Kring... Kring...
Hah, itukah Jisung?
Aku bergegas ke bawah. Tapi tunggu, ada yang tertinggal. Ya, apalagi kalau bukan permen kapas yang sempat ia minta dariku semalam.
"Mau kemana kau, nak?" perempuan paruh baya itu bertanya padaku. Masih dengan noda khas dapur di tangan dan lengan bajunya.
"Jisung mengajakku pergi hari ini."
"Ahh, anak itu rupanya. Amma ingin bertemu kalau begitu."
"Amma tunggu saja disini, aku akan menyuruhnya ke atas. Kasihan Amma, lagipula Amma tak ingin masakan Amma gosong, kan?"
"Baiklah."
Dengan cekatan aku menuruni tangga homestay ini. Alasan mengapa aku tidak turun dengan lift saja, karena aku sendiri ingin berolahraga. Membuat otot-otot ku panas sebelum pergi dengan Jisung.
***
"Amma ingin bertemu denganmu." aku menyodorkan permen kapas pesanannya.
"Nanti saja, nanti lebih baik."
"Apa maksudmu?"
"Amma!!! Aku akan kembali beberapa menit lagi ya!! Tunggu aku!!!"
Aku tersentak. Dia berteriak untuk seorang yang berada di lantai 2. Tapi ternyata Amma yang kebetulan sedang berada di jendela mendengarnya.
"Kau gila! Ini tempat umum!" lengannya bergoyang saat aku mengguncangnya.
"Sudahlah diam. Sekarang ayo!"
Aku mulai berjalan. Sudah cukup jauh dan kurasa tak ada tanda-tanda Jisung mengikutiku dari belakang. Aku menoleh dan...
"Ayo! Kau sedang apa disana?" aku berteriak melihat Jisung yang hanya diam mematung di tempat awal kita bertemu.
"Apa aku menyuruhmu berjalan?!" ia membalasnya dari sana.
Apa maksud lelaki ini?
Jisung mendekat bersama sepeda dan permen kapasnya yang ia genggam sembari menyetir.
"Naik."
Aku menelan ludah. Naik? Bersama Jisung? Lihatlah! Bahkan sepedanya tak mempunyai tempat duduk dibelakang.
"Kau mau pergi tidak?" ia menatap datar padaku.
"Tapi tak ada tempat duduk untukku dibelakang."
"Apakah harus di belakang?"
"Maksudmu aku harus di depan? Di besi itu?"
Jisung mengangguk. Mataku melebar seketika. Takut terjatuh saja.
"Naiklah, Nari!"
Ya sudah lah, aku tak ada pilihan lain selain menaikinya.
"Apa kau yakin ini aman?"
"Kau meragukan keamanan dariku?"
Teruslah memaksa, bayi! aku kesal juga akhirnya. Baik, kiranya ini posisi amanku di besi sialan ini.
"Bawakan juga permen kapasku!"
Huuuhhh, tahan Nari. Ambil sisi positifnya saja. Anggap dia adalah bayi yang keinginannya harus terkabulkan.
______________________________________
Tunggu kelanjutan di next chapter ya. See you...
KAMU SEDANG MEMBACA
Random NCT Dream
Comédie"Receh? Sorry, sini punyanya rupiah"-Chenle Holkay (di iya-in ajah yah gaess :v) Berisi apa aja yang bahas tentang nct dream. Sorry gue ga pinter lawak, mungkin banyakan nge-gosip :v Manfaat work gak bermanfaat ini: -buat seneng-seneng -tempat gue...
