Part 1 - The Problem

272 31 0
                                    

Sebuah tanda tanya besar menutup pembicaraanku dengan paman Indra. Mungkin beliau mempunyai rahasia yang tidak dapat diceritakan, tetapi mungkin juga ia berusaha jujur namun sulit untuk membuka keseluruhan tabir.

Jika memang permasalahan yang menimpa perusahaan ada hubungannya dengan perusahaan yang dimiliki oleh Satria Pratama Group, sudah sepantasnya Rinjani Group menuntut lebih jauh pertanggung jawaban kepada pemiliknya. Namun paman Indra seperti menutupi sesuatu. Aku tahu beliau bukanlah orang jahat. Beliau sudah seperti ayah kandung bagiku, yang telah memberiku kasih sayang tanpa pamrih.

Aku harus mencari tahu lebih jauh soal masalah pelik ini. Masa depan perusahaan sedang dipertaruhkan. Aku akan berjuang dengan sangat keras untuk mempertahankan semua yang ada. Semua ini adalah peninggalan dan titipan dari Almarhum ayahku untuk dijaga dan dikembangkan dengan baik. Aku tidak ingin kehilangan segalanya begitu saja. Karena bukan hanya aku yang akan merugi, tetapi ada ribuan orang yang akan menderita jika Rinjani benar-benar berakhir.

"Apa paman tak ingin mempertimbangkan lagi untuk bertemu dengan Presiden Direktur Satria Pratama Group?" Suatu ketika aku mencoba untuk mengangkat topik itu lagi saat kulihat paman Indra tampak sangat tertekan dengan masalah yang menimpa Rinjani Group.

"Sudah aku katakan tidak, Kinara!" Suara tinggi paman Indra cukup mengejutkanku. Pamanku adalah seorang pria yang tidak suka mengumbar uratnya ketika berbicara, namun kali ini aku mencoba memaklumi situasinya jika dia bersikap seperti itu.

"Tapi semakin hari, Rinjani semakin terancam. Aku pikir tidak ada salahnya kita mencoba," hanya sebuah dengusan kesal yang kutangkap sebagai respon dari paman Indra. Kemudian ia masih saja diam dan berpikir keras. "Aku akan mencoba menemuinya atas nama pewaris Rinjani. Aku akan mencoba bernegosiasi,"

Penyampaian ide ini sudah kuputuskan setelah mengumpulkan keberanian dan berbagai pertimbangan. Kekacauan di perusahaan tidak lepas dari kesalahanku. Kalau saja strategi yang kubuat bersama tim perencanaan berjalan seperti yang diharapkan, maka Rinjani tidak akan mencapai kerugian besar seperti sekarang.

"Aku tidak ingin menjadikanmu umpan, Kinara. Dirgantara, pria itu adalah pria licik yang menggunakan kekuasaannya untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Aku yakin apa yang menimpa Rinjani pasti ada campur tangan darinya,"

Paman Indra seperti sudah memberi stempel "Manusia jahat" pada pemilik Satria Pratama Group tersebut. Menilai orang dengan begitu sarkartis sama sekali bukan tipe yang biasa ditunjukkan olehnya. Tapi, haruskah kita mempertahankan egoisme dan kekerasan hati saat kita berada di tepi jurang "kematian", sementara hanya ada satu orang yang jelas bisa menyelamatkan? Aku pikir tidak ada salahnya sesekali membuang itu semua demi mempertahankan kehidupan.

"Aku rasa tidak ada salahnya mencoba. Aku hanya memikirkan Rinjani dan masa depan ribuan para pekerja. Bukankah kita hanya punya satu bulan untuk memperbaiki Rinjani sebelum semua investor dan pemegang saham pergi meninggalkan kita?" Aku mengungkit semua alasan yang dapat memperkuat rayuanku pada paman Indra agar beliau memberiku izin untuk melakukan tindakan.

Paman Indra memejamkan mata beberapa saat. Aku pikir ini adalah keputusan yang sangat sulit baginya. Sebenarnya aku tidak ingin menekannya dan memberi sugesti bahwa aku akan baik-baik saja dengan ideku ini. Tapi aku hanya ingin berusaha, dan aku sangat mengetahui bahwa setiap usaha memiliki resiko tersendiri.

"Baiklah, terserah kau saja. Aku memang tidak bisa melarangmu karena kau mempunyai hak penuh untuk melakukan sesuatu sebagai salah seorang ahli waris. Tapi setelah kau bertemu dengannya nanti, aku harap kau bisa mengambil keputusan yang tepat."

Aku mengangguk dengan pasti dan tersenyum. Inilah saatnya aku melakukan sesuatu untuk menyelamatkan perusahaan milik keluargaku.

*****

UNEXPECTED LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang