"Apakah pantas? Pantas jika seorang b*r*ngsek seperti Delon menyebut Aura sebagai gadisnya? Tidak, 'kan?"
Delon melajukan mobil sport hitamnya dengan kecepatan sedang. Pandangannya sedari tadi tak teralihkan dari pepohonan yang menjulang tinggi sepanjang jalan. Derik jangkrik yang saling bersahutan sontak menyapu kesunyian yang tercipta.
Delon mengembuskan napasnya yang terasa berat. Arloji di pergelanfab kirinya sudah menunjukkan pukul 16.00, sudah setengah jam dirinya menyusuri jalanan hutan, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan manusia di dalamnya.
Cemas. Delon mulai meresakan keresahan yang diam-diam menelusup relung hatinya. Raut khawatir tercetak jelas di wajah tampannya, bola matanya pun berpendar gelisah. Sekasar apa pun perbuatan yang dilakukannya kepada Aura, tetap tak bisa menyingkirkan Aura dari hati dan pikirannya. Menyebalkan!
Delon kembali memfokuskan pandangan pada jalanan sepi. Seberapa jauh lagi ia harus mengikuti jalanan tanpa ujung ini?
***
"Menurut gue, kemungkinan besar mereka disekap dalam markas Texas." Malik berujar, matanya sama sekali tak menyorot keraguan sedikit pun.
"Lalu ... di mana markas Texas?"
Hening. Malik mengembuskan napasnya kasar membuat Delon dan Vany kompak mengernyit bingung. Detak jarum jam yang terus berputar di dinding cafè seakan menunggu jawaban yang terasa menegangkan.
"Gue nggak tahu." Malik kembali berujar, kali ini sedikit lirih. "Markas Texas selalu berpindah-pindah, menyulitkan langkah untuk menemukannya. Tetapi yang gue tahu, markas Texas selalu jauh dari keramaian manusia."
"Ada yang bisa menebak?" Pertanyaan yang dilontarkan Malik sontak membuat Vany hanya terpikirkan oleh satu kata.
"Apakah hutan?" Vany menatap dengan penuh tanda tanya, tetapi Malik hanya membalasnya dengan senyum tipis.
***
Kepingan memori percakapannya dengan Malik di Cafè Amorjaya masih terngiang di kepalanya. Hutan. Delon sangat yakin jika markas Texas berada di hutan ini, tetapi di mana? Karena sejauh mata memandang, hanya ada pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Delon menghentikan mobilnya di pertigaan jalan. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil sembari mengusap wajahnya gusar. Di mana? Di mana Aura disekap?
Bugh!
Delon terlonjak kaget, spontan menegakan tubuhnya. Ia menatap was-was ke sekeliling, ia tak salah dengar, 'kan? Sepertinya ada perkelahian yang terjadi di sekitar sini, tatapi di mana?
Bugh!
Pukulan kembali terdengar membuat Delon amat yakin jika ada keberadaan Texas di hutan ini.
Bugh!
Mengarah ke kiri. Delon dengan segera membetulkan posisi duduknya, kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, takut kehilangan sumber suara. Beberapa menit kemudian, Delon menghentikan mobilnya dengan pandangan kaget.
Delon dengan segera keluar dari mobil, memastikan yang baru saja dilihatnya. Tidak salah lagi. Di depan sana, dengan langkah tertatih dan kilatan amarah yang tersorot jelas dari matanya, Bara memukul anggota Texas dengan membabi buta.
KAMU SEDANG MEMBACA
WITH YOU | END
Fiksi Remaja[NEW VERSION || COMPLETED] [SCHOOL | FRIENDZONE] Rate: (13+) Kepada kamu. Seseorang yang berhasil membuatku jatuh terlalu dalam. Menyisakan ruang sesak yang perlahan menggerogoti jiwa dan raga. Bagaimana aku sebodoh itu? Mencintaimu yang justru sika...
