Bab 4 Memulai

1.2K 92 5
                                    

Assalamualaikum....
Apa kabar semua? Aku harap teman2 dalam keadaan sehat wal afiat.

Terus berikan dukungan untuk cerita ini ya, agar aku lebih semangat lagi menulisnya.

Vote kalian sangat berharga untuk Gus Fatih 😀

Bel istirahat kedua telah berbunyi, Gus Fatih bergegas membereskan buku-bukunya untuk mengejar sholat Zuhur.

"Dho, sholat bareng aku ya," ajaknya.

Pemuda kurus itu malah tertawa lebar. "Sholat? Kamu ngajak aku sholat?"

Gus Fatih menghentikan aktifitasnya lalu menatap Ridho heran. "Agama kamu Islam kan?"

"Iya, jelas aku islam, wong namaku saja Ridho," jawab Ridho sambil menaikkan kerah bajunya.

"Trus kenapa kamu ketawa? Bukankah kewajiban seorang muslim itu sholat lima waktu." Tatapan Gus Fatih tampak serius tak seperti biasanya. "Allah kan uda ngasih kamu hidup, masak kamu diminta berterimakasih hanya dengan sholat aja gak mau ... Udara yang kamu hirup itu gratis lho."

Ridho tampak tergagap, terlihat ekspresi tak enak dari wajahnya. Selama ini dia tak pernah memiliki pemikiran seperti itu, bahkan selama hidupnya mungkin bisa dihitung berapa kali dia sholat.

"Uda yuk." Gus Fatih menarik tangan Ridho dan ajaibnya pemuda itu tidak menolak.

Mereka berjalan menuju ke mushola bersama, tapi tak ada yang saling berbicara. Ridho sendiri masih terlihat ragu tapi juga tak kuasa menolak, dia hanya terus berjalan di sebelah Gus Fatih dalam diam.

Sesampainya di mushola, Ridho selalu mengamati tindakan Gus Fatih, mulai dari melepas sepatu sampai menuju tempat wudlu. Dalam gerakan berwudlu pun pemuda itu terus melirik ke arah Gus Fatih karena memang dia tak sepenuhnya ingat cara melakukannya.

Seperti hari sebelumnya, hanya ada beberapa siswa di dalam masjid yang akan melakukan sholat. Gus Fatih terlihat mendekati empat pemuda itu satu per satu dengan tujuan mengajak mereka berjamaah, dan mereka tampak mengangguk setuju. Setelah mengumandangkan azan, Gus Fatih segera mengambil posisi menjadi imam tapi tiba-tiba dia teringat satu hal. Gus Fatih kembali mundur yang jelas membuat para pemuda di belakangnya menjadi bingung. Dia menuju ke sisi tempat wanita lalu menyingkap kain pembatas, dan gadis yang dicarinya memang ada di sana bersama dengan Amanda.

Gus Fatih menatap Naila yang sudah bersiap dengan mukenanya, lalu pemuda itu berucap, "Bacalah niat menjadi makmum, karna aku yang menjadi imamnya."

Terlihat Naila dengan ekspresi terkejut hanya mampu mengangguk pelan. Setelah itu Gus Fatih kembali ke tempatnya, bersiap untuk memimpin sholat secara perdana di mushola sekolah.

"Allahuakbar...."

Di mulai pada hari ini Gus Fatih berjanji dalam hati akan membudayakan sholat berjamaah di sini, menghapus rasa sunyi di mushola ini dan menjadikannya tempat yang ramai oleh jamaah. Setidaknya dia harus memiliki manfaat saat bersekolah di sini.

Setelah menyelesaikan zikirnya, Gus Fatih terlihat mencari keberadaan Ridho karena memang sekarang tinggal dirinya yang berada di dalam mushola. Ternyata pemuda berambut ikal itu tengah duduk di teras mushola dengan pandangan menerawang.

"Woi ...." teriak Gus Fatih sambil menepuk pundak Ridho cukup keras. "Ngapain bengong di sini?"

Pemuda itu memegangi dadanya sambil memekik, "Anjir! Mau copot jantungku."

Gus Fatih tertawa keras sambil memakai sepatunya. "Uda yuk ke kantin. Aku yang traktir."

"Serius?" Mata Ridho tampak berbinar.

Assalamualaikum NailaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang