8. KEPERAWANAN (3)

9 0 0
                                    


 Dafni baru keluar dari kamar mandi petang itu ketika pembantunya memanggil dari bawah. "Ada tamu," katanya. "Non Nadia."

Tubuh Dafni menegang. Belum juga dia sempat bertindak lebih jauh ketika didengarnya suara Nadia di ruang tamu. Dia sedang berbincang dengan pembantunya. Nadia yang memang pandai bergaul itu tidak kesulitan membuat percakapan asyik dengan pembantu temannya. Bahkan ketika si pembantu yang serba ingin tahu itu menanyakan apakah dia memang sakit seperti yang dikatakan Dafni tadi siang, Nadia dengan lincahnya mengelak tanpa kelihatan berbohong.

Dafni terpaksa turun dan menemui Nadia supaya pembicaraan antara keduanya tidak berlarut-larut.

"Hai, Nad. Kita ke atas saja," katanya datar.

Mereka berdua berjalan dengan langkah kaku ke lantai atas langsung masuk ke kamar Dafni. Dafni membiarkan pintunya setengah terbuka. Dia mendapat dirinya berdiri tegak di dekat meja riasnya, menghadapi Nadia di dekat pintu, tanpa berkata apa-apa.

"Daf," Nadia membuka pembicaraan. "Masih mengira aku menaruh obat tidur ke dalam cangkir tehmu?"

Dafni menarik nafas panjang dan memandang wajah temannya. Merasa bahwa pembicaraan mereka akan berlangsung agak panas, terpaksa dia menutup pintu kamarnya. Dia tidak ingin ayahnya yang sedang menonton televisi di lantai bawah mendengarkan percakapan mereka.

"Setidaknya itu yang aku pikirkan, Nad," Dafni menjawab. "Kamu membiusku sehingga aku tertidur dan . . . . bebas melakukan apa yang ingin kamu lakukan terhadapku."

"Ya Tuhan," raut wajah Nadia nampak terluka. "Teganya kamu menuduh aku berbuat seperti itu, Daf."

"Lalu kenapa aku bisa tahu-tahu mengantuk parah begitu ya, Nad?"

"Ya aku tidak tidak tahu, Daf. Mungkin metabolisme tubuhmu sedang tidak lancar, atau karena tidurmu kurang nyenyak. Tapi yang jelas, aku tidak pernah menaruh apapun selain gula dan teh ke dalam cangkir itu."

Nadia merogoh sesuatu dari tas pinggangnya.

"Ini, ini toples gula yang tadi aku ambil gulanya untuk tehmu. Kamu boleh bawa ini ke laboratorium atau rumah sakit atau apalah. Minta analisis lab untuk membuktikan tuduhanmu."

Dafni memandang toples gula itu dengan wajah skeptis.

"Kamu belum puas? Ingin aku bawakan poci tehnya sekalian untuk kamu selidiki? Aku—"

"Bagaimana aku yakin kamu tidak menukarnya?" sahut Dafni. "Ini sudah sekian jam yang lalu. Kamu bisa saja kan menukarnya dengan yang bersih tidak mengandung obat bius?"

Nadia tercekat. Rupanya dia tidak menyangka Dafni masih bisa menantangnya dengan pertanyaan itu.

"Sumpah demi Tuhan, Dafni," katanya dengan suara keras dan bergetar. "Summmppah aku tidak pernah menaruh obat tidur—"

"Ndak usah pake sumpah, Nad," Dafni menjawab dengan dingin. "Mau sumpah di depan hakim pun, kalau memang kamu melakukannya, tidak akan ada gunanya, Nad."

"Oh, kamu berencana mengadukan ini ke polisi?" Nadia bertanya dengan nada tinggi. "Silakan, Daf, silakan. Mau sampai ke pengadilan pun, aku berani sumpah aku tidak—"

Nadia tidak menyelesaikan kalimatnya. Mendadak dia menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya langsung merebak dan tangisannya pecah begitu saja di depan Dafni yang langsung tertegun.

Sesaat sunyi. Nadia menangis sesenggukan. Bahunya terguncang-guncang seiring dengan isakannya. Dafni memandangnya dengan perasaaan galau. Belum pernah sekalipun dia melihat Nadia patah dan luluh dalam tangisan seperti itu. Nadia yang dia kenal selama ini adalah Nadia yang senantiasa tegar, pemberani, bahkan terkesan nekad. Kata "menangis" seolah tidak ada dalam kamus hidupnya. Maka ketika melihat tangisnya pecah begitu saja, Dafni mau tidak mau merasa tersentuh. Perlahan air matanya membayang dan sebelum dia sadar apa yang sepenuhnya terjadi, air matanya ikut mengalir. Ingin sekali dia memeluk sahabatnya itu dan menenangkannya. Tapi peristiwa tadi siang di kamar itu terbayang kembali dan Dafni tidak kuasa bergerak apapun kecuali menatap Nadia dengan perasaan iba.

"Sudah, Nad," akhirnya dia berbisik mencoba menenangkan Nadia. "Kamu pulang dulu aja. Ini hari kurang baik buat kita berdua. Sudah, kita istirahat saja dulu di rumah masing-masing. Maaf membuatmu menangis. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu menangis."

Nadia menyusut air matanya dan berusaha kembali tegar. Diambilnya tisu yang disodorkan Dafni dan dengan gerakan tegas dia hapus sisa air matanya.

"Jadi kamu masih belum percaya bahwa aku tidak membiusmu?" tanyanya dengan nada masih bergetar.

Dafni menggeleng dan berkata pelan, "aku tidak tahu, Nad. Aku tidak mau memikirkannya lagi saat ini. Sudah, kita tenang dulu aja."

"Aku tidak bakal tenang sebelum kamu—"

"Sssh, sudah, Nad," kali ini Dafni menyentuh pundak teman karibnya untuk menenangkannya. "Ndak usah dibahas lagi. Oke, anggap saja semuanya selesai saat ini. Okay? Kamu pulang dulu, yah. Kamu kelihatan kusut."

Nadia merapikan penampilannya sebelum Dafni membuka pintu kamarnya. Ketika melangkah keluar, Nadia memandang lekat wajah temannya yang lembut dan terkesan lelah itu. Dafni, seolah menangkap apa yang dirasakan temannya, berbisik pelan namun mantap.

"Ya, kamu adalah temanku, teman baikku, Nad. Selalu akan begitu."

Nadia kelihatan sedikit lega dan dia tersenyum sekilas sebelum melangkah turun.

Setelah Nadia pergi, Dafni kembali ke kamarnya. Dipandangnya layar ponselnya. Tangannya bergerak seolah otomatis membuka kolom perbincangan dan merandeg di depan foto profil Jafar. Ah, dia lupa. Jafar sudah pergi. Dia tidak bisa lagi mencurahkan perasaannya ke lelaki terkasih yang sudah menjadi kenangan itu . . .  

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 14, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Di Ujung KenanganTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang