[21] ALBARA DAN AURA

751 48 5
                                        

Dengan memakai celana jeans hitam panjang kaos oblong berwarna putih, Delon menyusuri koridor kelas IPS yang ramai oleh lalu-lalang siswa. Banyak pasang mata yang memberikan tatapan menggoda, tetapi Delon tetaplah acuh dengan memasang wajah datar.

Sesampainya di kelas XI IPS 1, Delon langsung masuk tanpa permisi dan menarik Vanesa dengan kasar. "Delon, pelan-pelan nariknya!" gerutu Vanesa kesal, tapi tetap tak dihiraukan oleh Delon. Ia terus menariknya menuju gedung belakang sekolah yang sepi.

"Di mana lo sembunyikan Aura?!" Vanesa meringis saat punggungnya membentur tembok dengan keras. Ia mendongak yang langsung disuguhi kilatan amarah oleh lawan bicara.

"Apa maksudnya? Gue gak tahu apa-apa, Delon." Delon mendekat satu langkah, menyusuri kebohongan di mata Vanesa. Saat mendengar Aura dan Bara hilang, Delon kacau. Ia seperti kehilangan arah, berjalan ke sana-kemari seperti orang linglung.

"G-gue gak tahu apa-apa soal Aura," ulang Vanesa kembali sembari menelan salivanya dengan susah payah. Delon semakin memperkikis jarak, mengurung Vanesa dengan kedua lengan kekarnya yang menempel ke tembok. Ia merendahkan kepalanya membuat Vanesa gugup seketika.

Delon tersenyum tipis. "Gak usah munafik dengan menunjukan tampang polos lo yang terlihat menjijikkan di mata gue!" Vanesa spontan menganga tak percaya, tadinya ia pikir Delon akan melontarkan kalimat manis kepadanya.

"Delon, jangan kasar!"

"Kenapa? Bukannya dari dulu gue emang orang yang kasar? Dan gak punya hati?!" Napas Vanesa sedikit memburu, matanya berkaca-kaca.

"Iya, lo emang orang yang kasar, tapi kenapa hal itu sama sekali gak berlaku untuk Aura Zayana Putri? Kenapa? Itu gak adil, Delon!"

"Karena dia berbeda!" sergah Delon cepat. Kilatan amarah semakin tersorot jelas di matanya, membuat Vanesa merasakan sakit di hatinya. Perlahan, air mata lolos membasahi pipi Vanesa.

"Apa bedanya? Gue dan dia gak kalah cantiknya, 'kan? Kenapa?"

"Diam! Bukannya gue jadi orang yang kasar padanya atas ulah lo? Dan jangan harap bahwa gue akan berpaling untuk lo!" Nada bicara Delon naik satu oktaf, napasnya memburu. Ia menjauhkan tubuhnya dari Vanesa, menatap gadis itu dengan tatapan kecewa. Lantas tanpa aba-aba, Delon melayangkan pukulan keras pada tembok membuat Vanesa menjerit kaget.

"Gue cinta sama lo, Delon!" teriak Vanesa ketika Delon menjauh pergi. Langkah Delon sontak terhenti, terdiam beberapa saat kemudian memasukkan sebelah tangannya ke saku celana.

"Dan gue gak pernah cinta sama lo, Vanesa."

***

Saat cahaya matahari semakin terang menerobos masuk melalui celah ventilasi udara, Aura berusaha melepaskan ikatan tali yang melilit tangannya. Sayangnya, sudah berkali-kali Aura mencobanya, tetapi tetap saja gagal.

"Kak Bara ...," panggil Aura berusaha membangunkan Bara yang masih pingsan sejak semalam. Posisinya dengan Bara tidak saling berhadapan sehingga membuat gadis itu sulit memastikan keadaaan Bara. Aura melirik ke belakang, jemari tangannya dengan jahil menggelitiki punggung tangan Bara, berharap cowok itu cepat sadar.

"Kak Bara ...," panggil Aura untuk kedua kalinya. Bara tetaplah diam membuat Aura berdecak kesal. Setelah beberapa detik hanya termenung, Aura memutuskan untuk mencubit punggung tangan cowok itu hingga terdengar pekikan kaget.

WITH YOU | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang