• Dodgeball

866 92 6
                                        

Setiap hari rabu pagi adalah jadwal olahraga kelasku. Kali ini Guru Hong membiarkan kami bermain dodgeball, di mana dalam permainan ini terdiri dari 2 tim atau lebih. Aku tentu saja mengikutsertakan diri dalam kelompok Sehun, meski dia seperti enggan memasukanku dalam kelompoknya.

Suara pluit bergema itu bertanda permainan dimulai. Kami saling melemparkan bola ke arah lawan. Sasaran dari lemparan bola adalah anggota tubuh kecuali wajah. Sorak riang berbaur dengan decitan sepatu yang beradu di lapangan basket ini. Awalnya aku menikmati, sampai dari arah depan aku melihat bola mengarah ke arah Sehun yang sedang tak fokus. Aku lantas berlari dan berusaha menutupi Sehun dengan tubuhku yang lebih pendek darinya. Apa aku menyelamatkannya?

'Awasss, Boo...'

Dukk

Kurasa aku menyelamatkannya. Karena bola yang sebenarnya lumayan ringan itu berhasil mengenai hidungku dengan cukup keras. Tubuhku ambruk meski tidak benar-benar sampai pingsan. Teman-teman yang lain langsung mengerubungiku. Mereka yang benar-benar peduli segera menanyai keadaanku. "Kau baik-baik saja?"

"Kau harus cepat dibawa ke ruang kesehatan."

"Ayo, aku bantu bangun."

Telingaku tiba-tiba saja berdenging. Dan kepalaku rasanya berputar hingga membuat mataku berkunang-kunang. Ada apa ini?

"Boo Nami!"

"Kau dengar aku?"

"Boo Nami, sadarlah!"

Guncangan yang begitu kuat pada bahuku, membuatku merasa kebingungan. Aku tak sadar jika Sehun berlutut menyajajarkan tubuhnya denganku. "Kau baik-baik saja?" tanyanya.

"Untunglah, kau tidak apa-apa," jawabku yang membuatnya malah memejamkan mata dan mengigit bibir. Aku mencoba tertawa. "Aku baik-baik saja."

"Ya! Ya! Boo Nami. Apanya yang baik-baik saja? Hidungmu mengeluarkan darah, bodoh. Cepat kita ke ruang kesehatan!" Dengan tubuh kecilnya, Yein membantuku berdiri dan menuntunku meninggalkan lapangan.

Aku menoleh ke belakang dan menemukan Sehun masih berada di tempatnya. "Aku baik-baik saja, Oh Sehun. Kau tidak perlu khawatir!" teriakku tanpa tahu malu di depan teman-temanku yang lain.

"Aishh, Budak cinta ini!" Yein menggiringku dengan segera.

Hari ini hanya pelajaran terakhir yang aku ikuti, karena sisanya aku benar-benar menghabiskan waktuku di ruang kesehatan. Salahkan Yein yang melarangku ke mana-mana. "Gara-garamu aku tidak bisa mengikuti kuis tadi. Bagaimana nilaiku nanti? Kau harus bertanggung jawab!"

Yein memutar bola matanya. "Ada susulan, jangan jadikan itu alasan. Lagipula, akan ada kuis atau tidak kau tetap tidak belajar. Jadi anggap saja, itu keuntunganmu agar bisa belajar dulu sebelum kuis nanti."

Drrtt.

Drrtt.

Aku berhenti berjalan dan memeriksa langsung ponselku yang bergetar. "Pacar Kakak?" Aku segera mengangkatnya mengetahui kontak tersebut yang menghubungi.

"Hai, Kak. Ada apa?"

Kau sudah pulang?

"Emm. Apa Kak Byun datang untuk menjemput?" gurauku sambil berjalan kembali.

Wah, bagaimana kau tahu?

"Jadi benar?" Aku sungguh asal tebak sebelumnya.

Iya, Cantik. Jadi cepat keluar, aku akan menunggumu di depan gerbang, Oke?

"Oke." Aku menyudahi panggilannya dan bergegas menuruni tangga. "Ya! Jung Yein! Kenapa kau sering meninggalkanku!"

Drrtt.

Drrtt.

Apa Baekhyun tak sabar menungguku? Lantas aku kembali mengecek ponselku. Setelah tahu Yein yang menelepon, aku segera mengangkatnya. "Kenapa---?"

Aku hanya ingin mengingatkan jika hidungmu masih disumpal kapas. Aku tutup.

Tuttuttut.

Aku berdecih namun juga tersenyum. "Untung kau memberitahu."



🔜



Me after You - [Sehun]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang