Memiliki keluarga yang kental akan tradisi jawa membuat Nakula terbiasa dengan suara gending, gamelan, dan nyanyian sinden dari rumah sanggar di halaman depan.
"Mas jaya!"
"Dalem?"
"Niku mas, malam ini ada pagelaran di balai, mas Jaya mau liat nggak sama saya?"
"Liat nanti ya, Yu. Mas mau rapat soalnya"
"Yaudah kalau bisa nanti jangan lupa wa Ayu ya mas"
Hal seperti ini juga biasa ia lalui. Tiap minggu ada saja anak sanggar yang mengajaknya datang ke pagelaran, baik dalam kota maupun kota sebelah. Dan tiap minggunya ada saja alasan yang ia keluarkan untuk menolak ajakan mereka semua.
"Nakula!" Bunda Lastri melipat tangannya di depan dada. Tatapannya tajam, mengintimidasi si anak sulung.