6| Dimensi Waktu

39.2K 1.6K 253
                                        

Happy Reading ❤❤❤

Happy Reading ❤❤❤

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

6. Dimensi Waktu

“Menurut lo, warna apa yang cocok? Putih atau hitam?”

Maorer menyipitkan matanya untuk melihat tampilan layar dari ponsel yang disodorkan Badai. “I love you, Raider. Will you marry—”

“Jangan dibaca, anjir! Gue tanya putih atau hitam!” sela Badai sambil menarik ponselnya kembali agar Maorer tidak melanjutkan ejaannya.

Ewh, apaan tuh? Lo lagi nge-desain baju? Isi marrymarry-nya lagi, norak banget,” hina Maorer dengan dahi mengerut jijik. “Kata gue sih lo bakal ditolak ya.”

“Dih, suka hati gue lah. Gak guna juga minta pendapat lo, emang lo cenayang?”

Maorer bergidik geli. Sebagai seorang playboy original yang ada cap badaknya, dia punya 1001 cara menembak cewek yang lebih elegan dan berkelas dibandingkan membuat baju yang isi marrymarry-nya.

“Lo naksir sama siapa? Ngapa gak cerita-cerita?” tanya Zico sambil membuka segel minuman isotonic dan menegak isinya.

“Ada, deh. Makanya lo pada dateng ‘pas gue ajakin ke sirkuit waktu itu. Ya, gak, Va? Seru, kan?”

“Gila.”

Muka Marva yang biasanya memang sepet kali ini keliatan kayak mau makan orang, apalagi ketika Badai membahas kejadian tempo hari.

“Maksudnya gila kenapa? Gila gara-gara seru, apa gimana?” Yama ikut-ikutan penasaran.

“Temen lo,” kata Marva lagi.

“Kenapa?”

“Gila!”

“Bisa gak sih kalau ngomong jangan setengah-setengah? Aku pusengg!” Dermaga memprotes sambil mengacak rambutnya.

Marva yang berusaha melupakan kejadian di sirkuit itu mau tidak mau teringat kembali. Dia kapok diajak Badai, kapok setengah mampus pergi berdua dengan kawannya itu. Buat malu saja, katanya.

Raider menang telak. Cewek itu menggeber motornya seolah meledek Torpedo yang baru saja sampai di saat Raider bahkan sudah selesai melakukan peregangan karena tubuhnya terasa pegal. Mata coklat terangnya menyorot Torpedo di seberang jalan, cowok itu tampak melepas helm dan membantingnya ke aspal.

Tempramen Galton sejak dulu memang gak pernah berubah, pikirnya.

Marva di pinggir jalan sebetulnya cukup terkejut ketika mengetahui ternyata di balik nama Torpedo adalah Galton. Pantas saja ada beberapa anak Cerberus di sini, yang sejak tadi memandanginya dengan muka culas. Mungkin heran juga melihat wajah baru Marva di sirkuit balap liar, meski nyatanya cowok itu hanya menemani Badai.

CYBERTRON: A Raider Is The BosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang