Sore ini matahari bersinar terik nan menyengat. Beberapa siswa ramai terlihat berlalu lalang melewati gerbang sekolah walau bel sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu.
Mereka mengenakan kaus eskul yang berbeda-beda khas SMAnya dan sedikit diantaranya terlihat masih menunggu jemputan. Begitupun dengan seorang gadis mungil yang saat duduk manis berteduh dibawah pohon rindang dekat gerbang sekolah sibuk dengan ponsel ditangannya.
Sampai seseorang dari arah belakang menginterupsi kesibukannya tersebut dengan menepuk pundaknya ringan.
"Hey, Na."
Gadis itu menoleh, memindahkan atensinya sejenak, "Eh, Bima." Jawabnya dengan senyum cerah.
"Tumben belum pulang ? Ehm.. pe-perlu tumpangan ?" Lelaki sesusianya itu mengusap belakang tengkuknya terlihat gugup.
"Makasih Bima, tapi Nana lagi nunggu papa jemput." Gadis itu atau yang bisa di sebut Nana menjawab lengkap pipi mengembung karena sebal harus menunggu lama. Tidak menyadari kegugupan lawan bicara dihadapannya sama sekali.
"O -oh.. Yaudah, aku temenin kamu disini sampai papa kamu datang kalau boleh." Ujarnya dengan senyum manis.
Nana tersenyum lebar, dengan cepat mengangguk mengiyakan. Setidaknya, dia tidak harus menunggu papanya sendirian.
Baru hendak membuka mulut, suara klakson mobil menginterupsi dan membuat keduanya kompak menoleh kearah yang sama. Sebuah mobil berwarna hitam metalic berhenti tepat disamping keduanya.
Nana langsung beranjak dari duduknya begitu mengenali mobil tersebut, "Papa Nana udah jemput. Makasi ya Bima udah mau nemenin."
"Ahaha, aku bahkan belum nunggu semenit, Na, tapi sama-sama." Bima menjawab sembari tersenyum tulus yang membuat lesung pipinya tampak jelas dan manis.
Nana membuka pintu samping kemudi dan mendudukkan dirinya di situ, dengan kedua tangan menyilang di depan dada, lengkap dengan bibirnya yang menekuk. Membuat kedua pipinya yang memerah kepanasan terlihat lucu, "Papa lamaa." Rengeknya sebal.
Pria yang masih mengenakan kemeja kerjanya tersebut menoleh, menyadari kesalahannya yang sekarang membuat gadis kecilnya merajuk.
Diusapnya sayang keringat yang menempeldi pelipis dahi Nana, "Maaf banget Princess. Papa kena macet di jalan tadi."
“Panas, Paa.” Nana merengek lagi. Tidak ingin berbalik sama sekali,
karena dia tau papanya pasti menatapnya dengan pandangan penuh rasa bersalah yang membuatnya susah marah lama-lama.
"Hmm.. ice cream untuk princessnya Papa bagaimana ?"
Nana tidak langsung menoleh. Tetap memilih diam.
"Dengan cupcakes warna-warni sebagai permohonan maaf ?" Tanyanya lagi masih setia bernegosiasi.
Nana menoleh sedikit, membuat pria matang tersebut tersenyum geli.
“cheese cake juga ?”
Nana menoleh cepat. Menatap papa yang terlihat sangat gagah di usianya yang menginjak dua puluh sembilan tahun menaikkan sebelah alisnya, membuatnya terlihat semakin tampan dan sedikit menyebalkan. "Nana mau dua." Cicitnya pelan.
"Oke, setuju" Tanpa pikir panjang, Papa mengulurkan jari kelingkingnya yang disapa Nana dengan gembira.
"Deal !" Jawabnya sudah kembali riang.
Pria itu melajukan mobilnya menuju mall terdekat. Membuat Nana bersenandung riang bersahutan dengan radionya. Dia tidak mau ambil pusing, selama Nana senang itu juga akan membuatnya senang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Papa
Cerita PendekThis book belongs to someone lacking fatherly affection, someone who has daddy issues, and girls who are always by themselves, hoping there's somebody out there loving them endlessly.
