Taehyung. Jimin ingin bisa melupakan Taehyung secepat Taehyung menghilang dari hadapannya, tetapi Jimin sudah jatuh terlalu dalam.

Jimin tersadar dari lamunannya ketika ia mendengar suara ketukan pintu berkali-kali dari pintu depan rumah neneknya. Hari ini Jimin sendirian di rumah. Ketika ia bangun, ia hanya mendapatkan note kecil yang tertempel di depan kamarnya,

ke rumah sakit, om tante ke gwangju, jihoon ke rumah teman. makanan di kulkas panaskan saja untuk sarapan.

Jimin dengan malas-malasan melangkahkan kakinya ke arah pintu depan rumah, enggan untuk bertemu dengan siapa pun.

"Ya? Ada per-" sapaan Jimin kepada siapa pun yang sedari tadi mengetuk pintu rumahnya terhenti. Ia mengenal prai ini.

Tentu saja Jimin akan mengenal pria yang menghilang selama hampir dua minggu, tanpa menanggapi sms maupun teleponnya. Pria yang membuat dirinya berantakan, pria yang memberikan makna dari kalimat
'sakit tapi tidak berdarah'.

Jimin bergegas berusaha menutup pintunya, tidak mau bertemu dengan Taehyung, tetapi Taehyung bergerak lebih cepat sehingga membuatnya bisa mencegah tindakan Jimin untuk menutup pintu.

"Jimin, aku mohon"

Jimin bersikeras menutup pintunya dan sebaliknya, Taehyung berusaha untuk membiarkan pintu itu tetap terbuka.

"Apa maumu?" Jimin menaikkan volume suaranya tetapi ia menundukkan kepalanya, terus berusaha untuk menutup pintu. Ia tidak sanggup menatap Taehyung. Ia tidak mau menunjukkan bahwa matanya mulai terasa basah. Jimin tidak mau menangis di depan Taehyung.

"Jimin, aku bisa cerita semuanya"

Bahu Jimin bergetar dan airmatanya mulai mengalir. Bagaimana nungkin Taehyung tiba-tiba muncul di hadapannya seperti ini? Bagaimana mungkin ia muncul kembali setelah meninggalkan Jimin begitu saja? Berjuta sms, berjuta panggilan yang ditujukan ke nomor handphonenya, dan tidak ada satu pun yang dijawab atau direspon oleh Taehyung.

"Jimin"

Taehyung mendekatinya, berhasil membiarkan dirinya masuk ke dalam ketika Jimin terlalu kalut dalam perasaannya yang bercampur aduk. Jimin masih menundukkan kepalanya, tangannya terlepas dari pegangan pintu, kini terkepal di samping tubuhnya.

"Jimin" ujar Taehyung lagi memanggil nama Jimin seakan meminta ijin ketika ia menarik Jimin ke dalam pelukannya. Tangannya mengelus punggung Jimin, dari atas ke bawah secara berulang kali, berusaha memberikan ketenangan kepada Jimin yang mulai menangis dengan pilu.

Taehyung menempatkan dagunya di atas kepala Jimin, sesekali mencium rambut Jimin, menghirup aroma shampoo yang digunakan Jimin. Wangi dan lembut, sama seperti Jimin.

"Apa susahnya kasi kabar?!"

Jimin membiarkan suaranya parau karena tangisnya.

"Satu sms saja. Susah?!"

"Iya maaf, aku tau aku salah"

"Menelepon balik. Susah?!"

"Iya maaf, aku tau aku salah"

"Kamu bosan sama aku?!"

"Engga, Jimin"

"Senang bikin aku nangis?!"

"Engga, Jimin"

"Senang bikin aku nunggu?!"

"Engga, Jimin"

"Aku cemas! Aku kangen! Kamu ga tau rasanya!"

"Aku tau" Satu ciuman lagi di rambut Jimin. "Karena aku juga merasakannya"

"Aku benci kamu, Kim Taehyung!"

"Jangan bohong. Bohong itu dosa"

"Aku benci kamu! Titik!"

Taehyung tersenyum. Mana ada orang mengatakan benci sambil memeluk orang yang dibencinya seerat ini?

"Tapi aku engga"

Taehyung sedikit melangkah mundur, tetap memegang pinggang Jimin, menatapnya dengan senyum. Jimin masih menangis. Airmata menari di wajahnya, merah merona menghiasi pipinya. Matanya sembab, ujung hidungnya memerah, dan Taehyung gemas.

Taehyung mengecup hidung Jimin, mengecup pipi Jimin seraya menghapus airmatanya yang masih mengalir, ikut merasakan asin airmatanya di setiap kecupan yang ia berikan, sambil akhirnya mengakhiri kecupannya di dahi Jimin.

"Maaf" katanya sekali lagi, sambil menurunkan kepalanya ke arah Jimin, mencium bibirnya. Hanya ciuman ringan, tanpa perlu menautkan lidah.

"Maaf. Jangan benci padaku"

Dahi kedua orang itu saling menempel, keduanya merasakan nafas mereka yang sudah bercampur satu sama lain.

"Bodoh" sahut Jimin dan akhirnya menarik Taehyung mendekat dan menciumnya lagi.

Strawberries And CigarettesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang