(Republish, judul sebelumnya: AlTar)
𝐅𝐚𝐭𝐚𝐥 𝐂𝐡𝐚𝐫𝐦𝐢𝐧𝐠
Cybertron memang geng beken di kalangan anak muda, ikatan cowok-cowok sangar pemilik tabiat beraneka warna. Mereka sekumpulan remaja laki-laki dengan latar belakang keluarga aristokra...
Happy Reading! Jangan lupa tinggalkan jejak kalian supaya aku semangat update yaaww ❤❤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
5. Raider’s Cyan Specter
Bel mansion tersebut berbunyi nyaring ketika Koral memencetnya. Sudah jadi rutinitasnya untuk berkunjung ke sini, sebuah mansion dengan desain modern futuristic. Arsitekturnya berstruktur minimalis dan geometris, menggunakan kombinasi kaca besar dan beton ekspos.
Sambil menunggu pintu depan dibuka, Koral selalu betah memandangi halaman dengan pohon-pohon eksotis yang ditata artistik. Dulu, saat awal-awal masuk SMA, dia masih betah mengajak Yama untuk menangkap ulat atau kupu-kupu di taman. Koral jadi merindukan momen tersebut.
“Halo, Non, silahkan masuk. Gak perlu pencet bel lagi mah, langsung masuk aja gak apa,” kata seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk Koral. Seorang perempuan paruh baya bertubuh mungil dengan celemek bermotif bunga yang terlihat kotor, sepertinya habis memasak.
“Ah, enggak enak, Bi. Tunggu yang punya rumah dulu buat bukain pintu,” balas Koral. Cewek itu tampak santai tetapi tetap cantik sore hari ini. Dia mengenakan atasan kardigan rajut oversize berwarna pink muda yang lembut, dipadukan dengan wide-legpants berbahan linen. Rambutnya dicepol dengan helaian rambut tipis yang membingkai pipi hingga rahang.
Sebagai pemanis, di lehernya melingkar sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk cabang terumbu karang, mirip seperti namanya. Koral hampir tidak pernah melepas aksesoris ini sejak Yama memberikannya di acara sweet seventeen cewek itu.
“Kalau yang punya rumah, sih, seperti biasa, lagi berenang. Sore gini emang enaknya berenang, ya? Saya juga pengen, tapi takut kelelep.” Koral jadi ikut tertawa karena cerita dari Bi Santi.
“Rumah lagi sepi banget, ya? Om sama Tante belum pulang?”
“Kalau Tuan, sih, beberapa hari lalu sempet pulang sebentar. Kalau Nyonya, seinget saya sih masih di Prancis.”
Koral meletakkan paper bag yang dia bawa di atas meja dapur sambil manggut-manggut mendengar penjelasan Bi Santi. Yama sempat bercerita jika mamanya menghadiri workshop eksklusif di Prancis, jadwal pulangnya masih belum jelas, mungkin awal minggu depan. Waktu Yama kebanyakan benar-benar hanya ditemani oleh para pekerja di rumahnya saja.
“Bi, ini ada kue titipan Mama, nanti dimakan ya. Koral mau samperin Yama dulu,” katanya sambil menyodorkan paper bag yang dibawanya.
“Wih, titip makasi buat mamanya ya, Non.”
Koral tersenyum dan melangkah menuju area belakang mansion tersebut. Koral menggeser pintu kaca yang dilengkapi gorden sebagai penghubung antara bagian dalam rumah dengan halaman. Dia bisa melihat kecipak air di permukaan ketika Yama berenang dari sisi kolam satu ke yang lainnya.