“Aku mungkin jatuh dan tenggelam dalam dunia persembunyian. Tapi bukan berarti aku rusak dan tak mampu keluar. Celah yang dulu terbentuk, kini adalah jalan bagiku untuk berlari.”
..
.
Fumi pertama kali mengenal Eunwoo sekitar satu tahun yang lalu. Tepatnya ketika Fumi tengah menghadiri acara pernikahan Tante Rua di pusat Kota Incheon.
Entah apa yang menyebabkan Fumi menghadiri acara tersebut. Hatinya hanya tergerak untuk datang karena Tante Rua adalah satu-satunya orang yang paling setia mendukung dia setelah kecelakaan itu terjadi.
Dari mulai memberikannya tiket konser musik, mengunjunginya saat akhir pekan, membawakan makanan-makanan kesukaannya, ditambah usaha-usaha lain yang tidak dapat Fumi sebutkan.
Kalau bisa dibilang, Tante Rua adalah orang kedua—setelah Ibu—yang keras kepala menuntun Fumi kembali pada dunianya yang lama. Dunia yang penuh suara, dunia yang penuh cahaya, dunia yang penuh canda tawa. Dunia yang selama ini tengah Fumi hindari mati-matian.
Dan entah bagaimana, tante berhasil mewujudkan hal tersebut.
“Ada apa?”
Tante Rua menatap cemas pada Ibu Fumi yang kini berada di dalam ruangan khusus pengantin wanita. Tentu saja tidak seorang diri, melainkan bersama Fumi yang kini terduduk di ujung ruangan.
“Pianisnya mengalami kecelakaan dan di bawa ke rumah sakit. Bagaimana aku bisa mencari seorang pengganti di waktu seperti ini, Kak?”
Ibu Fumi yang usianya jauh lebih matang dari Tante Rua lantas membelai punggung polos Tante, berusaha untuk menenangkan.
“Kamu tenang dulu. Jangan khawatir.”
“Tapi aku tidak mau hari besarku hancur, Kak.”
Ibu Fumi kembali menenangkan Tante Rua yang semakin panik. Rasa-rasanya kalau pandangan Fumi bisa di perbesar, ia akan bisa melihat sebuah kristal bening telah menumpuk di ujung pelupuk mata Tantenya yang terlihat luar biasa cantik saat ini.
“Fumi?”
Fumi mengangkat kepalanya lurus ke arah sang Ibu. Sudah bisa ditebak kan, apa yang Ibunya maksud dengan tatapan lembut nan tegas itu?
“Ibu, aku sudah bilang—“
Argumennya terputus begitu Tante Rua dengan cekatan berlari kearah Fumi. Parahnya, ia bertumpu lutut di depan Fumi. Kristal-kristal yang semula samar dilihatnya, kini benar-benar nyata terlihat.
“Fumi, tolong tante. Tante mohon, hanya untuk kali ini. Hanya kali ini dan tante akan berhenti meminta kamu untuk kembali. Hm?”
Fumi termenung. Bibirnya terkatup rapat. Dilema terlalu cepat merasukinya, membuat ia enggan melontarkan kata ‘ya’ atau ‘tidak’. Sementara Tante Rua yang masih bertumpu lutut terus saja memohon dengan satu demi satu kristal bening meluncur dari pelupuknya.
“Tante, riasan Tante bisa rusak.” Fumi kemudian memanggil seorang wanita muda yang berdiri tidak jauh dari sang Ibu, “Kak, tolong benahi riasan ini secepatnya.”
“Fumi ....”
Fumi tersenyum simpul kepada Tante Rua, merengkuh dua pundaknya; dara itu kemudian membantu sang Tante untuk bangun dari tumpuannya.
“Aku akan bersiap begitu juga Tante. Tante tidak mau merusak segalanya kan? Kalau begitu cepat benahi riasan itu dan temui aku di samping altar.”
Suara alunan musik yang berpadu indah dengan dialog lakon membuat Fumi tak mampu memalingkan matanya. Kadang tersenyum, kadang kebingungan, kadang lagi tertawa. Fumi tidak tau saja, ada seseorang yang terus saja menarik kedua ujung sudut bibirnya ketika Fumi melakukan itu.
“Apakah ada yang ingin menyumbangkan lagu?”
Fumi membelalakkan mata begitu sebuah acungan tinggi dari tangan seorang pria langsung mendominasi lautan putih di depannya.
“Ya, silakan maju.”
Fumi duduk di sini kan bukan untuk mempertontokan simfoni nada yang dihasilkan jarinya. Fumi duduk disini hanya untuk mengiringi Tante Rua.
“Maaf, bisa kau mainkan lagu thousand years?"
"Apa?"
Fumi menatap laki-laki berwajah bayi di depannya. Gila, Fumi benar-benar akan gila.
Ini demi Tante Rua. Demi Tante Rua, Fumi.
Tapi sungguh, dia berbisik terlalu pelan!“Untuk Kak Geonhee, sebaiknya kau berhenti bertaruh dan menyiksa orang lain. Biarkan aku menjadi yang terakhir, dan bahagialah bersama istrimu sampai ribuan tahun lamanya.”
Ribuan tahun?
Thousand years?
Fumi mulai menekan satu demi satu not hitam dan putih yang ada dalam pandangannya. Merangkai satu demi satu nada menjadi sebuah alunan musik yang dinamis, laki-laki gila berwajah seperti bayi itu lantas mulai membuka suaranya.
Eh? Tidak buruk juga, batin Fumi.
“Eunwoo memang yang terbaik," ujar seorang wanita yang berdiri tak jauh dari tempat Fumi berada.
Eunwoo?
..

KAMU SEDANG MEMBACA
STACCATTO
Teen FictionKesunyian merenggut paksa dunia Fumi yang semula penuh akan melodi. Mengurungnya seorang diri dalam jurang keputusasaan, sampai tiba saat patahan nada menariknya sedikit demi sedikit ke atas permukaan. Menuntun Fumi kembali pada eksistensi dirinya y...