Part 9 - Ex

229 27 10
                                    

Bagian manakah dari diriku yang paling terasa sakit sekarang?

Entahlah. Aku tidak tahu jawabannya. Mungkin karena aku tak merasa sakit hati atau memang rasa sakit itu seharusnya tak pernah ada dan tak semestinya aku rasakan. Seharusnya aku merasa hancur ketika dengan penuh percaya diri aku menanyakan kepada Erlangga perihal kemungkinan masih adanya celah bagi kami untuk bersama. Mungkin saja setitik rasa cinta dan saling memiliki bisa mengubah keadaan maupun masa depan bagi kami.

Tidak. Jawabannya tidak sama sekali.

Meskipun Erlangga mengatakan bahwa ia telah menghapus dan membunuh perasaannya terhadapku, atau katakanlah Erlangga berbohong dengan semua pernyataannya, aku tak merasa harus sakit hati.

Aku hanya kecewa. Semua yang ada antara aku dan Erlangga dulu sudah berakhir. Lantas, jika takdir memutuskan kami untuk tak bisa bersama harusnya tak usah lagi ada pertemuan di kemudian hari. Sekarang semua menjadi semakin rumit.

Erlangga, seorang pria yang merupakan mantan kekasihku kini beralih menjadi Erlangga seorang pria yang akan menjadi calon adik iparku. Dan Erlangga juga adalah seorang pria yang entah kenapa menjadi salah satu objek kebencian calon suamiku.

Lalu bagaimana aku harus menempatkan diriku? Menjadi seorang Kinara saat ini sepertinya adalah sebuah pilihan yang menjadi urutan terakhir bagi gadis-gadis di luar sana. Kinara yang sekarang ini memiliki masalah di berbagai sudut, mulai dari segi finansial perusahaan, perjanjian gelap dengan calon mertua, dan konfrontasi dengan calon suami. Super sekali masalahku.

Sekarang apa yang harus aku lakukan setelah tertangkap oleh Deka sedang berbicara empat mata dengan sangat serius bersama Erlangga di rumah keluarga Satria Pratama? Apakah Deka tadi sempat mendengar semua percakapanku dengan Erlangga?

Jika kau seseorang yang beru mengenalku, apakah kau langsung bisa menarik kesimpulan bahwa ada sesuatu yang terlihat berlebihan antara aku dan Erlangga?

Okay, ini hanya tebakanku saja. Deka tidak mendengar percakapan kami jika menilik dari jarak tubuhnya yang berdiri cukup jauh dariku dan Erlangga. Aku bahkan harus mencapai tempatnya kini berada dalam lebih dari kira-kira sepuluh langkah.

"Deka, kau ada di sini?" Aku menyapanya dengan kaku karena sedang membaca situasi. Siapa tahu ia akan marah setelah melihatku bersama Erlangga tadi.

Deka tersenyum singkat. Sangat singkat. Mungkin hanya satu detik. Tapi raut wajahnya sangat tenang, tidak ada kecurigaan maupun amarah.

"Tentu saja ini kan rumahku," jawabnya.

"Apakah ini kali pertama kau datang ke rumah keluarga Satria Pratama?" Tanyanya padaku kemudian. Aku mengangguk pelan tanpa suara. "Kelihatannya kau sudah diberi pelayanan yang baik oleh tuan rumah untuk berjalan-jalan melihat sekeliling rumah."

Apa yang dipikirkan orang ini? Reaksinya hanya seperti itu saja. Aku sempat berpikir kalau ia akan marah atau setidaknya menegurku yang mungkin saja dinilainya sudah lancang memasuki area milik keluarganya bersama seseorang yang tidak disukainya. Tetapi Deka hanya berkomentar sedikit sinis dengan keberadaanku di sini.

"Kak, kau datang. Sepertinya sudah lama sekali kau tidak pulang ke rumah ini. Semua orang merindukanmu..."

"Sudah kukatakan kalau ini adalah rumahku. Tidak ada seorangpun yang bisa mengatur kapan aku harus pulang." Deka seenaknya memotong perkataan Erlangga. Aku yakin Erlangga sudah mengumpulkan keberanian dan menguatkan hatinya untuk sekedar menyapa kakaknya itu. Aku merasa Deka benar-benar merupakan sosok saudara yang kejam.

"Dan satu lagi, kau bilang semua orang merindukanku? Tidak ada hal seperti itu di tempar ini, Erlangga. Tidak ada orang yang sungguh merindukanku, semuanya hanya sandiwara munafik yang sedikitpun tak membuatku tertarik."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 15, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

UNEXPECTED LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang