"Lolipop?" aku memandangi lolipop yang Jisung sodorkan.
"Haha, ternyata kau tidak berubah sejak terakhir kita bertemu." aku terkekeh.
"Kau tidak mau? Ya sudah." Jisung acuh tak acuh menanggapi komentarku.
Aku meliriknya. Memandangi wajah kiyowonya yang ternyata sama sekali tak berubah sejak aku bertemu 5 tahun lalu. Bibir mungil dan mata sipitnya. Jujur saja aku merindukan itu.
Kau tahu? Awalnya kami hanya teman, namun semakin lama merambat menjadi sahabat. Dan hingga pada akhirnya aku harus pindah ke China. Saat itulah aku merasa terpukul harus berpisah dengan sahabat kiyowo ku ini. Untunglah, hingga saat ini ia masih meluangkan waktunya untuk membalas segala pesan tak jelas arahnya dariku. Dan tepat 2 tahun lalu, kami memutuskan menjadi LDR.
"Eehhmmm, Jisung?" aku memulai topik. Gugup.
"Ya?" tampaknya Jisung sama sekali tidak gugup. Ia masih sibuk menikmati manisnya lolipop warna-warni itu.
"Uuummm, tak apa."
"Kau ini kenapa? Kau bukan Nari yang kukenal."
"Eeerrhh, bukan itu."
"Nari, bunga lily ku. Kau gugup?" aku tersentak. Tangan panjang itu lembut mengelus daguku. Kemudian merambat ke pipi dan menjalar ke rambut coklat tuaku.
"Jisung~ah, kumohon hentikan ini. Ini tempat umum." aku meringis.
"Aaaaghhh, mengapa semakin lama kau semakin menggemaskan saja?" tangan Jisung kini merangkul pundakku.
Kau kira hanya aku saja, lihatlah dirimu, bayi!, aku kesal. Sepanjang usia remaja ku ini, tak ada yang berani memanggilku 'menggemaskan'.
Aku memutuskan diam saat tangan Jisung merangkul pundak ini. Sesungguhnya aku merindukan saat-saat seperti ini. Menikmati rangkulan hangatnya sembari melihat tenang ke arah Sungai Han yang menawan.
Wuushhhh...
Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambutku. Aku menyibaknya. Menatap Jisung yang kini lebih tinggi dariku.
"Ada apa?" oww, rupanya Jisung melirik ku dibalik pandangan lurusnya yang tertuju ke Sungai Han.
"Aku merindukan saat-saat ini, Jisung. Bersamamu bermain dan berlarian, bersepeda saat fajar menyapa. Andai waktu bisa terulang ya." aku menyenderkan kepalaku di pundak Jisung.
"Mengapa tidak? Kita bisa mem-flash back waktu."
"Kau bercanda?" aku terkekeh.
"Akan kutemui kau besok pukul 6 di homestay." Jisung bangun dari duduknya. Berhenti menikmati lolipop. Aku pun ikut bangun.
"Jisung~ah!"
"Sudah, diam bunga lily ku." astaga, dia mencubit pipiku. Aaggghh, sudahlah. Pipiku pasti memerah. Dan dia pergi begitu saja? Dasar, pria aneh.
______________________________________
Tunggu kelanjutannya di next capther yah. Pay pay 👋👋👋
*btw maap nih buat readers yang udh baca wp nya BebekChen yang berjudul "NCT Dream". Ternyata setelah aku baca salah satu chapter nya pemikiran kita sama. Sebelumnya chapter ini berjudul "Di Tepi Sungai Han* tetapi aku ngerasa kok kayak plagiat ya. Padahal sejujurnya aku gak plagiat. Dan aku gaada pemikiran buat ngelakuin itu. Jadi judul ini aku ganti jadi "Taman Terindah". Moon maap yak, tp aku jujur dari dalam hati yang paling dalam, aku gaada niatan plagiat. Ini adalah ketidaksengajaan.*
KAMU SEDANG MEMBACA
Random NCT Dream
Mizah"Receh? Sorry, sini punyanya rupiah"-Chenle Holkay (di iya-in ajah yah gaess :v) Berisi apa aja yang bahas tentang nct dream. Sorry gue ga pinter lawak, mungkin banyakan nge-gosip :v Manfaat work gak bermanfaat ini: -buat seneng-seneng -tempat gue...
