Kalimat Kutukan

68 24 29
                                    

Untuk kamu yang merasa berbeda, jangan pernah takut. Teruslah maju!

#SongFictionGhibahWriters
GhibahWriters
.

.

.
“Kesunyian itu menuntunku kepada gelapnya dunia.
Menenggelamkanku, membuatku tiada.”
.

.

.

Derasnya hujan yang turun semenjak satu jam lalu membuat stasiun kereta bawah tanah yang biasanya ramai menjadi semakin parah. Belum lagi antrian panjang para pekerja dan siswa sekolah yang membuat sesak. Kalau saja seseorang memiliki riwayat penyakit pernapasan, sepertinya mereka akan kambuh saat ini juga.

Kendati begitu, anehnya orang-orang tak lantas meninggalkan stasiun yang telah penuh sesak ini. Justru semakin lama, semakin banyak orang yang berdatangan. Baik dengan sebuah payung yang masih basah di tangannya, atau sebuah mantel yang dilipat rapih dalam sebuah tas.

Fumi termasuk salah satunya. Dengan blouse yang sedikit basah akibat cipratan air hujan, dara muda itu segera berlari mengambil antrian di depan pintu kereta setelah mendapatkan tiket keberangkatannya.

Sayang, tepat satu meter sebelum ia mencapai baris antrian, Fumi menabrak seorang lelaki; bertubuh besar dengan banyak ukiran tato di sepanjang lengannya.

“Ah, maaf.”

Fumi buru-buru membungkuk. Menghaturkan maaf sekali lagi, kemudian berjongkok guna mengumpulkan beberapa barang yang berserakan keluar dari sling bag peach-nya yang jatuh akibat tabrakan tadi.

Tak sampai lima menit, gadis itu kembali berdiri. Seraya membetulkan letak sling bag-nya di bahu kanan, Fumi menyodorkan sebuah ponsel hitam yang diambilnya dari lantai.

“Saya sedang terburu-buru. Sekali lagi saya minta maaf. Ini, sepertinya ini milik Anda.”

Fumi mengulas senyum canggung sebelum meninggalkan laki-laki itu bersama ponselnya, tapi belum sempat Fumi melangkahkan langkah ketiganya, kerah baju belakangnya di tarik kasar sampai ia terjatuh.

Itu laki-laki yang sama. Laki-laki yang tadi ditabrak Fumi hingga ponselnya jatuh bersamaan dengan isi sling bag Fumi.

Dengan hati yang berdebar Fumi menyeret bokongnya mundur kebelakang sedikit demi sendikit. Fumi kebingungan. Ia tak tau harus bagaimana, sedangkan bibir laki-laki itu tak henti hentinya bergerak cepat.

Sejurus kemudian, tangan kekarnya tiba-tiba meraih kerah depan Fumi. Menariknya kuat-kuat, membuat Fumi merasa tercekik. Bahkan disaat seperti itu, bibir hitamnya masih tak henti bergerak.

Entah kalimat apa, entah makian apa. Hanya ada satu kalimat yang mampu Fumi tangkap sebelum laki-laki itu melepas kerahnya dan menendang jauh tasnya yang tergeletak di lantai.

Satu kalimat yang terus menghantuinya selama ia masih bernapas. Satu kalimat yang menuntunnya hidup dalam kesunyian. Sebuah kalimat kutukan, mungkin?

Dasar tuli.

..

STACCATTOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang