kau lucu ya,
memaksa-ku pergi dari kehidupan-mu,
namun sikap-mu selalu berhasil membuat-ku jatuh ke dekapan-mu lagi.
bodoh, aku merindukanmu
aku merindukan suaramu
aku merindukan sosokmu
aku merindukanmu yang selalu membuatku tersenyum tersipu malu
dengan pipi yang memerah karena-mu
apa sekarang sudah tak ada lagi?
apa pelangi indah selama ini akan sirna?
apa pelangi-ku akan tergantikan derasnya rintik hujan?
apa kau sudah selesai menghapus ingatanmu dengan ku?
apa secepat itu?
bodoh, seharusnya kau memberiku peringgatan sebelum kau pergi meninggalkanku sendiri lagi,
agar hati ini tak terlalu sakit
—ketika ingatan tentangmu memenuhi ruang kepalaku yang berakibat hujan dadakan yang meleleh dipipiku
KAMU SEDANG MEMBACA
Luka
Poetryaku hanya tak tau bagaimana mengucapkan-nya, hingga tersusun-lah bait-bait kata yang terpendam dalam diriku-selama ini, dan begini kemudian jadinya
