(Republish, judul sebelumnya: AlTar)
𝐅𝐚𝐭𝐚𝐥 𝐂𝐡𝐚𝐫𝐦𝐢𝐧𝐠
Cybertron memang geng beken di kalangan anak muda, ikatan cowok-cowok sangar pemilik tabiat beraneka warna. Mereka sekumpulan remaja laki-laki dengan latar belakang keluarga aristokra...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
2. The Golden Sun
“Hai, boleh kenalan?”
Tara mengangkat wajah dari buku yang dia baca. Seorang siswi sudah berdiri di sebelah mejanya dengan senyum lebar hingga lesung pipinya terlihat, dia mengulurkan tangan untuk berkenalan. Jepit warna-warni menghias kedua bagian rambut cewek itu dan membuatnya makin terlihat manis. Manis atau kekanakan, entahlah yang pasti menurut Tara seperti itu.
“Gue Soya, bukan susu Soya. Tadi kita udah memperkenalkan diri masing-masing di jam pelajaran, kan? Kali aja lo lupa nama gue,” lanjutnya.
Tentu saja Tara ingat. Cewek di sebelahnya ini berkeliling kelas sejak bel istirahat baru berbunyi dan mengajak siapapun untuk berkenalan. Tara sudah mendengar nama ‘Soya’ berkali-kali sebelum dirinya menjadi target berkenalan selanjutnya.
“Tara.” Hanya sepatah kata itu dan Tara memilih untuk fokus pada bukunya lagi.
“Oh, oke.” Soya yang merasa jabatan tangannya tak disambut ‘pun menarik diri. “Salam kenal, ya.” Sikap tidak ramah Tara yang terlihat jelas tentu tidak membuat Soya memaksakan diri untuk dekat dengannya.
Tara memajang poker face-nya. Di saat anak-anak lain sibuk berbaur, dia hanya duduk sendirian di bangku paling pojok. Sejak Soya mengajaknya berkenalan dan tidak dia tanggapi dengan baik, tidak ada anak yang mencoba untuk bicara padanya. Sebelum-sebelumnya ada, tapi reaksi Tara tetap sama. Mungkin beberapa pasang mata mulai Tara rasakan memandangnya aneh, bertanya-tanya dengan sikapnya yang seolah anti-sosial.
Buku yang Tara baca adalah buku paket yang baru dibagikan di jam pelajaran pertama. Cewek itu menyiapkan catatan kecil untuk menulis garis besar materi yang akan dia pelajari selama satu semester ke depan. Sebagai murid beasiswa, fokusnya saat ini adalah berusaha mempertahankan nilai atau dirinya tidak akan sanggup membayar mahal untuk tetap bersekolah di sini.
Ketika menolehkan kepalanya ke arah pintu sekilas, Tara mendapati seorang cowok berpostur tinggi atletis berdiri di sana. Orang itu sedang berbicara dengan salah satu siswa, sebelum pandangannya bertemu dengan Tara.
Tara terpaku beberapa saat dengan pandangan yang sulit diartikan, sepertinya orang itu mencarinya. Pura-pura tidak tahu, dia membolak-balikkan halaman buku ketika cowok itu melangkah mendekati bangkunya.
“Sorry, kalau ganggu. Gue boleh minta waktunya sebentar? Lo yang namanya Tara, ya?”
Cowok itu kini berdiri tepat di sampingnya. Tara mengangkat wajah, memandang sosok itu dengan wajah yang biasa saja. “Kenapa?” Dia kembali membolak-balikkan halaman buku, seolah orang di sampingnya ini bukan apa-apa.
Melihat tindak-tanduk Tara yang tidak ingin berbasa-basi, orang di sebelahnya kembali berbicara. “Gue Yama. Lo yang ngehajar Bintang tadi pagi, kan?”