Dafni menekan tombol penutup panggilan. Wajahnya berkerut. Dilihatnya pesan-pesan terakhir di layar bincang mereka. "Selamat ber me time," hanya itu kalimat terakhir dari Jafar. Lagi ditekannya tombol telpon. Lagi, suara deringan tanpa ada tanda-tanda dijawab.
Dafni meletakkan telponnya. Dia bangkit menuju ke ruang bawah dan menghabiskan sekitar setengah jam mandi di kamar mandi. Ketika dia keluar, didengarnya dering ponselnya di lantai atas. Setengah berlari hampir tersandung di tangga, Dafni menjemput ponselnya dan mengangkatnya.
"Sayang," suara Jafar di seberang sana. "Tadi nelpon ya? Maaf, tadi aku nyetir. Ini—"
"Nyetir?" potong Dafni. "Kamu ke mana?"
"Ada rapat dengan kelompokku di luar kota," Jafar menjawab. "Undangannya baru aku baca tadi pagi."
"Hmmmmm . . ."
"Ini mendadak, Dafni. Aku—"
"Tumben kamu hilang begitu saja ndak mengabari aku,"
"Iyaa, kan aku bilang mendadak? Dan aku memang sengaja tidak bilang ke kamu karena kamu masih ingin me time, kan?"
"Kantormu tuh apa ndak punya agenda yang tetap?" Dafni tidak bisa lagi menahan nada kesal dalam pertanyaannya. "Kenapa semuanya serba mendadak? Simulasi mendadak, training mendadak, rapat mendadak."
"Yaa, aku juga tidak—"
"Apa susahnya to mengirim satu dua pesan bahwa kamu mau pergi urusan kerjaan?"
"Dafnii, . . .kamu bilang sendiri tidak mau diganggu selama kamu me time."
"Oooh, jadi aku telpon kamu ini kamu anggap mengganggu ya?"
"Dengar baik-baik, Daf. Aku tidak mengabari karena kamu pasti sedang ingin sendiri. Aku hargai itu makanya aku tidak bilang apa-apa. Aku justru suka kamu menelpon. Kamu tidak mengganggu—"
"Pekerjaanmu sangat penting, Far," Dafni merasa darahnya bergerak melesat naik ke kepala. "Urus saja pekerjaanmu. Aku mah ndak penting. Semoga sukses, ya". Dia langsung menutup pembicaraan.
Pembicaraan yang pahit itu menjadi pertengkaran panjang pada hari berikutnya ketika Jafar sudah pulang dan menemui Dafni. Dafni merasa Jafar makin sering menghabiskan waktu untuk menekuni pekerjaannya, sementara Jafar merasa Dafni tidak mau mengerti upayanya untuk mencapai jenjang karir lebih baik.
"Aku paham betul hal itu," Dafni menyanggah. "Aku hanya merasa kamu makin menjauh dariku dan lebih mengutamakan pekerjaanmu."
Pertengkaran makin menjadi-jadi sampai menyentuh topik peka: kecemburuan.
"Bagaimana aku tahu kamu tidak sedang menjalin hubungan khusus dengan salah satu rekanmu disana?"
"Memang tidak! Aku bukan tipe playboy! Kamu harus percaya aku tidak bertindak yang aneh-aneh selain bekerja!"
"Sejak kapan aku harus ini harus itu, sementara kamu bebas melewatkan jam-jam kita untuk menekuni segala macam pelatihan dan urusan kerjamu?"
Mereka berpisah dalam ketegangan. Malamnya, pertengkaran berlanjut lewat mode virtual di layar ponsel mereka.
"Aku tidak suka sikapmu waktu marah. Kamu cenderung emosional, memotong semua kalimatku sebelum aku selesai, ngomong ngawur tanpa dasar dan tanpa logika," Jafar menulis di layar bincang mereka.
"Wanita tidak akan emosional kalau pasangannya mampu memahami perasaannya dan melakukan perubahan sikapnya."
"Untuk apa aku harus mengubah sesuatu yang aku rasa baik untuk masa depanku?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Di Ujung Kenangan
RomanceDafni, seorang gadis yang telah menjalin cinta selama 4 tahun dengan kekasihnya bernama Jafar, bergulat dengan kenangan dan kerinduan akan pria itu setelah mereka putus hubungan. Kesedihan terus merundungnya selama berbulan-bulan dan dia tidak tahu...