2. NADIA

18 0 0
                                    

Gunting berbilah ramping dalam genggaman jemari yang padat berisi itu galak mencabik-cabik tali temali yang mengikat sebuah kotak kardus. Tangan kiri menarik tali yang tersisa dan dengan cepat yang kanan menggerakkan bilah gunting untuk merobek isolasi yang merekat tepi kardus. Kotak terbuka.

"Satu, dua, tiga . . . sepuluh pas!" perempuan empunya gunting itu menghitung kotak-kotak kecil dan stoples plastik di dalamnya. "Enam getuk, dua lanting, dua wajik." Kemudian dia menoleh ke pembantu di belakangnya. "ini yang getuk kirimkan ke Bu Tantri di blok enam. Yang lanting nanti aku bawa ke fitness. Yang wajik tunggu sopirnya mbak Desi datang untuk ngambil ya. Harganya total lima puluh ribu. Yang dua boks lain biarkan aja nanti sore aku urus."

Pembantu laki-laki separuh baya di belakangnya itu mengangguk patuh.

Meletakkan gunting yang sejak tadi dibawanya, perempuan itu, Nadia namanya, mengusap peluhnya yang menetes dari dahinya. Setengah merutuki listrik yang sejak pagi sudah mati sehingga AC nya tidak jalan, dia membuka ponselnya. Dengan dagunya dia menjepit ponsel itu di pundaknya dan mulai berbicara ke temannya di seberang sana, sementara kedua tangannya dengan cekatan membuka kotak sereal dan menuangkannya ke mangkok.

"Hallo, Daf," katanya ke ponselnya. "Jadi senam jam 8 ya? Aku sudah siap. Gak pake lama, ya, he he he!" Nadia mengakhiri ucapan singkat itu dengan tawa karib antara teman.

Selang beberapa saat kemudian, sebuah mobil sedan jenis city car abu-abu metalik berhenti di depan rumahnya. Nadia membuka pintunya, menaruh tasnya di jok belakang, lalu duduk di kursi penumpang di depan. Sang pengendara memandangnya sekilas dan tersenyum tipis. Mobil pun berjalan.

"Sibuk, Nad?" tanya Dafni, sang pengemudi.

"Kok tahu?"

"Tuh, kamu masih berkeringat."

"Iyaaa, pagi-pagi listrik sudah mati padahal hawanya sedang panas. Ini ada boks datang dari Magelang. Tadi masih mengecek isinya terus pesan-pesan ke pembantuku untuk mengantar ke para pelanggan."

Dafni mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka tertahan di belakang antrian kendaraan menuju ke jalan besar. Mobil pun melambat.

"Kamu ini tipe cewek nggak bisa diam, ya," Dafni berkomentar setelah Nadia bercerita tentang usaha sampingannya menjual berbagai penganan ke segenap penjuru kota.

"Iyaaa," tukas Nadia. "Ntar deh kalau dah mati aku baru diam."

Keduanya tertbahak.

"Selagi masih muda rejeki itu harus dikejar, Daf," lanjut Nadia. "Ada rejeki yang memang sudah ditakdirkan, kayak pekerjaan tetapku itu, ada yang memang menunggu jauh disana untuk kita kejar. Selama masih ada waktu, tenaga, dan peluang, kenapa tidak. Ya to?"

Dafni berdehem mengiyakan. Mobil merambat beberapa meter lalu berhenti lagi.

"Aku masih punya rencana lebih besar lagi," kata Nadia. "Ada peluang bisnis berjualan tiket online. Jaman sekarang makin banyak orang yang mampu dan mau berjalan-jalan. Jadi itu pasar yang sangat prospektif. Nanti ke depannya aku mau membuka layanan online one stop for all service. Aku melayani banyak kebutuhan untuk traveling, mulai dari pakaiannya sampai ke tiket masuk ke mana-mana."

"Iya, Nad, tapi pesaingnya juga mulai banyak, lho."

"Ya iya laaah, . . . hari gini, Daf, semua sudah pada melek digital dan sama-sama mencium peluang bisnis baru. Tapi ndak mengapa. Pesaing itu buatku adalah cambuk. Makin banyak pesaing, makin gila aku berbisnis."

Di Ujung KenanganTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang