Aku banyak bertanya ketika hidup di Panti Asuhan. Kadang-kadang, pertanyaan itu terpenjara di hatiku. Kadang-kadang, tersangkut sampai ke kepala. Kadang-kadang lagi, pertanyaan itu lepas, keluar melalui mulutku bersatu dengan udara dan tidak pernah tertangkap oleh telinga manapun. Mereka melayang bebas, hilang terbawa angin menuju Tuhan yang ada di atas angkasa.
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak kubiarkan tertangkap oleh telinga manapun, sebab aku takut mereka akan kembali ke penjara dan menghantui pikiran orang-orang lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tapi sedikit sekali pertanyaan yang kurelakan lepas menuju Tuhan, aku tidak enak banyak-banyak bertanya padaNya. Tuhan pasti menerima banyak pertanyaan setiap harinya. Lagipula, Tuhan bisa mendengar sekalipun aku tidak bicara. Tuhan itu hebat, kamu perlu tahu itu. Dia bisa mengabulkan doa-doa, mengirimkan nabi-nabi, menjatuhkan bintang-bintang, dan menciptakan malaikat-malaikat.
Jadi, sudah pasti Tuhan bisa sekedar merapikan pikiran yang berserak di otakku dan menemukan pertanyaan-pertanyaan yang terpenjara. Mungkin, tanpa sepengetahuanku, semua pertanyaanku sudah bebas melayang menuju Tuhan. Dibebaskan sendiri oleh kebesaranNya.
Dan kurasa, Tuhan juga tahu tentang Yang Tidak Keluar dari Kepala. Kurasa lagi, itu satu-satunya yang tidak dibebaskan Dia ketika merapikan serakan pikiranku.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku tahu Dia tahu tentang Yang Tidak Keluar dari Kepala, tapi tidak akan pernah membebaskannya. Karena tiba-tiba, sebuah surat merah jambu tersangkut di kotak pos panti yang sudah penuh dengan bekas sarang laba-laba yang diterobos. Itu terjadi 10 tahun lalu, waktu aku umur 8 dan baru saja naik kelas tiga.
Tulisan di depannya bagus, pakai pulpen yang meresap ke dalam kertas. Jadi, tidak akan meluber ketika kuusap-usap. Tulisan itu berbunyi:
Untuk Binda, Dari Walimu yang Baru.
Atau mungkin, Tuhan ternyata sudah membebaskan Yang Tidak Keluar dari Kepala, tetapi mengurungnya kembali dalam bentuk lain; hadiah-hadiah, kartu-kartu ucapan, buket-buket bunga, dan surat-surat yang akan aku terima selama sepuluh tahun terakhir pada waktu yang tepat.