Empat tahun sudah berlalu namun kenangan tentang pertama kali dia bertemu dengan pemuda bernama Jafar itu masih sangat segar di ingatan Dafni. Dia mendaftarkan diri sebagai peserta pelatihan selama 2 hari tentang personal branding di era teknologi digital. Pelatihan yang diselenggarakan di sebuah hotel berbintang lima itu cukup banyak menyedot minat kaum muda seusianya. Bahkan ada beberapa peserta yang nampaknya sudah lima belas atau bahkan dua puluh tahun di atasnya. Di era digital, manusia dari berbagai usia nampaknya tidak ingin menjadi penonton atau bahkan korban 'keganasan' disrupsi teknologi digital. Sebagian besar ingin menjadi partisipan aktif atau bahkan pencipta tren baru.
Pada hari pertama, Dafni datang agak terlambat dan dia terpaksa harus menempati kursi di jajaran paling depan. Hampir semua peserta lain memenuhi deretan kursi dari tengah ke belakang. Manusia Indonesia, sekalipun bawaaannya sudah gadget tipe terbaru, tetap saja merasa lebih nyaman duduk di baris belakang dalam setiap pertemuan.
Dafni baru duduk sekitar 5 menit ketika seorang pemuda datang dan mengambil tempat di sebelahnya. Sekilas Dafni meliriknya. Pemuda itu juga memandang dirinya sekilas lalu sibuk dengan seminar kit yang sejak tadi agak merepotkan kedua tangannya. Mereka tidak berbicara satu sama lain di sepanjang acara itu. Sang pemuda nampak tekun sekali menyimak penjelasan para fasilitator, dan Dafni pun demikian.
Ketika saat rehat kopi tiba, sebagian besar peserta memanfaatkan waktu untuk mulai berkenalan dengan peserta lainnya. Si pemuda ramping dengan kemeja krem dan celana hitam yang terkesan rapi itu sedang berbincang dengan seorang peserta pria lain. Si pria lain ini rupanya pernah melihat Dafni dan dia kontan menyapa Dafni yang sedang menghirup teh hangat di dekat meja panitia. Setelah saling menyapa, si pria ini menoleh ke arah rekan disebelahnya dan sekilas meminta mereka berdua untuk saling berkenalan.
"Dafni" dia menyebut namanya sambil menyambut jabatan tangan si pria. Pria itu memandang nama yang tertera di kartu peserta yang tergantung di lehernya dengan seutas pita biru. Disitu tertulis besar namanya: DAPHNE.
"Iya, D-A-P-H-N-E tulisannya. Dibacanya—"
"Dafni" sahut pria itu sambil tersenyum. "Dafni. Aku Jafar."
Dafni membalas senyumnya. Lalu entah bagaimana, dia melayangkan pandangan ke belakang pemuda itu. Seorang anggota panitia sedang menunggu untuk berbicara dengannya tentang satu hal urgen. Seolah tahu, pemuda yang bernama Jafar tadi langsung mengurungkan niatnya untuk bercakap lebih jauh dan segera berlalu dari hadapan Dafni.
Ketika rehat kopi tiba, Dafni duduk di koridor berbincang bersama dua orang rekan barunya sambil menghirup kopi dan menikmati makanan kecil. Kedua rekannya itu sibuk mengobrol tentang multilevel marketing jenis terbaru. Karena Dafni tidak begitu tertarik dengan topik itu, dia mulai melayangkan pandangannya ke segala arah sekedar mendapatkan pemandangan lain. Mendadak dirasanya ada seseorang sedang mengawasinya. Dafni menoleh ke arah samping kanan dan pandangannya bertumbukan dengan mata Jafar. Keduanya tersenyum, lebih kepada senyum basa-basi daripada yang lain. Secepat kedua tatapan itu beradu, secepat itu pula keduanya mengalihkan pandangan.
Jafar juga sedang duduk bersama tiga pria lain. Dafni dengan cepat menangkap sesuatu yang berbeda. Dari keempat pria itu, hanya Jafar yang tidak asyik dengan layar ponselnya. Sama seperti dirinya, dia juga sedang melayangkan pandangan ke berbagai arah seolah mencari pemandangan selain layar virtual ponsel.
Dafni melirik lagi ke arah Jafar. Umumnya, seorang pria yang sudah ketahuan sedang memandangi seorang gadis akan mendekat lalu mengajak berbicara. Seseorang bangkit. Oh, bukan, bukan si Jafar, tapi pria di sebelahnya. Pria berkacamata dengan rambut pendek tegak seperti sikat wastafel itu duduk begitu saja disamping Dafni dan mulai mengajak bicara.

KAMU SEDANG MEMBACA
Di Ujung Kenangan
RomanceDafni, seorang gadis yang telah menjalin cinta selama 4 tahun dengan kekasihnya bernama Jafar, bergulat dengan kenangan dan kerinduan akan pria itu setelah mereka putus hubungan. Kesedihan terus merundungnya selama berbulan-bulan dan dia tidak tahu...