7. KEPERAWANAN (2)

9 0 0
                                    


Dafni seperti disentakkan. Matanya terbuka lebar. Kesadarannya melonjak seketika bak kuda tidur disetrum. Dia membalikkan badannya. Matanya seketika terbelalak melihat Nadia sedang berbaring di sisinya.

"Nad??!!" pekiknya. Sontak dia terjaga dari posisi berbaringnya.

Nadia menegakkan posisi tubuhnya. Raut wajahnya terasa aneh. Dafni nyaris pingsan melihat Nadia sudah tidak lagi mengenakan celana pendeknya. Dia hanya berbalut t-shirt yang sejak tadi dikenakannya.

"Nad . . . Ya Tuhan," Dafni menutup mulutnya. Rasa pusing menggoyang penglihatannya. Rupanya kantuk masih meraja di tubuhnya. Namun apa yang dilihatnya cukup membuat dia bangkit berdiri dari ranjang.

Nadia menghindari tatapan matanya. Raut wajahnya antara menyesal dan nekad. Menundukkan wajahnya, dia pelan bangkit dari posisi tidurnya. Melipat kakinya, lalu duduk bersila di ranjang itu. Kini matanya menatap lemah ke Dafni.

"Nadia . . . kamu . . .?" Dafni membiarkan kalimatnya menggantung. Dia tak kuasa mengucapkan kata itu. Seperti rekaman yang diputar ulang dengan cepat, bayangan pertemanannya dengan Nadia berkelebat di benaknya. Nadia, cewek agak tomboy yang spontan, periang, energik, agak berisik dengan suaranya yang lantang dan keras, dengan sifatnya yang ringan tangan dan setia kawan, sudah menjadi teman baiknya sejak mereka masih di bangku SMA. Tak terbersit sedikit pun tanda-tanda bahwa ternyata dia menyukai sesama jenisnya.

Maka Dafni merasa bagai tersambar petir di siang bolong. Perasaannya diterkam keterkejutan dahsyat bercampur dengan gundah, jijik, dan masygul. Dia merasa seperti baru saja ditinju oleh seorang tunawisma setengah gila yang tidur di emperan toko. Tinju itu meninggalkan rasa sakit namun dia juga tak kuasa membalas karena yang baru meninjunya adalah orang gila berbau tengik.

"Dafni, maaf, . . ." Nadia membuka suara. "Kamu tahu aku, Dafni. Maaf. Aku mungkin khilaf."

Dafni tak mampu lagi berucap apapun. Terlalu sesak dadanya dihantam apa yang terjadi sepanjang hari itu. Dia hanya menatap nanar kepada Nadia.

"Maafkan aku, ya, Daf," Nadia berkata lagi. "Maaf. Aku khilaf. Aku hanya merasa . . . . sayang sama kamu. Aku tidak ingin melihat kamu sedih."

Dafni membisu. Rasa jengah dan jijik menjalari tubuhnya ketika mendengar untuk pertama kalinya kata "sayang" itu diucapkan untuknya oleh teman dekatnya sendiri. Sekilas dia berharap sedang bermimpi buruk. Namun mimpi buruk biasanya berakhir pada klimaks cerita. Ini tidak. Jadi ini adalah sesuatu yang nyata. Dafni bangun pada satu fakta teramat pahit: teman baiknya seorang lesbian. Dan si teman lesbian itu nyaris mencumbuinya ketika dia sedang tidur. Dafni merasa kultnya merinding ibarat dijalari ulat bulu. Bayangan bibir Nadia menciumi lengan dan pipinya meninggalkan perasaan jijik sekaligus ngeri.

Setelah bisa menguasai dirinya kembali, Dafni bergegas melangkah ke tas kecilnya. Cepat dia mengemasi barang-barangnya dari kamar itu. Setelah semuanya selesai, dia beranjak ke kamar mandi menyambar handuknya. Di wastafel di dekat kamar mandi itu dibasuhnya mukanya cepat-cepat. Lalu dengan cepat pula dia mengeringkan wajahnya dengan handuknya. Sedikit tetes air masih menyisa di wajahnya ketika dia bergegas mengenakan sandalnya dan beranjak keluar menenteng tasnya.

"Pulang dulu, Nad. Terima kasih," katanya sekilas kepada Nadia yang selama itu hanya sanggup menyaksikan dengan raut wajah memendam kegalauan.

Terdengar suara pagar dibuka oleh pembantunya. Ketika Nadia melangkah ke arah halaman depan, mobil Dafni sudah melesat mundur hampir menyambar pot bunga di tepi halaman.

Dari kaca spion Dafni melihat sekilas Nadia berdiri bersandar pada pagar rumahnya melihat ke arahnya. Setelah itu dia mengarahkan pandangannya lurus ke jalan raya, tak ingin lagi melihat apa pun yang ada di belakangnya.

Di Ujung KenanganTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang