[07] GADIS PEMBERI LE MINERAL

1.2K 115 8
                                        

"Tidak semua yang kita inginkan harus terjadi seketika. Kita tidak hidup di dunia dongeng."

Seorang gadis bersurai panjang tengah menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya sendu. Ada rasa kekecewaan yang teramat besar yang menyelimuti dirinya. Membuat hatinya sesak. Mengapa ...? Mengapa orang yang dia suka justru seakan-akan tak menginginkan dirinya? Dan mengapa orangnya harus dia?

"Mengapa lo nggak balas perasaan gue, Delon? Mengapa?!" teriaknya pada cermin yang bisa mengerti perasaannya. Bukankah cermin sama sekali tidak berdusta? Jika kita tertawa, maka cermin itu pun tertawa. Dan juga sebaliknya.

Tangan gadis itu terulur menyentuh dada bagian kiri. Sungguh. Rasanya sakit dan sesak layaknya tersayat ribuan pisau tajam.

Gadis itu kembali menatap cermin.

"Kalau gue nggak bisa memiliki lo, maka orang lain pun nggak berhak buat memiliki lo."

***

Vany dan Aura tertawa menuju kantin, mengingat aksi konyol yang mereka lakukan selama dilanda stres mengerjakan lima belas soal Kimia yang begitu menguras otak.

Tanpa mereka sadari, Delon tengah diam-diam membuntuti mereka dari belakang. Dan dengan senyum menyeringai, Delon sengaja menepuk bahu keduanya serentak, membuat Aura dan Vany terlonjak kaget.

"Kantin, kan?" Dengan wajah tanpa dosa dan menahan tawa,  Delon bertanya dengan entengnya.

"Iya!" Delon mengusap dadanya kaget, teriakan Aura dan Vany yang sedikit cempreng menggelegar di indra pendengarannya.

Aura dan Vany menatap masam, berjalan mendahului Delon.

"Pak Broto, baksonya tiga, ya!" Pak Broto yang sedang menuangkan kuah ke dalam mangkuk mendongak, menatap pada seorang lelaki pemilik gelar the most wanted boy.

"Siap!" Pak Broto dengan cekatan menyiapkan tiga porsi bakso, meletakannya di meja. Ketiganya serentak mengambil baksonya masing-masing, melahap baksonya dengan nikmat. Apa lagi, kuah baksonya yang hangat mampu menjernihkan kembali pikirannya.

Delon adalah orang yang paling cepat memakan baksonya dibandingkan dengan kedua temannya yang sedikit lelet.

"Argh! Curang lo! Itu bakso gue!" Vany berteriak tak terima, kini baksonya berkurang satu akibat Delon yang mengambilnya tanpa izin.

Aura menggantung garpunya di udara, melongo menatap Delon yang dengan sengaja menusuk bakso dari mangkuknya. Aura berdecak, sepertinya Delon kelaparan tingkat akut.

"Gue boleh gabung nggak?" Ketiganya sontak mendongak, menatap gadis yang sedikit asing di sekolahnya mendekat.

"Duduk aja," sahut Delon kembali menusukan garpunya pada bakso milik Aura. Gadis itu tersenyum, dengan cepat mendudukan tubuhnya di samping Delon.

Aura menghembuskan napas. Bukankah gadis itu adalah gadis yang sama saat memberikan Le Mineral tempo lalu? Dan juga gadis yang sama saat menabraknya di koridor?

"Uhm ... kalian nggak suka, ya, gue ada di sini?" Gadis itu menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga. Menatap kikuk.

"Iya. Agak gim--Argh!" Aura sontak menginjak kaki Vany dan menatap tajam ke arahnya. Vany mencebik, memilih melahap baksonya kembali.

WITH YOU | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang