"Sayang, aku terlambat. Ini ada simulasi dari sales managerku. Mungkin setengah jam lagi ya."
Dafni membaca pesan dari Jafar itu dengan wajah kesal.
"Y", balasnya. Tanpa usah dijelaskan pun, Jafar pasti tahu makna di balik jawaban yang hanya satu huruf itu.
Dafni menatap layar ponselnya, berharap ada sedikit kata penuh penyesalan atau penghiburan dari Jafar. Namun, tak ada balasan apa-apa.
"Wow, sesibuk apa tho kamu, Jafar, sampai ndak ada balasan sepatah kata pun?" Dafni membatin. Sesaat kemudian dia nekad menelpon Jafar. Beberapa kali bunyi deringan itu terdenggar. Jafar tidak kunjung menekan tombol penjawabnya.
Ketika akhirnya dia menjawab, yang diterimanya adalah hamburan pertanyaan dengan nada ketus dari Dafni.
"Iya, maaf, sayang. Ini ada simulasi mendadak. Nanti ya kalau sudah--- setengah jam, tidak lebih." Suara Jafar agak terputus-putus. Dafni bisa mendengar suara agak gaduh di latar belakang. Ada beberapa suara wanita yang sempat didengarnya.
Dafni menahan rasa gondok di kerongkongannya. Serasa harus menelan kulit durian. Dia hanya berdecak singkat lalu mengatakan dengan nada lembut namun sarat kekecewaan, "ya, aku tunggu ya." Tanpa menunggu lagi jawaban dari Jafar, ditutupnya percakapan itu.
Jafar muncul sekitar empat puluh lima menit kemudian. Wajahnya menyimpan kelelahan dan kekhawatiran akan reaksi kekasihnya. Dafni tidak bisa lagi menyembunyikan kejengkelannya. Dia duduk mematung memandang Jafar dari bangku panjang itu.
"Maafkan," Jafar membuka pembicaraan. "Aku benar-benar tidak bisa lari dari acara itu. Sales managerku bilang dia ada acara mendadak ke Ujungpandang besok, jadi dia memajukan acara simulasi itu ke tadi sore."
"Aku sudah kenyang," ucap Dafni. "Kenyang menunggu."
"Iyaa, aduuh, maaf, Dafni. Kan aku tidak sengaja?"
"Ya, aku tahu itu memang tidak sengaja. Tapi aku sudah kenyang."
"Lho, jadi kita ndak jadi makan disana?"
Hancur sudah mood mereka berdua. Dafni ngotot mengatakan sudah kenyang, namun bahasa tubuh dan raut wajahnya menyiratkan bahwa Jafar harus segera mengajaknya keluar karena itu sudah rencana mereka.
Di dalam mobil mereka lebih banyak membisu.
Ketika akhirnya mereka sampai di tempat makan itu, parkirnya sudah penuh sehingga Jafar terpaksa memutar lebih jauh untuk mendapatkan tempat parkir yang layak. Setelah sampai di dalam pun, pelayan dengan susah payah mencarikan tempat duduk untuk mereka di tengah kepadatan para pengunjung lain. Ketika akhirnya menemukannya, dengan raut muka minta maaf pelayan itu mempersilakan mereka duduk karena meja yang mereka tempati sebenarnya setengah darurat.
Acara yang semula direncanakan sebagai peringatan yang manis itu pun berantakan. Pesanan yang datangnya lama, ditambah bau kurang sedap yang menguar dari tempat pembuangan di dekat meja mereka membuat Dafni tidak bisa menyembunyikan wajah kecewanya. Jafar yang mati-matian berusaha mencerahkan suasana ditanggapinya dengan diam atau komentar pendek dan sinis.
"Lalu maumu bagaimana?" akhirnya Jafar tidak kuasa menyembunyikan emosinya. "Kita pulang saja?"
"Lho, kok pulang? Kan sudah pesan makanan?"
"Ya, tapi suasananya udah ndak enak banget. Kamu merengut terus, dan aku--"
"Ya, kan bukan mau aku juga untuk merengut? Siapa juga yang suka merengut di tengah acara yang seharusnya manis hari ini?"
"Kan kamu yang merengut. Dari tadi aku sudah berusaha—"
"Siapa juga yang membuat aku jadi merengut? Kan bukan aku. Ndak mungkin aku merengut tanpa ada sebabnya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Di Ujung Kenangan
RomanceDafni, seorang gadis yang telah menjalin cinta selama 4 tahun dengan kekasihnya bernama Jafar, bergulat dengan kenangan dan kerinduan akan pria itu setelah mereka putus hubungan. Kesedihan terus merundungnya selama berbulan-bulan dan dia tidak tahu...