Mungkin bagi sebagian orang, Delon adalah lelaki tampan yang tersemat gelar the most wonted boy lalu dikagumi dan dipuja karena ketampanannya. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Vanesa. Siapa sangka? Vanesa justru menganggap Delon pujaan hatinya dan menganggap Delon lebih dari sekadar teman. Dan hal itu masih berlaku hingga kini. Walau cintanya tak terbalaskan. Bukan. Bukan tak terbalaskan, tetapi belum terbalaskan.
Vanesa mungkin akan menghalalkan cara apa pun agar dapat menarik perhatian sang pujaan hati. Merayunya agar dapat dimiliki. Contohnya simple, pagi ini Vanesa telah menyelesaikan membuat sandwich cokelat dan nasi goreng seafood kesukaan Delon.
Vanesa tersenyum, dirinya adalah teman Delon hingga sekarang. Dan sudah bertahun-tahun pula dirinya mengenal Delon. Nasi goreng seafood adalah salah satu makanan yang paling disukai Delon. Bahkan Delon sendiri tak segan untuk menambahnya lagi.
Apa salah satu kalian pernah mengira? Bahwa Delon yang terkenal dengan sifat menyebalkannya, dulunya adalah seorang lelaki badboy yang diidamkan banyak kaum hawa layaknya kisah dalam novel. Delon yang sekarang sungguh berbanding terbalik dengan Delon di masa lalu. Delon yang mempunyai postur tinggi tegap dan jago berkelahi sejatinya dia peroleh sejak tergabung dalam salah satu geng terkenal di Bandung, Geng Trivo. Hm, berbicara soal Bandung. Delon ini bukan Dilan yang jago melontarkan kalimat manis untuk Mileanya.
Vanesa sedikit merengut di sepanjang koridor, teringat dirinya dulu mati-matian memaksa Delon untuk tetap tinggal di Bandung. Bahkan Vanesa juga sudah beberapa kali menyatakan cintanya untuk Delon. Berharap dengan itulah, Delon tetap tinggal, tetapi takdir berkata lain. Keluarga Delon tetap memutuskan untuk pindah ke Jakarta.
Setelah Delon pergi, dunia Vanesa seperti kelabu. Suram. Dan juga hampa. Tidak ada lagi senyum yang selalu menghiasi hari-harinya. Tidak ada lagi dirinya yang selalu mengobati luka-luka Delon setelah tawuran. Semuanya benar-benar berubah.
Di tahun ajaran baru, Vanesa memutuskan pindah ke Jakarta.
Tak henti-hentinya dia tersenyum sepanjang perjalanan, memulai kebersamaan itu dari awal. Tapi semua itu hanya sekadar harapan yang sia-sia. Tidak seindah yang dibayangkan.
"Delon!" seru Vanesa ketika melihat punggung tegap milik Delon. Cowok itu berbalik sembari menaikan posisi ransel yang tersampir di bahu kirinya. Vanesa tersenyum, dengan segera berlari kecil menghampiri sang pujaan hati.
"Gue bawain bekal buat lo. Pasti lo akan very like ketika memakannya." Vanesa kembali tersenyum, membongkar isi ransel dan mengambil dua kotak bekal.
"Ini!" Vanesa menyodorkan dua kotak bekal sekaligus. Delon masih diam, menatap sodoran tersebut.
"Hm? Gue bisa beli di kantin." Ah, Vanesa merosotkan bahunya kecewa.
"Uhm ... yaudah, deh, lo pilih salah satu. Mau nasi goreng seafood atau sandwich-nya?" Gadis itu masih tetap bersikeras membujuk Delon. Hanya satu kali penolakan, tentu saja tidak membuatnya menyerah begitu saja. Delon mengembuskan napasnya kasar, menatap Vanesa sejenak lantas mengambil salah satu bekal.
"Nggak pilih nasi gorengnya aja, Delon?" heran Vanesa ketika Delon justru menjatuhkan pilihan pada kotak bekal berisikan sandwich cokelat.
"Bosan." Delon kembali menaikan ranselnya ketika sedikit merosot ke lengan, menatap Vanesa yang memasang tampang bingung. "Thanks."
Vanesa mencebik, menatap kotak bekal berisikan nasi goreng seafood buatannya. Dia membuka tutupnya lantas memakannya dengan kasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
WITH YOU | END
Fiksi Remaja[NEW VERSION || COMPLETED] [SCHOOL | FRIENDZONE] Rate: (13+) Kepada kamu. Seseorang yang berhasil membuatku jatuh terlalu dalam. Menyisakan ruang sesak yang perlahan menggerogoti jiwa dan raga. Bagaimana aku sebodoh itu? Mencintaimu yang justru sika...
