Sekelompok remaja yang tergabung dalam 'Secret Society' sedang berusaha menguak kasus pembunuhan guru BK di sekolah mereka. Tidak hanya itu, usaha mereka dalam menumbangkan rezim dalam otoritas kepala sekolah kotor pun menjadi strategi lain untuk me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
<<< POV Sabda >>>
...
Setelah Arunika menceritakan pengalaman mistisnya padaku, dia lalu pulang. Aku cuma bisa duduk lemas di salah satu kursi ruang makannya Tirta. Arun berpesan agar aku tidak perlu berharap lebih dari apa yang diakuinya. Dia bisa saja berkomunikasi dengan terduga roh itu. Namun dia berpesan, "Misal kamu tetap maksa aku untuk komunikasi. Dan kalau aku jadi kamu, aku nggak akan pernah percaya sama informasi yang disampaikan makhluk tak kasat mata itu. Mereka pembohong. Mereka hanya tampak sebagaimana apa atau siapa yang ingin kita lihat, Seb. Karena mereka menyerap energi kita dan memanifestasikan diri mereka dalam rupa apa saja yang diyakini oleh pikiran kita."
Apa pun itu, tetap, aku ingin lihat juga. Arun bilang roh itu Bapak!
Aku dan Gema keluar bersamaan. Yang lain pulang berurutan sesuai perjanjian siapa yang harus keluar gerbang lebih awal. Sementara aku, Gema, dan Panca pun sama pulangnya berurutan juga. Namun kali ini aku yang meminta paling akhir pulangnya.
Saat giliranku, ternyata Gema masih menungguku di luar gerbang.
"Kamu ngomongin apa sama Arunika?"
"Bukan apa-apa."
"Kalau bukan apa-apa nggak mungkin bisa mengubah wajah kamu sampai seperti ini."
"Ayo pulang," kataku sambil lalu menuntun sepeda.
"Yeee! Lagi diajak ngobrol juga. Seb!"
Gema berjalan di sebelahku.
"Gem, kamu percaya nggak sama adanya roh dari orang yang sudah meninggal?"
"Sebelum kamu nyusul tadi dia juga bilang kalau ada sosok aneh di rumahnya Tirta. Udahlah, jangan ditanggapi serius. Maksud aku, oke, mungkin dia memang bisa lihat. Tapi jangan jadikan itu sesuatu yang bikin kita takut."
"Kamu pernah lihat yang gituan?"
Wajahnya sedang mengingat-ingat, "Pernah."
"Asli?"
"Lihat tuyul."
"Yang beneeer. Di mana?"
"Di Jodoh Wasiat Bapak."
Aku berdecap abai sementara Gema tertawa terbahak-bahak.
"Tapi serius, Seb. Aku pernah lihat. Di sekolah. Nggak tahu sih itu hantu atau bukan."
Aku tidak meresponsnya.
"Aku kadang suka keluar kalau malam. Bapak suka minta aku memastikan gerbang sekolah udah digembok atau belum. Sementara rumahku ada di bagian belakang sekolah, kan. Otomatis kalau mau ke gerbang aku harus melewati koridor-koridor sekolah. Kalau ada anak-anak yang lagi latihan pencak silat sampai malam sih nggak apa-apa. Tapi waktu itu lagi sepi. Aku keluar sendiran. Jam sebelas malam. Keluargaku lagi pada nonton tv. Kecuali ibu yang lagi sibuk nyiapin bahan buat masak besok, kan," Gema bercerita serius, "Nah waktu itu aku lihat bayangan hitam bergerak cepat seperti orang lari di lantai dua. Cepat tapi halus pergerakannya."