[DELAPAN] Kurang Lebih

82 4 2
                                        

Semenjak gue les privat matematika, nilai gue kurang lebih membaik. Yeah, setidaknya satu hal berjalan baik.

Tapi, ada hal-hal lain yang gue rasa, gimana yak, belibet mungkin? Mungkin emang karena gue ga biasa sama yang namanya les dan ngatur waktu.

Jadi ada tiga fokus utama buat gue saat ini (mengesampingkan ibadah, ya, tapi jangan salah, ibadah emang paling penting, kok). Belajar, bersosialisasi, dan istirahat.

Kalo gue banyak belajar dan bersosialisasi, gue kurang tidur. Kalo gue banyak belajar dan tidur cukup, gue jadi kurang gaul. Kalo gue banyak tidur dan banyak bersosialisasi, gue tolol, dong. Ogah, nyokap bisa rewel kalo kayak gitu.

2 minggu yang lalu, gue mencoba hajar aktivitas dan ngurangin jam tidur. Mungkin aja gitu, gua masuk itungan jadi 'anak rajin yang ga kuper dan ga kebo', tapi yang ada gue malah ngantuk setiap saat dan sering ketiduran di kelas.

Minggu berikutnya, gue ngurangin jam belajar gue. Awalnya, semua kayaknya lancar-lancar aja, eh akhirnya nyokap notice juga kalo gue malah sering main-main abis itu langsung tidur. Endingnya? Ceramahan non-stop edition.

Nah, akhirnya gue bereksperimen lagi, kali ini yang gue kurangin adalah waktu 'bersosialisasi' gue.

Akhir-akhir ini gue jadi jarang main bareng temen-temen. Gue jadi sering nolak ajakan jalan-jalan dan main. Gue rasa sampe saat ini belom ada yang nyadar, kalo ga mereka belom berani bicara atau opsi ketiga, temen-temen gue ga peduli (sakidh, mz).

Yah, mau gimana lagi, kan? Daripada daripada (gila, gue ngomong make bahasa nyokap bangett).

"Diandra. Kayaknya kita musti bicara.", tiba-tiba ada suatu suara yang memecahkan kesunyian (sunyi apanya, ye) pikiran gue.

Gue langsung ngehentiin aktivitas gue (masukin buku dan alat tulis ke tas) dan nengok ke belakang.

Di belakang gue muncul 3 makhluk.

Chika, yang gue yakin udah kalian kenal, Rega, anak paling ga modal se-Jakarta, dan Bram, drummer pro dari band abal (Iya, gue tahu. Kasian, ya? Talentanya terbuang).

Yang barusan mecahin keheningan kedamaian dan kesunyian (widih, lebay!) pikiran gue adalah Bram.

"Apaan?", kata gue dengan sedikit gugup.

WOY, JUJUR AJA YA, GUA PALING GUGUP KALO ADA ORANG YANG BILANG 'KITA MUSTI BICARA'. BAGI GUE, KATA-KATA BARUSAN ADALAH SEBUAH ANCAMAN YANG SANGADH MENGERIKAN!

Perlu diketahui, sangadh itu lebih daripada sangat.

"Kenapa sekarang lo ngejauhin kita-kita, sih?", tanya Chika sambil masang tampang bersalah.

"KITA ADA SALAH YA SAMA ELO?", sahut Chika, Bram, dan Rega sambil masang tampang bersalah.

"Astagaaa, ga ada, kokkk, ga ada!", kata gue sambil melayang-layangkan kedua telapak tangan gue seolah-olah nenangin mereka.

"BoHoNg!", kata Rega sambil masang muka asem dan ngasih penekanan di huruf-huruf B-H-N.

"Udahlah, Dee, lu jujur aja ama kita-kita. Jangan gitu, Dee, sebagai sahabat harus saling terbuka.", kata Bram dengan tampang sok bijaknya.

Gue cuma bisa nepok telapak tangan ke muka dan ngeluarin suara-suara ga jelas yang kurang lebih kalo ditulis kayak begini, 'HRRRAHHHHGHRRH'.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 15, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Gue #JoPiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang