Chap 1📌Bertemu

119 4 0
                                    


Jika pertemuanku dengan mu merupakan sebuah suratan, maka perpisahan pun (mungkin) bukan suatu hal yang harus kita sesalkan.
(Masih Tentang Kami)
————————————————

🌸🌸🌸

"Ayo kak, bisa kak, bisa!" Renata sangat antusias menyemangati kakaknya yang tengah fokus mengapit boneka yang berada di dalam kurungan.

Geser, capit, arahkan pada lobang keluar, lepas di tengah jalan. Selalu begitu, dan ini merupakan kali ke empat, Renata dan Luna mengalami kegagalan dalam permainan ini.

"Kalo yang ini gadapet, kita ganti game nya aja ya." Ujar Luna.

Renata menghela napas kasar, dan mengangguk pasrah. Padahal dirinya sangat ingin boneka penguin kecil dan lucu yang ada di dalam, dan ia hanya bisa berharap, semoga kakak nya berhasil.

Geser, turunkan, capit, arahkan. Dan...... ah! Boneka penguin nya lagi-lagi jatuh di tengah jalan.

"Yhaa.." Luna yang sedari tadi gagal mengambil boneka pun ikut kecewa, lantas menoleh kepada adiknya yang tengah menekuk wajah.

"Kita maen yang lain aja ya, kan boneka nya kita bisa beli" Ucap Luna, yang dibalas Renata dengan anggukkan dan senyuman tipis.

Luna melirik arloji nya, menunjukkan pukul 16.30 "Eh. Kita kan mau nonton, film nya udah mau mulai" Luna baru ingat, kalau dia dan Renata sudah memesan dua tiket film horror.

"Terus boneka penguin nya, gimana?" Rengek Renata.

"Ntar ya.. abis nonton.." ucap Luna, melerai Renata "ayo" luna menarik pergelangan tangan Renata yang mungil nan mulus. Renata hanya pasrah, dan mengikuti langkah kakak-nya.

🌸🌸🌸

"Mbak, MATA BATIN dua ya" ucap arka setelah ada di depan loket.

Mbak penunggu loket memberikan dua lembar tiket bioskop "sekalian sama camilan nya mas?" Tanya mbak penunggu loket

"Ah, iya. Dua ya, coca cola nya juga dua" jelas arka, mbak penunggu loket mengangguk.

Sambil menunggu, arka mengeluarkan ponsel dari saku celana nya. Ah. Tidak ada notif, dasar jomlo!

"Ini mas." Ucap mbak penunggu loket sambil memberikan camilan yang barusan arka pesan "total nya, 200 ribu mas"

Arka merogoh saku celananya, dan mengambil dua lembar uang seratus ribuan "mbak nya jomblo?" Tanya arka, sambil memberikan uang nya.

Mbak penunggu loket hanya tersenyum tipis "uang nya pas ya mas"

"Kembalian nya ambil aja mbak, simpenan buat masa depan kita" ucap arka, dan kemudian beranjak dari tempat antrean, karena di belakang ternyata masih banyak orang yang meng-antre.

Mbak penunggu loket hanya geleng-geleng kepala. uang nya kan, pas? Melihat tingkah arka barusan, mbak penunggu loket Tak mengerti lagi dengan sikap ABG zaman sekarang.

Arka berjalan ke arah Bima yang tengah duduk menunggu, sambil memainkan Gadget nya.

"Woy!" Panggil arka.

Bima menoleh, dan hanya mengangkat alis, tanpa bicara.

"Ayo masuk, udah mau mulai." Ajaknya. bima mengangguk, beranjak dari tempat duduk, dan berjalan mendahului arka.

🌸🌸🌸

Kini, bima dan arka sudah duduk di kursi nya, tidak terlalu bawah, juga tidak terlalu atas. Tengah.

"Bim, lu tau gak? Mbak penjaga loket nya cakep, tau!" Ucap arka, memberi tahu bima berita tak penting.

Bima hanya menoleh sesaat, dengan tatapan seperti biasa, tajam. Lalu kembali melihat ke layar bioskop yang masih menampilkan iklan-iklan.

"Gue bingung deh bim, lu sariawan apa gimana? Diem mulu dari tadi. Mana tatapan lu kaya orang kerasukan. Gue ada salah?" Hmm, arka ngelantur.

"Diem coeg!" Bima menjitak kepala arka "Suara lu bikin mupeng! Gak bikin adem"

"Jarang ngomong. Sekali nya ngomong, nyelekit. Dedek arka gak bisa lho di giniin" ujar arka dengan nada tersakiti.

Bima memutar bola mata nya malas, dan tidak menghiraukan perkataan arka.

🌸🌸🌸

"Disini dek" Luna menginstruksikan kursi mereka pada Renata, dan mempersilakan Renata duduk duluan.

Renata duduk, kemudian Luna juga. Mereka duduk dengan tenang di kursi nya, barisan yang tidak terlalu bawah, juga tidak terlalu atas. Tengah.

"Jangan nangis karena takut yaa.." ucap Luna dengan nada ejekan.

Renata tak menggubris, toh! Bukan hanya Renata yang takut, Kakak nya juga takut horror kan? Tapi tetep aja mereka sok sok an berani nonton horror. Hehe, ada yang sama kaya Renata dan Luna?

Arka memutar kepala nya ke kanan, ke kiri, ke atas ke bawah. Pokok nya gitu deh, gamau diem! Hingga akhirnya, saat arka menoleh ke sebelah kanan, ada Renata yang juga sedang menoleh ke arah nya.

"Lho? Renata?" Sapa nya, nada terkejut dong jangan lupa.

Bima yang menjadi pembatas antara arka dan Renata pun ikut menoleh ke arah Renata, ya! Ternyata bima duduk bersebelahan dengan Renata.

"Kak arka?" Renata juga sama terkejut nya.

"Hehe.. kalo emang jodoh, dimana-mana juga pasti di pertemukan ya." Ucap arka, lagi-lagi dengan kata basi yang receh.

Renata hanya tersenyum tipis, dan kembali menatap layar bioskop karena film sebentar lagi akan di mulai.

Bima yang sedari tadi hanya menjadi pendengar obrolan pendek arka-Renata pun, akhirnya menoleh kepada arka, berniat untuk bertanya.

"Ka. Yang tadi—"

"Ssstt... film nya udah mulai" bisik arka, memotong ucapan bima.

Bima mengangguk, dan ikut fokus melihat layar bioskop yang mulai menampilkan tokoh-tokoh seram yang ada di film tersebut.

———————————————
Iih gaje bet part ini, gak ada gereget2 nya..
:((

Ntar deh yaa.. sabar aja dulu buat nunggu.. hehe, cacing bucin nya belum joget2 nih, masih pada sibuk sekolah.. xoxoxo...

Kritik saran nya yaa manteman.. bukan judge, muehehe.

Salam sayang
Aku: adik kandung Lee Min Ho

Only MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang