★
Dear Haruto
★
Beberapa bulan kemudian...
Aku sedang sibuk berkutat dengan laptopku. Sesekali aku melihat kicauan-kicauan di aplikasi twitter. Hingga pada akhirnya, ponselku berdering. Ku angkat panggilan dari ponsel retak kesayanganku itu.
"Halo, Lun?"
"Halo, Han? Apa kabar?"
Aku menghela napas pelan. Sudah hampir tiga bulan aku tak menemui Lunar, apalagi Rachel. Semenjak perpisahan itu, ia tiba-tiba mengubah sikapnya padaku.
"Main ke kosan gue, yuk" Ajakku. Di kosan yang besar ini, aku memang tinggal sendiri. Sebelumnya banyak penghuni-penghuni baru, namun seakan mereka kewalahan dengan sikapku yang cetus dan blak-blakan.
"Nanti deh, beberapa jam lagi. Gue masih sibuk. Bye!"
Aku menutup panggilan itu ketika serasa tak ada yang perlu dibahas lagi. Tiba-tiba aku kepikiran dengan Rachel. Beberapa kali aku mencoba menelponnya namun selalu di reject.
Rachel itu kenapa sih? Aku juga sudah mencoba menanyakan hal tersebut pada Lunar, namun Lunar bilang kalau Rachel tidak kenapa-kenapa.
Mencoba menghilangkan rasa penasaran itu, aku kembali berkutat dengan laptopku. Proposal tentang penelitian ini benar-benar membuat otakku terbakar.
Tiba-tiba, terdengar suara gaduh dari luar. Seperti kenal dengan suara ini, namun aku tak menggubris hingga akhirnya Papi Bos datang.
"Eh, Han gimana? Lagi sibuk?" Tanya Papi Bos. Ia memang pemilik kosan besar ini. Pria paruh baya ini sangatlah ramah, terlebih beliau hanya mengenaiku uang kos bulanan sebesar tiga ratus ribu.
"Enggak kok, Papi Bos. Cuman bikin proposal" Jawabku sambil mengembangkan senyum lalu menunjuk laptop di depanku.
"Oh, iya ini. Ada yang mau nge kos" Ucap beliau. Aku menoleh ke belakangnya, namun tidak menemukan siapapun.
"Mana?" Tanyaku heran.
Papi Bos membalikkan tubuhnya, ia tampak heran ketika tidak menemui siapapun di belakangnya. Kemudian, beliau menoleh ke arah pintu utama dan melambai-lambai. Tak lama, datanglah seorang perempuan cantik.
"Papi Bos buru-buru, permisi ya" Beliau meninggalkanku dengan perempuan itu. Aku yang canggung kembali melanjutkan kegiatan mengetik proposal.
Kemudian, ia duduk di sofa yang berada di sebelah sofa yang tengah ku duduki. Terdengar helaan napas, ku lihat ia memijat pelipisnya.
"Namamu siapa?" Seketika, aku menghentikan aktivitas mengetikku kemudian menoleh canggung ke arahnya.
"Holla! Nama gue Hanna" Ucapku memperkenalkan diri sambil menjulurkan tanganku.
"Halo, namaku Haru"
Aku terkaku, terlebih ketika rasa-rasanya nama itu tak asing di telingaku. Haru...to? Tapi ini kan perempuan.
"Nama lengkapku Haru Kanaya Putri" ucapnya menjabat tanganku. Kami bersalaman, tangannya sangat mulus untuk ukuran perempuan. Bahkan tanganku tidak pernah semulus itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Haruto ✔
Fanfiction[Sudah Dibukukan] ❝Untukmu Haruto, sang definisi manusia tulus yang sebenarnya❞ 2019 © nonabinar #7 - Watanabeharuto [100120] #5 - Watanabeharuto [230220] #3 - Watanabeharuto [060320] #5 - Haruto [241120] #4 - Haruto [261120] #6 - Treasure13 [230121...
