Aura bersungut-sungut meraih ponselnya yang berdering di atas nakas. Ada sebuah notifikasi chat masuk dari Vany. Aura dengan segera mengusap layar ponselnya, membuka chat.
Miss Kepo
Astaghfirullah, Kebo! Jangan lupa ada tugas Bahasa Inggris yang harus dikumpulkan besok. Mampus lo besok disidang Bu Eni kalau nggak ngerjain😚
Aura menepuk dahinya. Bagaimana bisa ia lupa dengan tugas minggu lalu? Astaga! Aura saja belum mengerjakan satu soal pun. Dia bergegas menuju meja belajar, tetapi buku tugas Bahasa Inggrisnya tak kunjung ditemukan.
Aish! Menyebalkan. Aura balik kanan, meraih ransel dan mengobrak-abrik isinya. Siluet cahaya kebiruan tersorot terkena lampu kamar, Aura segera mengambilnya. Buku tugas Bahasa Inggris bersampul birunya ternyata berada di ranselnya.
Aura berhembus lega, kembali balik kanan menduduki kursi belajarnya. Ada sepuluh soal essay yang harus dikerjakannya. Aura mendengkus, jari jemarinya lincah menari di atas buku, sesekali membuka aplikasi Google Translate untuk menerjemahkan kata yang tidak ia mengerti artinya.
Aura menguap, masih ada tiga soal lagi yang harus dikerjakannya.
"Patiently Aura. Finished soon!" Aura sekarang sok-sokan menyemangati dirinya menggunakan Bahasa Inggris. Entahlah, semakin malam membuatnya semakin gila.
Tepat jam sepuluh malam, Aura berhasil menyelesaikan semua soalnya. Dia langsung saja merebahkan kepalanya di meja belajar, kembali menguap lantas perlahan memejamkan matanya. Terlelap dalam buaian mimpi.
***
Aura yang baru saja memasuki kelas sontak menunduk, nyaris terkena bola kertas yang tertuju ke arahnya.
"Meli! Jangan main lempar bola kertas nanti berserakan di lantai." Gadis bernama Meli itu mendongak, menatap sebal.
"Gue mau lempar ke Prangko, tapi salah sasaran!"
Aura mengernyit.
"Hah? Prangko?"
"Itu loh Nako. Ngeselinnya na'udzubillah. Dicontekin susahnya minta ampun!"
"Heh! Yang ngeselin itu kamu. Mengubah nama orang sembarangan. Lagi pula, seharusnya kamu kerjakan sendiri tugasnya. Jangan mengandalkan contekan. Apabila kamu kerja nanti, toh, yang ngerjain kamu, kan? Apa masih menyontek karyawan lain untuk mengerjakan tugasmu?"
Aura menahan tawa, kembali melangkahkan kaki menuju tempat duduknya. Nako ini kalau sudah menasihati seperti rumus persegi panjang. Panjang kali lebar.
"Cuma nyontek dua kali doang, Ko!" Meli mencebik, membalasnya kesal. Nako membenarkan kacamatanya yang merosot.
"Mungkin baru dua kali, tetapi nanti lama-kelamaan menjadi candu buat kamu. Sekarang nyontek Bahasa Inggris, besok Matematika, besoknya lagi Kimia. Candu, bukan? Apa kamu mau mempertahankan sifat menyontekmu terus-terusan?"
Meli memanyun, berpindah ke tempat duduknya dengan sebal.
"Kena azab lo, Prangko panci!"
"Azab itu diberikan Allah kepada hambanya sebagai akibat dari perbuatan atau kesalahan yang pernah ia perbuat. Azab itu sendiri berupa kepedihan yang diberikan oleh Allah Swt. kepada orang-orang kafir dan orang yang selalu menentang-Nya baik di dunia maupun di akhirat kelak."
"Dalam Surah As-Sajdah ayat 21, Allah Swt. berfirman, 'Dan pasti kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); agar mereka kembali ke jalan yang benar.'"
Meli yang duduk di bangku belakang meneguk ludahnya dengan susah payah, berpura-pura menulis di buku tugasnya.
***
Aura mengeratkan tali ranselnya, menggumamkan lagu dari bibir mungilnya. Berjalan keluar kelas menuju parkiran, di mana Delon menunggunya.
"Aura!" Suara berat itu sontak menghentikan langkahnya. Aura berbalik, mendapati Aldi yang tengah mengatur napasnya yang memburu.
"Ada apa, Kak Al?"
Aldi mendongak.
"Gue mau minta tolong sama lo, bantuin gue bujuk Delon supaya ikut turnamen basket bulan depan. Turnamen ini penting buat sekolah kita. Please, ya?"
"Lho, kenapa nggak Kak Al aja?" Aura menggaruk tengkuknya yang tak gatal, menatap Aldi bingung.
"Gue udah bujuk dia berulang kali, tetapi hasilnya nihil. Delon tetap menolak."
Aura mengetukan jari telunjuknya di bibir, berpikir sejenak. Aldi menatap Aura harap-harap cemas hingga akhirnya Aura mengangguk.
"Oke. Aura coba ya, Kak Al?" Aldi tersenyum, mencubit pipi Aura gemas.
"Thanks, ya!" Aura mengerjapkan matanya, menyentuh pipi kanannya yang baru saja dicubit.
"Kebiasaan, deh! Kalau nggak ngacak rambut pasti cubit pipi. Dikira aku bayi apa? Ish! Semua orang menyebalkan!"
***
Sumber:
1) Nasihat Nako bersumber dari nasihat guru smp ku waktu kelas 9. Lupa namanya siapa.
2) Nasihat tentang azab dan dalilnya dari google.
Mulai hari ini, aku akan update With You setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at. Bukan karena kurangnya antusias kalian terhadap cerita ini, melainkan ada sesuatu yang tak bisa kujelaskan di sini👀
Eh, eh, vote + komennya udah belum?👀
Hm, kira-kira Aura bakalan berhasil nggak, ya, buat bujuk Delon?😁
Banjarnegara, 14 Sep 2020
Penikmat batagor,
Fitri N. H
KAMU SEDANG MEMBACA
WITH YOU | END
Teen Fiction[NEW VERSION || COMPLETED] [SCHOOL | FRIENDZONE] Rate: (13+) Kepada kamu. Seseorang yang berhasil membuatku jatuh terlalu dalam. Menyisakan ruang sesak yang perlahan menggerogoti jiwa dan raga. Bagaimana aku sebodoh itu? Mencintaimu yang justru sika...
