Gemerlap pesta mulai memasuki puncak acara. Para tamu undangan mulai memenuhi auditorium pesta ulang tahun ke tujuh belas putra mahkota kesultanan Denziar.
Di tengah hiruk pikuknya keadaan, Pangeran Clinton membuka matanya lebar-lebar, mengawasi setiap tamu undangan yang berhadir. Dan disela pengawasannya, matanya juga fokus pada Charisa yang tengah asik berbincang dengan putri Nashwa.
Pikirannya agak sedikit buyar setelah mendapat kiriman video dari agen intelijennya. Perihal kiriman video tadi, ia langsung memberikan kabar tersebut pada Deven. Pemuda itu langsung bergegas meninggalkan pesta dengan alasan ada hal penting. Terpaksa ia dan Clinton membohongi teman-temannya lebih dahulu, sebelum kebenaran akan mereka utarakan besok pagi, di istana Felixios.
"Chaqira?! Kamu putri Chaqira, kan?!"
Detak jantung Clinton berdetak lebih cepat dari biasanya, ia langsung membalikkan badannya menatap ke arah Charisa yang sedang didatangi seorang perempuan, posisi perempuan tersebut membelakangi badannya sehingga sulit untuknya mengetahui siapa perempuan tersebut.
Clinton tidak ingin gegabah, ia hanya memandangi dari posisinya sekarang. Karna kalau ia mendekat, itu artinya mengancam keselamatan Charisa. Dan hal tersebut tidak akan ia lakukan.
Nashwa memandang heran pada perempuan paruh baya yang barusan menegur mereka, lebih tepatnya menegur ke arah Charisa. Temannya itu malah memasang wajah bingung dengan cengo khasnya.
"Ha?" responnya singkat,
Nashwa hanya bisa meringis melihat temannya itu, "Mohon maaf, dia Charisa, teman saya. Bukan putri Chaqira yang anda sebutkan tadi." sahut Nashwa sopan setelahnya,
Perempuan paruh baya dengan gaya rambut wavy half-updo khas wanita bangsawan itu menggeleng kuat, "Tidak, saya tidak pernah keliru. Kamu keponakanku, Putri Chaqira! Aku yang dulu selalu menemanimu saat Chiary sibuk mengurus adikmu, Chasyi. Kamu ingat kan denganku? Aku bibimu, Veiry." Terangnya dengan mata berkaca-kaca seraya menggenggam erat tangan Charisa.
Mendengar nama Chiary, Charisa mengerjapkan matanya, sepotong adegan demi adegan tiba-tiba melintas dipikirannya. Kepalanya seperti diserundung hal-hal di luar kehendaknya, semuanya mendadak buram. Terakhir yang ia mampu dengar hanya pekikan Nashwa yang memanggil namanya, dan pangeran Clinton.
👑👑👑
Langkah kaki Deven mengantarkannya pada pintu kamar sang putri kesayangan, ia menguatkan batinnya untuk memberitahukan hal yang sebenarnya.
Sebelumnya ia sudah bertemu dengan Ratu Vernita, meminta izin menemui putri kesayangannya dengan alasan ingin menjenguk dan memastikan. Berhubung Raja Felio baru tiba di hari senin, Deven dapat masuk dengan leluasa ke wilayah Felixios tanpa perlu khawatir dengan keadaan Raja Felio yang terkenal dengan sifat kejam kalau mengganggu ketenangannya, apalagi kalau sampai melukai putrinya.
"Putri Anneth sudah sadarkan diri?" tanya Deven pada penjaga di depan kamar.
Kedua penjaga dengan wajah kakunya itu hanya mengganggukkan kepalanya.
Setelah berbasa basi mengucapkan terimakasih serta keterangan sudah diberi izin Ratu Vernita, kamar dengan dua pintu besar itu terbuka dengan tergeser sendiri pada sisi kiri dan kanannya.
Laki-laki dengan tanpa mengganti pakaian pestanya tadi itu melangkah penuh hati-hati, mengarah ke sisi kasur sang putri. Dilihatnya putri Anneth nampak asik dengan makanannya, posisi badan sang putri pas membelakanginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
IRREPLACEABLE (Completed √)
FantasyTragedi terjadi. Ia keturunan yang tersisa. Dan bersamanya lah ia mampu melewatinya. Namun apa yang terjadi kalau dia mengenal seseorang yang baru hadir di antara mereka. Bukan tidak mungkin, dia akan meninggalkannya. Tentang dia, yang selalu menj...
