You Always Leave Me Wanting More

958 114 10
                                        

🔞

Pagi? Kim Taehyung.

Siang? Kim Taehyung.

Sore? Kim Taehyung.

Malam? Kim Taehyung.

Jimin dimabuk asmara. Ia jatuh cinta. Ia tidak bisa melewati hari tanpa memikirkan Taehyung. Taehyung, Taehyung dan Taehyung. Kata orang, cinta pertama akan selalu manis, akan selalu berkesan, akan selalu meninggalkan cerita yang membuat hati berdebar dan pipi mengembang karena senyuman.

Setelah mengeluarkan seluruh protes dan isi hatinya yang tertahan selama dua minggu, setelah menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Taehyung, Jimin kembali ke dalam lingkaran kenikmatan jatuh cinta. Ia memberikan dirinya lagi, secara utuh, kepada Kim Taehyung. Ia membiarkan pertahanan dirinya runtuh, menarik tangan Taehyung masuk ke dalam kamarnya, membiarkan Taehyung mengambil seluruh diri dan jiwanya dalam setiap ciuman panas, dalam setiap tanda di leher, di bahu, di setiap bagian tubuhnya yang bisa diraih oleh mulut Taehyung, dalam setiap hentakan yang membuat Jimin merintih dalam kenikmatan.

Jimin membiarkan kamarnya menjadi gaduh dengan suara desahan mereka berdua, dengan suara tepukan kulit mereka berdua, bunyi kasur yang semakin lama semakin nyaring dan tentu saja bisikan setiap kata yang dilontarkan Taehyung ke telinganya.

Jimin, jimin, jimin. Jimin menyukai bagaimana namanya terucap keluar dari mulut Taehyung, menyukai cara Taehyung menyebutkannya sambil menggigit telinganya.

Nikmat, nikmat sekali, Jimin. Taehyung menyuarakan apa yang dirasakannya. Ya. Nikmat. Jimin tidak bisa berbohong. Melakukan seks dengan Taehyung adalah hal ternikmat yang pernah dilakukannya seumur hidupnya. Seks pertamanya dengan cinta pertamanya.

"Aku pergi hiking dan camping bersama dengan teman-temanku. Handphoneku ketinggalan dan aku baru menyadarinya ketika aku sudah sampai disana. Ketika aku sampai disini, aku melihat banyak telepon dan sms yang masuk darimu. Maaf. Sekali lagi maaf."

Itulah alasan yang diberikan Taehyung ketika Jimin kembali menanyakan keberadaannya selama dua minggu menghilang dari kehidupan Jimin. Aneh, batin Jimin. Ada sesuatu yang aneh tetapi Jimin tidak tahu apa itu. Ia merasa ragu dengan jawaban Taehyung, merasa ingin bertanya lagi, tetapi semua pertanyaannya diurungkan ketika Taehyung kembali menciumnya, menindihnya sekali lagi, membiarkan tubuhnya mengurung Jimin yang berbaring di bawahnya.

"Yang penting aku bisa bertemu kamu lagi. Aku disini, Jimin. Untukmu"

Ya. Itulah yang terpenting. Taehyung ada disini bersama dirinya.

***

Jika Taehyung adalah dosa, Jimin akan dengan senang hati melakukan dosa setiap harinya. Ia tidak bisa lepas dari Taehyung. Tiada hari tanpa Taehyung di sisinya. Baik Jimin dan Taehyung, keduanya saling melekat, merasa hampa apabila terpisah selama sedetik pun.

Seperti saat ini, ketika mereka berada di perpustakaan. Jimin tidak lagi merasa kursi di sudut ruangan yang biasa di dudukinya adalah tempat ternyaman untuk membaca buku. Sekarang? Pangkuan Taehyung adalah tempat ternyaman untuknya. Membaca buku? Halah. Jimin tidak bisa membaca buku dengan serius, tidak bisa meresapi kata-kata yang tertulis di buku, tidak bisa memahami apa yang dibacanya, ketika Taehyung mulai membasahi lehernya dengan lidahnya, menghisapnya dan sedikit menggigit, membiarkan lehernya kini memiliki bercak berwarna merah keunguan.

"Taehyung"

"Hmm?"

"Jang-hmmph-jangan" protes Jimin terhambat oleh desahannya sendiri, ketika Taehyung mengulangi tindakannya di bagian leher Jimin yang lain, sambil mulai mengelus paha Jimin.

Strawberries And CigarettesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang