Lelaki dengan rambut hitam kecoklatan itu tengah duduk di dekat jendela kafe. Di luar hujan sedang turun. Jadi, daripada mendengarkan satu dua musik, lelaki yang biasa dipanggil Jaemin itu memutuskan diam menikmati bunyi rintik hujan bersama petir yang sesekali menyilaukan mata.
Hari sudah larut dan ia masih duduk di situ. Bukan tanpa alasan, daritadi Jaemin sedang menunggu seorang perempuan. Perempuan yang entah lupa atau pura-pura lupa dengan janji temunya dengan Jaemin. Perempuan yang sangat Jaemin rindukan kehangatannya, senyumnya, dan siapa yang bisa melupakan lesung pipinya?
Jaemin menghembuskan napas–lelah– ketika seorang pelayan wanita kafe menghampirinya.
"Maaf mas, toko ini akan tutup lima menit lagi. Anda bisa datang ke sini lagi besok," ujar pelayan yang sudah membawa serbet dan kemoceng di lengannya–bersiap membersihkan meja Jaemin.
Jaemin berdiri dengan malas. Tanpa berkata apa-apa ia pergi begitu saja.
Tadi ia ke sini memakai taksi. Jadi ia harus pulang memakai taksi juga. Masalahnya, di tengah hujan seperti ini taksi jarang lewat. Terlebih jam sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Kemungkinan mendapat taksi yang siap mengantar ia ke rumah sangatlah kecil.
Setelah dipikir-pikir, akhirnya Jaemin memutuskan untuk nekat menerobos hujan. Ia mengenakan tudung hoodie dan melepas sepatunya.
Sejenak Jaemin menatap jalan dari tepi kafe. Jalanan yang sepi dengan beberapa genangan air. Jalanan yang lembab sebab hujan tak jua berhenti.
Jaemin tersenyum pahit dan bergumam pelan, "Dia mengabaikanmu lagi, Jaemin."
Lelaki yang sudah kedinginan itu menghembuskan napas. "Tidak apa-apa, mungkin ia terlalu sibuk."
Dengan keyakinan di dirinya, Jaemin mulai berlari menerjang hujan. Semua itu jelas tak mudah. Pandangannya sesekali kabur karena derasnya rintik hujan. Kakinya agak sakit menginjak aspal yang tidak rata. Bisa jadi kakinya akan luka jika ia tak sengaja menginjak beling atau benda tajam sejenisnya. Bibir Jaemin mulai membiru. Badannya juga hampir basah kuyup.
Sebuah cahaya mobil membuat mata Jaemin silau. Mobil itu berhenti tepat di depannya. Mobil putih kecil yang sepertinya Jaemin kenal. Atau jangan-jangan itu mobil...
Benar saja. Seorang perempuan keluar dari mobil membawa sebuah payung. Perempuan dengan rambut lurus sebahu. Perempuan dengan lesung pipi. Dan ya, dialah seseorang yang Jaemin tunggu sedari-tadi.
Perempuan itu berlari ke arah Jaemin. Jaemin yang sudah kedinginan hanya bisa menatapnya dengan bibir gemetar. Ia tidak bisa mengatakan satu katapun.
"Maaf sudah membuatmu menunggu," ujar si perempuan kepada Jaemin.
"Aku tahu aku bodoh. Aku benar-benar lupa ada janji temu denganmu hari ini, aku terlalu sibuk mengurus skripsi," lanjutnya memberi alasan. Alasan dengan pola sama yang selalu ia ucapkan saat lupa dengan janji yang ia buat dengan Jaemin, atau tidak sengaja mengabaikan lelaki yang telah menjadi kekasihnya selama hampir setahun ini.
"Kita pulang saja ya, hari sudah larut. Kuantar kau pulang, oke?" tawar si perempuan.
"Minjee-ya, aku kedinginan," ucap Jaemin alih-alih mengiyakan tawaran si perempuan. Tubuhnya terlihat menggigil. Ia sungguh kedinginan sekarang.
Perempuan yang ternyata bernama Minjee itu buru-buru membawa Jaemin masuk ke dalam mobil. Minjee langsung memberi handuk dan selimut pada Jaemin yang sudah duduk di samping setir.
"Pakai sabuknya dan hangatkan dirimu, sayang," titah Minjee.
Jaemin menerima handuk dan selimut itu. Kemudian Minjee mulai mengendarai mobil. Mobil mulai berjalan perlahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Random NCT Dream
Humor"Receh? Sorry, sini punyanya rupiah"-Chenle Holkay (di iya-in ajah yah gaess :v) Berisi apa aja yang bahas tentang nct dream. Sorry gue ga pinter lawak, mungkin banyakan nge-gosip :v Manfaat work gak bermanfaat ini: -buat seneng-seneng -tempat gue...
