Part 4 - The Crown Prince

170 29 0
                                    

Keberuntungan yang membawa kesialan. Tahukah kalian makna apa yang sebenarnya terkandung di balik kata-kata tak sinkron satu sama lain dan menduduki peran penting untuk pengertiannya? Baiklah, menurutku itu adalah sesuatu yang kau anggap menjadi hadiah yang menyenangkan saat kau mendapatkannya tetapi kesenangan itu hanya bersifat sesaat sebelum semua berbalik menjadi menyedihkan. Ambil saja kesimpulan bahwa keberuntungan tidak selalu diikuti oleh kebahagiaan, bisa saja yang datang malah bencana.

Seperti itulah aku mengambarkan sosok Dekananda. Kalau dikatakan beruntung, aku memang harus bersyukur karena Pak Dirgantara tidak berbohong soal anaknya yang tampan, sukses, kaya, dan tentunya idaman semua wanita bila melihat dari segi visual dan finansialnya. Padahal aku sudah mempermalukan diriku sendiri dengan mengatai bahwa anaknya mungkin saja seseorang yang tidak normal. Nah, aku berubah menjadi seseorang yang mendapat kesialan ketika Pak Dirgantara kembali tidak berbohong soal sifat anaknya yang 'unik' itu. Ya, anaknya yang memiliki sifat aroganisme yang sangat tinggi dan bermulut tajam serta memiliki segudang perbendaharaan kata-kata sarkatis yang dijadikannya senjata untuk menyerangmu kapan saja.

Tiba-tiba saja aku menjadi seseorang yang rutin untuk memantau tensi darahku setelah bertemu dengan pria bernama lengkap Dekananda Satria Pratama itu. Aku hanya takut tekanan darahku menjadi tinggi akibat dari kewajibanku untuk menahan kesal dan emosi di depan Deka.

Pada pertemuan pertama yang cukup memalukan di depan toilet, ia sukses menyelamatkanku dari tragedi mencium lantai karena kecerobohanku yang tidak sengaja menabrak tubuh kokohnya. Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya kecuali satu kata berbahasa Korea yang merupakan bahasa ibu pria itu, kemudian meninggalkanku tanpa kesan apapun.

Pertemuan kedua adalah ketika secara mengejutkan Pak Dirgantara memperkenalkanku padanya. Tanpa pemberitahuan secuilpun, pria paruh baya itu berhasil membuatku tampil canggung dan mengenaskan di hadapan Deka. Aku sudah seperti pajangan yang baru diantarkan dari pabrik untuk menjadi hiasan di ruang kerja berukuran jumbo itu, yang hanya dikagumi untuk sekali saja namun setelahnya dihiraukan begitu saja. Dan lagi-lagi ia berbicara padaku dengan sikap cueknya.

Untuk yang ketiga kalinya, hmm... kali ini dia mulai menunjukkan taring dan identitas aslinya sebagai seorang pria yang kusebut sebagai 'berotak encer namun berhati seperti es batu'. Deka tak lagi menutupi sikapnya yang tidak suka basa-basi tak penting. Dia menanyaiku soal motif menyetujui perjodohan yang diajukan oleh ayahnya. Aku sama sekali tak akan mengaku, karena ini baru awalnya. Aku baru saja bertemu dengannya dan ia bahkan belum sedikitpun memperlihatkan sisi manisnya terhadap seorang wanita.

Hari berikutnya, ketika aku kembali bekerja di kantor Satria Pratama, tidak heran ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dilemparkan kepadaku oleh para karyawan di sana. Mereka sukses membuatku risih, masih dengan tatapan sinis dan curiga.

"Heh, Kinara. Ada hubungan apa kau dengan putra Pak Dirgantara? Aku lihat dia sengaja menemuimu untuk berbicara berdua saja. Apa ada sesuatu yang special di antara kalian?"

Maya, salah seorang karyawati Satria Pratama yang cukup menerimaku dengan baik di kantor ini. Walaupun ia juga mempunyai sifat sangat ingin tahu yang tinggi termasuk untuk mengorek informasi pribadi orang lain, namun aku tahu ia bukanlah seorang penggosip murahan.

"Ah, itu. Bukan apa-apa. Hanya diskusi singkat soal pekerjaan," sedikit berdusta aku rasa tidak ada salahnya mengingat nasibku juga masih belum jelas soal hubungan dengan Deka. Aku tidak ingin mengumbar kenyataan palsu layaknya kampanye politik dengan mengatakan aku ini adalah calon istri dari Dekananda Satria Pratama, anak dari pemimpin tertinggi di perusahaan ini. Karena jika gagal, maka ini akan menjadi sangat memalukan.

"Tapi hampir semua orang di sini merasa aneh, kau ini karyawan baru dan kau terlihat sangat dekat dengan keluarga Satria Pratama. Atau mungkin kabar angin yang mengatakan bahwa putra Pak Dirgantara akan menikah itu benar, dan kau adalah wanita yang akan dinikahinya?"

UNEXPECTED LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang