Ah, main ujan-ujanan adalah.. Suatu aktivitas yang sungguh indah. Aktivitas yang sangat indah yang membuat seseorang merasa masih anak-anak. Aktivitas yang membuat kita bernostalgia..
Iyasih, awalnya enak. Tapi kalo akhir-akhirnya sakit, itu namanya nyesek.
Yap, kemaren gue ujan-ujanan sampe 2 jam, dan sekarang gue kena flu.
Karena nyokap maksa, apa boleh buat, gue harus sekolah.
Sekarang situasinya begini, gue berdiri di depan gerbang sekolah, nyokap udah balik lagi ke rumah. Gabisa. Gue gabisa mundur lagi.
Oke, telen ludah. Maju selangkah.. Oke gue di sekolah. Sekarang tinggal berjuang masuk ke kelas ngelewatin lapangan yang penuh karena anak basket pada main-main.
"DIANDRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!! DEE!! DEE!!!!!!!!"
Astaga. Teriakan setan.
Gue nengok ke belakang dan gue lihat sesosok orang dengan rambut panjang digerai dan kaos kaki yang melanggar aturan sekolah, yap, dia pake kaos kaki pink, rambutnya dijepit warna pink dan lehernya berkalung. Satu-satunya di dunia, Drama Queen, Barbie Wannabe, Chika.
Walau gue udah tau dia bakal ngelakuin ini, tapi gue tetep kaget saat dia meluk gue.
"Ch-Chi-Ch-Chika.. G-gue gabisa n-napas.", kata gue dengan penuh perjuangan mencoba bernafas normal walau paru-paru gue diteken sama manusia gila.
"HIHIHI.. Loh.. Kok lo pucet Di?", tanya Chika sambil perlahan ngelepas pelukannya.
"Satu,", jeda batuk, "mungkin efek lu meluk gue.", tarik nafas, "Dua, gue sakit.".
"Hmm.. Kayaknya itu hanya karena sakit, karena bukannya kalo lo gabisa nafas mustinya muka lo jadi merah ya?".
"Engh.. Gak tau dan gak peduli.", gue hela nafas, "Ayo ke kelas aja yuk.", kata gue.
Itu barusan adalah Chika, sahabat gue sejak kelas 7. Entah bagaimana gue bisa jadi temen dia..
Dia make parfum bermerek, gue pake parfum anak-anak, itu juga karena dipaksa nyokap. Dia apa-apa pink, gue anti pink. Dia nontonin film-film serial drama, gue nonton anime dan kartun. Dia ultra feminim, gue tomboy.
Ah, jadi kangen kelas 7 wkwk..
Gue dan Chika dihukum karena pelanggaran seragam. Pak Candra, guru BK kelas 7-7 negor gue dan Chika tanpa segan-segannya.
"Kalian memang tidak membaca peraturan sekolah nomor 14?!", bentak dia.
"Nggak.", jawab gue dan Chika kompak.
Gue dan Chika saling tengok-tengokan karena kekompakan tadi.
"Kalian ini..", lanjut Pak Candra pake ekspresi kesel, "Diandra Devon Aoi! Memakai gelang lebih dari satu, baju dalam kemeja berlengan lebih panjang dari kemeja, membuka kancing baju lebih dari 1 dan menggunakan topi selain dari seragam itu melanggar peraturan sekolah! Dan mengapa rok seragammu robek?!
"Lalu kamu juga, Chika Lestari! Di sekolah dilarang menggunakan perhiasan berlebihan, baju dalam dengan warna mencolok, menggerai rambut, menggunakan kaus kaki selain putih dan sepatu selain hitam!
"Apa kalian mengabaikan peraturan sekolah?!", bentak Pak Candra.
Pak Candra terlalu serius negorin gue dan Chika sampe dia gak sadar kalo gue dan Chika dari tadi main-main.
"Satu!", kata Chika sambil ngangkat satu jempolnya.
Tapi dia gagal, karena gue ngangkat kedua jempol gue.
"HEY KALIAN! DENGARKAN SAYA!", teriak Pak Candra dengan keras sambil gerakin kepalanya ke depan.
Mungkin karena efek kecepatan dan ketiba-tibaannya, wig Pak Candra copot.
Disitu gue dan Chika ketawa terbahak-bahak.
Mungkin itu alesan kenapa kita temenan. Yap, gue dan Chika emang cocok temenan.
Pas saat di depan kelas gue nengok ke Chika dan gue liat ekspresi mukanya kaget dan panik.
Tiba-tiba dia nengok ke gue dan bilang dengan perlahan, "Dee..".
Gue jawab perlahan juga, "Kenapa..?".
"Lo udah ngerjain PR Seni Budaya?".
6 kata.
Enam kata.
Enam kata dan sekujur tubuh gue keringet dingin. Astaga. PR senbud.
Seakan dari firasat gue, gue yakin kalo ekspresi gue udah mirip dengan ekspresi yang ada di anime. Mata gue putih, bagian sekitar mata gelap dan ada garis-garisnya.
"KRIIIIIIIIIINGGGG!"
Plus bell pertama bunyi.
Seni Budaya pelajaran pertama.
Pak Ridwan guru killer.
Bener-bener gak lucu.
-
Bayangkan suasana gue sekarang ini. Telapak tangan basah keringet dingin, muka udah pucet karena sakit, tambah pucet karena takut.
Setiap bunyi di aula terdengar sama kuping gue. Pak Ridwan plis jangan masuk. Pak.. Absen dong absen. GUE MOHOOOOOONNN....
FAKTA DIMANA SENI BUDAYA ITU PELAJARANNYA ADA DI AULA ITU GAK MEMBANTU KARENA LU BENER-BENER GABISA DIEM-DIEM NGERJAIN TUGAS KARENA LU CUMA BOLEH BAWA TUGAS LO DAN PULPEN, BUKU TULIS, TAS, DLL ITU DITINGGAL KELAS SEMUA.
Tamatlah riwayatku..
"Pagi, anak-anak.".
KAMU SEDANG MEMBACA
Gue #JoPi
HumorNyeritain tentang Diandra, si 'jopi' yang emang selalu hepi. ..Tapi apa iya? "Apapun yang terjadi, gue bakal tetep jadi Jomblo Hepi." -Dee
