BAB 33 – CALON SARJANA TERKEMUKA BERTEMU DENGAN BAI YUTANG; PENDEKAR TAMPAN MENGUJI YAN CHASAN TIGA KALI
Yan bersama orang asing itu masuk ke dalam kamar lalu duduk. Yumo memperhatikan orang itu di bawah cahaya pelita. Rambutnya memakai ikat kepala sarjana yang lusuh, ia memakai pakaian berwarna biru yang compang-camping, kakinya memakai sepasang sepatu hitam rusak tanpa hak, dan wajahnya kotor dan berdebu. Ia tidak tampak seperti seorang yang terpelajar, sebaliknya seperti seorang penipu.
Ketika Yumo sedang berpikir bagaimana agar terbebas dari penipu itu, sang pemilik penginapan datang meminta maaf. Orang itu berkata, "Kamu tidak perlu seperti ini. Orang besar tidak mengingat kesalahan orang kecil. Aku sudah memaafkanmu." Pemilik penginapan itu pun mengundurkan diri ke belakang.
"Siapakah nama lengkap senior?" tanya Yan. "Aku bermarga Jin bernama Maoshu," jawab orang itu.
Yumo berpikir, "Ternyata ia juga bermarga Jin (emas). Tuan mudaku yang sebelumnya juga bermarga Jin dan beliau benar-benar berkarakter mulia dan menegakkan keadilan. Namun orang ini tampak seperti orang miskin. Bahkan marga Yin (perak) pun ia tidak pantas. Pepatah mengatakan: 'Bermarga Jin tidak memiliki emas pasti dihancurkan oleh kemiskinan.' Tuan muda kami telah termakan triknya."
"Aku belum menanyakan nama lengkap kakak," kata Jin. Yan pun memperkenalkan namanya. "Ternyata kakak Yan. Maafkan kelancanganku. Apakah kakak sudah makan?" tanya Jin lagi. "Belum, apakah kakak Jin sudah makan?" "Aku juga belum. Kenapa kita tidak berbagi meja dan makan bersama?" kata Jin yang kemudian memanggil pelayan.
Kali ini sang pelayan penginapan membawa sebuah kendi teh melati dan meletakkannya di atas meja. Jin bertanya, "Hidangan apa saja yang kalian miliki di sini?" "Hidangan kelas atas seharga delapan uang perak, kelas menengah enam uang perak, kelas bawah...." "Siapa yang ingin makan hidangan kelas bawah?" potong Jin, "Bawakan hidangan kelas atas. Aku ingin bertanya padamu, hidangan kelas atas ini apa saja lauknya?"
"Dua mangkuk sangat besar, dua piring logam, enam mangkuk besar, empat mangkuk sedang, dan juga delapan piring kecil. Semuanya tak lain terdiri dari ayam, bebek, ikan, daging, sirip hiu, teripang, dan sebagainya. Pokoknya pasti sesuai dengan keinginan dan cocok di lidah," kata pelayan itu menjelaskan.
"Apakah ada ikan mas hidup?" tanya Jin. "Jika menginginkan ikan mas hidup yang besar, seekor harganya satu uang perak dan dua keping logam (qian)." "Karena ingin makan, kita tidak takut menghabiskan uang. Aku beritahu kamu, ikan mas yang tidak lebih dari satu jin [1 jin = 500-600 gram] beratnya disebut 'ikan cacat', jika lebih dari satu jin barulah disebut ikan mas. Tidak hanya harus hidup, tetapi juga ekornya harus semerah pemerah pipi. Ini baru disebut ikan segar. Kamu bawakan kemari untuk kulihat."
Kemudian Jin bertanya lagi, "Jenis arak apakah yang kalian punya?" "Hanya arak biasa." "Aku tidak menginginkan arak biasa. Aku ingin minum arak Shaoxing murni yang telah disimpan bertahun-tahun." "Kami memiliki arak Shaoxing berusia sepuluh tahun, tetapi kami tidak menjualnya dalam kendi kecil. Harganya empat uang perak per satu kendi besar."
"Kamu banyak bicara! Apakah empat atau lima uang perak atau berapa pun, kamu bawakan satu kendi dan dibuka di hadapanku. Aku ingin mencicipi rasanya. Aku beritahu kamu, aku ingin arak yang berwarna merah keemasan dengan aroma yang kuat; ketika dituangkan ke dalam mangkuk, ia mengapung pada mangkuk seperti batu ambar. Itu baru arak yang bagus." "Saya akan membawakan satu kendi arak untuk dicoba. Jika araknya tidak bagus, anda tidak perlu membayar. Bagaimana?" "Nah, itu baru benar."
Kemudian pelayan itu membawakan dua buah lilin. Kali ini ia sangat gembira dan mempersiapkan pesanan itu dengan hati-hati dan penuh semangat. Tak lama kemudian ia membawa sebuah bak kayu yang berbentuk seperti ginjal dan di dalamnya terdapat seekor ikan mas yang beratnya satu jin meronta-ronta dan bergeleparan.
KAMU SEDANG MEMBACA
KISAH HAKIM BAO DAN PARA PENDEKAR PENEGAK KEADILAN
Historical FictionBerikut adalah terjemahan dari novel Tiga Pahlawan dan Lima Ksatria (San Xia Wu Yi, 三俠五義) yang diterbitkan pada tahun 1879 dan kemudian direvisi judulnya menjadi Tujuh Pahlawan dan Lima Ksatria (Qi Xia Wu Yi, 七俠五義). Novel ini mengisahkan tentang Bao...
