I Lied To My Mom and Dad, I Jumped The Fence and I Ran

1K 138 7
                                        

Jimin tidak menjawab ajakan kencan Taehyung. Jimin berpikir Taehyung hanya berusaha untuk merayunya, atau mungkin Taehyung hanya bermain-main dengannya. Taehyung memang ramah, atau mungkin keramahannya hanya sebatas upaya mendekati Jimin. Jimin tidak tahu, tidak yakin dengan apa yang dirasakannya, tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Apalagi ia belum terlalu mengenal Taehyung. Ia tidak tahu jika Taehyung seperti stroberi, manis, atau mungkin seperti rokok, menyesakkan.

Walaupun tidak memberikan jawaban dan berpura-pura seperti tidak ada yang terjadi di antara mereka berdua, Jimin membiarkan Taehyung mengikutinya kemana-mana. Ia bahkan tidak kaget lagi jika Taehyung muncul secara tiba-tiba di belakangnya atau menaruh dagunya di pundak Jimin. Jimin hanya diam, membiarkan Taehyung bersikap sesukanya.

Jimin tidak lagi mengurung dirinya di kamar, tidak lagi menggerutu ketika kedua orang tuanya meminta tolong untuk membeli sesuatu di luar rumah. Ia bahkan menunggu kedua orang tuanya memintanya untuk membelikan sesuatu. Jika tidak, ia yang akan mencari alasan untuk keluar rumah.

"Mau kemana?"

"Perpustakaan"

"Katanya malas jalan?"

"Bosan di kamar. Mau cari suasana baru"

Bohong. Seorang Park Jimin tidak mungkin mau mencari suasana baru. Jimin adalah seseorang yang monoton. Ia tidak pernah suka dengan suasana baru. Ia tidak mau beradaptasi. Ia menyukai zona nyamannya, berusaha tidak berbaur dengan hal-hal yang asing.

Jimin selalu menunggu Taehyung di perpustakaan. Ia menunggunya di pojok ruangan, di bagian rak buku psikologi, mengambil salah satu buku secara acak dan berusaha terlihat seperti sedang mendalaminya. Taehyung akan muncul 10-15 menit kemudian dan memilih untuk duduk di hadapannya.

"Aku ga mau duduk di samping kamu."

"Kenapa?"

"Soalnya kalo duduk di samping kamu, aku ga bakalan bisa melihat wajah kamu yang serius. Aku suka lihat kamu serius membaca seperti itu"

Sejak saat itu, Taehyung selalu duduk di depan Jimin dan Jimin selalu berusaha untuk terlihat mendalami apapun yang dibacanya. Terlihat serius ketika membaca. Ia akan membiarkan Taehyung menatapnya berjam-jam.

Terkadang, Taehyung tertidur ketika menunggui Jimin yang tampaknya sedang serius membaca. Jimin membiarkan Taehyung terlelap, menyingkirkan buku yang dibacanya, dan menaruh kepalanya di atas lengannya sambil menatap Taehyung yang kedua matanya tertutup rapat. Ia akan membiarkan hal ini berlangsung selama satu jam dan ketika ia merasa cukup, ia akan membangunkan Taehyung dan mengatakan bahwa ia akan pulang.

Jimin kini membiarkan Taehyung mengikutinya saat ia berjalan pulang, atau mungkin bisa dikatakan Jimin membiarkan Taehyung mengantarnya pulang. Dalam perjalanan pulang, keduanya diam. Jimin menatap lurus ke depan, Taehyung menghisap rokoknya. Jimin bahkan tidak protes ketika asap rokok yang dihembuskan Taehyung menghampiri hidungya. Ia sudah terbiasa.

"Sampai jumpa, Jimin" adalah kata-kata yang diucapkan Taehyung ketika mereka berdua sampai di depan rumah neneknya Jimin. Jimin tidak menyahut. Ia hanya sekedar menganggukan kepalanya dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa harus menengok lagi ke belakang. Setiap hari mereka berdua akan mengulang rutinitas tersebut. Tidak ada yang lebih, tidak ada yang kurang.

Terkadang Jimin tidak bisa menyangkal bahwa ia menunggu pesan dari Taehyung.

"Minta nomor kamu" tanya Taehyung waktu itu, ketika ia mengajak Jimin menemaninya membeli es krim.

Jimin memberikan nomornya, tetapi tidak menanyakan nomor Taehyung. Untuk apa? batinnya dalam hati. Ia bukan tipe orang yang mudah untuk memulai percakapan. Akan tetapi, ia menunggu notifikasi pesan di handphonenya, menunggu pesan atau mungkin telepon dari nomor yang tidak dikenalnya. Jimin menunggu setiap hari, tetapi tidak ada hasil.

Sampai akhirnya malam ini, ia mendapat notifikasi dari nomor yang tidak dikenalnya, nomor yang tidak memiliki nama di kontak handphonenya.

Jimin?

Jimin membalasnya dengan satu tanda tanya saja.

Aku di luar rumah kamu. Ayo pergi.

Kim Taehyung!

Jimin bergegas menuju ke arah jendelanya. Ia melihat sebuah mini truck berwarna ungu (ini adalah kali pertama untuknya melihat mini truck berwarna ungu) dan tentu saja Taehyung yang berdiri di depan pagar rumahnya.

"Jimin!" serunya melambaikan tangannya.

Jimin panik, takut kedua orang tuanya atau mungkin keluarganya yang lain mendengar suara Taehyung. Ia pun memutuskan menelepon Taehyung, mengurangi resiko membangunkan seisi rumahnya yang sudah terlelap di jam 11.30 malam.

"Ayo keluar!"

Jimin bisa mendengar suara Taehyung terdengar begitu semangat.

"Kemana?"

"Pantai"

"Udah malam. Udah jam segini"

"Ya terus kenapa?"

"Ya gak apa-apa"

"Ya udah ayo. Bentar doang kok. Pantainya bagus. Kita bisa lihat bintang"

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jimin keluar rumah di atas jam 7 malam. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jimin keluar dari kamarnya menggunakan jendela kamarnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jimin keluar rumah melompati pagar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jimin memutuskan untuk keluar dari hidupnya yang monoton. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jimin membiarkan ia mengikuti kata hatinya dan bukan mengikuti logikanya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jimin mungkin merasakan debaran jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.

Strawberries And CigarettesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang