Raihan Syahreza

2.7K 87 10
                                    

Diusia dua puluh delapan tahun bukanlah hal yang tak wajar untuk membina sebuah hubungan. Apalagi bagi lelaki berparas tampan, pekerjaan mapan, dan berpendidikan tinggi serta bersikap loyal. Tipikal Raihan sekali.

Namun hingga kini Raihan belum juga ada keinginan untuk menjalin hubungan. Jangankan menikah, bagi Raihan untuk berpacaran saja adalah hal yang merepotkan.

Bukan karena ia tak bisa berkomitmen, namun yang menjadi tanggung jawabnya kini cukup berat. Mulai dari perusahaan yang berada di bawah naungannya kini, hingga cabang perusahaannya diluar negri.

Apalagi kini ia menjadi kepala keluarga, sejak ayahnya meninggal semua urusan berada di bawah pengawasannya. Ia kini menjadi orang penting, tanda tangannya saja bisa bernilai milyaran rupiah.

Maka dari itu banyak pertimbangan yang harus ia pikirkan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
Hingga kini semuanya baik baik saja. Para wanita yang mendekatinya berangsur mundur perlahan karena tau bahwa ia masih tak ingin terikat oleh sebuah hubungan.

Ia juga tak peduli berita simpang siur di perusahaannya dan dimasyarakat umum yang mengatakan bahwa ia adalah gay karena tak pernah didapati sekalipun berkencan dengan wanita. Tapi ia tak mempersalahkan itu.

Yang jelas hingga kini Raihan masih tak ingin cepat cepat menikah.
Kecuali-

"Raihan, Mama bawa calon mantu lagi buat kamu. Yakin deh yang satu ini kamu pasti suka. Fashionnya oke banget, skill bahasa inggrisnya top markotop , tinggi badannya semampai dan pasti serasi banget sama kamu. Kamu mau ya ya yaaaaa."

-Mamanya.

"Iya Ma iya". Jawab Raihan santai sambil membaca dokumen perusahaan.

"Kamu ini iya iya terus, tapi gak pernah dateng waktu Mama nyuruh kamu kencan sama mereka".

"Kan Raihan sibuk Ma. Mama juga tau sendiri kan". Raihan mengalihkan pandangan sepenuhnya ke Mamanya "Makanya kamu jangan kerja terus!!"

Ini lagi

Raihan menghela napas jengah. Tak habis pikir dengan jalan pikir Mamanya. Jika ia tak bekerja, lantas siapa yang harus menghidupi keluarga?.

"Iya Ma, tapi kan-"

"-udah gak usah tapi tapi an.Raihan, nurut Mama nak".
Suara Bu Winda -Mama Raihan- meninggi diawal dan berakhir memelas dan menampakan raut lelah.

Raihan jadi tak enak sendiri.

Tapi-

"Mama juga pengen cepet cepet nimang cucu. Shopping sama Istri kamu, Masak bareng, Ke salon bareng. Pokoknya Mama butuh temen!!."

-Nahkan keras kepalanya kumat.

"Iya Ma". Raihan sukses dibuat migrain setiap kali mereka membahas topik ini.

"Iya iya terus kamu kayak pembantu baru!! Raihan kali ini Mama bener bener serius. Mama tanya sama kamu, kapan kamu cari pacar?". Raut Bu Winda menunjukkan keseriusan.

"Ya kalo gak sabtu ya minggu". Jawab Raihan kelewat santai tanpa menyadari geraman marah Bu Winda di sofa.

"RAIHAN!!".

"Hehe".

.

-Jodoh Ditangan Mama-

.

Raihan melangkah kedalam kafe langganannya. Seketika aroma Americano Coffe favoritnya memenuhi indra penciuman Raihan. Ia segera berbaris di antrian sambil mengecek ulang dokumen yang baru saja dikirim oleh sekretarisnya. Ingat! Dimanapun dan kapanpun, bagi Raihan bekerja adalah yang menjadi nomer satu.

Jodoh Ditangan Mama [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang