Jangan lupa vote ya teman-teman..
==*==
Ruang musik berada di lantai dua, tepat di sebelah perpustakaan. Ruangan tersebut sama luasnya dengan ruang kelas, hanya saja tak banyak meja kursi di sana. Lantainya beralaskan karpet karena memang setiap masuk semua orang harus melepas sepatunya. Di pojokan ada beberapa alat musik modern yang tertata rapi dan di sudut yang lain terdapat tumpukan rebana.
Gus Fatih dan Ridho masuk ke dalam ruang musik, begitupun dengan Naila yang sudah berada di sana lebih dulu. Mereka ikut bergabung bersama siswa lain yang ikut ekskul musik. Ekskul tersebut nanti akan di bagi lagi menjadi dua bagian, kelompok musik modern dan kelompok rebana. Jadwal ekskul mereka pun akan di bedakan harinya, begitu pun dengan guru pembimbing.
"Selamat siang anak-anak...." seru Pak Zuhri yang ternyata menjadi pembimbing mereka. "Sekarang kalian harus duduk dengan kelompok masing-masing. Yang memilih musik modern bergeser ke kanan dan yang ikut rebana di sebelah kiri."
Tak membutuhkan waktu lama untuk para siswa bergeser ke tempat masing-masing. Gus Fatih dan Ridho menjadi satu kelompok dengan dua puluh siswa lainnya, sedangkan Naila bergabung dengan group rebana yang berjumlah tak lebih dari sepuluh siswa.
"Maaf saya terlambat," sela seorang pria yang baru memasuki ruangan. Pria begaya casual itu langsung berdiri di hadapan kelompok musik modern. "Saya tahu kalian semua pasti kelompok musik modern, karena jumlah kalian pasti lebih banyak," ucapnya sambil melirik ke arah Pak Zuhri.
Pak Zuhri mendengus keras. "Gak usah sombong dulu, entar lama-lama juga satu per satu pada keluar."
"Ah kita fokus aja ya sekarang," ucap pria itu, mencoba mengalihkan perhatian para siswa dari ajang sindir menyindir. "Perkenalkan nama saya Lukman Syarif, kalian bisa memanggil saya pak Lukman.
Setelah acara perkenalan, mereka diberikan informasi tentang jadwal ekskul musik modern yang akan dilaksanakan setiap hari Rabu dan ekskul rebana setiap hari kamis. Dan setelah itu mereka dibubarkan untuk kembali mengikuti pelajaran di kelas masing-masing.
Naila sengaja mempercepat jalannya agar tidak berbarengan dengan Gus Fatih, entah kenapa dia merasa canggung sendiri. Setelah kejadian di kantin tadi, dia berusaha sebisa mungkin menghindari pemuda itu.
Kelas tampak ramai karena memang pelajaran selanjutnya adalah mata pelajaran Agama, sedangkan pak Zuhri tadi berada di ruang musik. Naila segera duduk di bangkunya dan mencoba menyibukkan diri dengan buku pelajaran, tujuannya tak lain agar tak diganggu oleh pemuda yang barusan duduk di bangku belakangnya.
"Assalamualaikum." Terdengar suara Pak Zuhri yang baru memasuki kelas. "Sekarang kita bahas bab pertama tentang mensyukuri nikmat Allah."
Naila terlihat membuka buku paketnya sesuai dengan yang diinstruksikan pak Zuhri. Dia memang selalu antusias dengan semua materi agama yang didengarnya, rasanya semua ajaran agama itu sangat bermanfaat untuk kehidupannya. Tapi tiba-tiba fokusnya terganggu oleh sebuah benda tumpul yang menusuk-nusuk punggungnya, ditambah bisikan lirih di belakangnya.
"Nai, pinjem bolpoint, aku luga gak bawa."
Tanpa menoleh, dia mengulurkan sebuah bolpoint hitam ke arah Gus Fatih.
"Makasih."
Gadis itu kembali fokus ke depan, mendengarkan setiap dalil yang dibacakan oleh pak Zuhri tentang cara mensyukuri nikmat Allah. Tapi lagi-lagi suara di belakangnya kembali mengganggu.
"Pinjem stipo, Nai."
Naila hanya mampu menghela nafas sambil mengulurkan stipo miliknya ke belakang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Assalamualaikum Naila
SpiritualSeason 1 Fatih Ar-Rasyid, seorang Gus dari sebuah Pondok Pesantren yang memilih melanjutkan SMA nya di sekolah umum. Di sana lah dia bertemu dengan Naila Sayyidah, gadis pendiam yang menumbuhkan cinta dalam hatinya. Cinta tersebut tersembunyi di bal...