[17] MEMINTA PENJELASAN

863 52 1
                                        

"Seberapa pun usaha yang kamu lakukan untuk buat aku benci sama kamu, kamu gak akan berhasil, Delon."

Aura melirik jam tangan yang terpasang apik di lengan kirinya. Pukul 15.30. Aura menghela napas kasar, seharusnya ia sudah pulang ke rumah sejak tiga puluh menit yang lalu. Tetapi, dirinya malah terjebak hujan deras dan tak ada satu pun angkutan umum yang lewat. Andai saja dirinya lebih awal menghubungi mamanya untuk menjemputnya pulang, mungkin takkan seperti ini. Nasib, ponselnya kehabisan daya.

Aura beranjak ke tepi halte, menengadahkan tangan untuk menangkap bulir-bulir air hujan.

"Argh!" Aura sedikit membuka mulutnya karena terkejut, ia menatap dirinya yang sudah basah kuyup oleh hujan. Sial! Siapa yang berani mendorongnya ke tepi jalanan?

"Kamu! Dasar orang tak ta--" Jari telunjuk Aura mengambang di udara, mulutnya yang akan berceloteh panjang-lebar seketika terdiam. Ia mengerjap polos, bibirnya seketika memanyun sebal.

"Ish, Delon!" Ya, siapa lagi jika bukan Delon Raditya Putra. Cowok itu berdiri di tepi halte sembari menampilkan senyum smirk.

"Bagaimana? Seru bermain hujan?" Aura menggeram kesal, dengan segera melayangkan pukulannya pada bahu Delon dengan cukup keras.

"Seru apanya? Seragam Aura basah, Delon!" Delon dengan sigap menangkap kedua tangan Aura yang akan melayangkan pukulan ketiganya. Delon menunduk, menyamakan posisi tubuhnya dengan Aura--membuat bulir-bulir air hujan mengenai ujung rambutnya.

Aura menelan salivanya kasar, matanya sama sekali tak berkedip untuk menatap Delon yang dua kali lipat lebih tampan dari biasanya. "Gua cuma suka liat lo menderita!" ucap Delon lantang. Setelah itu, Delon memutuskan duduk di bangku halte sembari menyugar rambutnya yang basah.

Aura menggigit bibir bawahnya, ikut beranjak duduk di bangku dengan jarak satu meter. Aura menatap jalanan kosong, hujan masih turun dengan deras. Aura beralih melirik Delon. Aneh, kenapa cowok menyebalkan itu belum pulang? Padahal tidak ada jadwal latihan basket hari ini.

Delon terlihat mengeluarkan roti lapis dari ranselnya, ia langsung memakannya dengan lahap. Aura yang melihatnya hanya bisa menahan lapar sembari memeluk tubuhnya yang kedinginan. Detik sudah berlalu menjadi menit, tapi tak ada satu pun tanda-tanda Delon akan mendekat dan membagi roti lapisnya.

"Minum!" Baru saja Aura menghela napas pasrah, sebuah tangan kekar menyodorkan secangkir cokelat panas ke hadapannya. Aura mendongak, terlihat Delon dengan wajah datarnya. Aura tak tahu sejak kapan Delon beranjak dari halte dan memesan secangkir cokelat panas dari kedai yang terletak tak agak jauh dari halte. Aura ingin sekali menolak, tapi tubuhnya seakan mendorongnya untuk menerimanya.

"M-makasih." Delon tidak menjawab, ia justru mendudukan tubuhnya di samping Aura. Gerakan meminum Aura sontak terhenti ketika Delon memakaikannya jaket boomber miliknya. Aura mengukir senyum tipis, menatap wajah Delon dalam diam.

Aura merindukan Delonnya.

"Seberapa pun usaha yang kamu lakukan untuk buat aku benci sama kamu, kamu gak akan berhasil, Delon." Aura bergumam dalam hati, terus menatap wajah datar itu dalam diam. Aura kembali tersenyum, memundurkan tubuhnya lantas menyandarkan kepalanya pada bahu Delon.

"Aura ngantuk," jelas Aura yang sontak menghentikan pergerakan Delon yang akan menjauh. Aura memejamkan mata, merasakan dinginnya angin yang berhembus.

WITH YOU | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang