[20] PENCULIKAN

767 47 3
                                        

Aura tengah duduk bersilang di sofa panjang sembari memeluk bantal bundar bergambar logo Manchester United di tengahnya. Bantal tersebut ia dapatkan dari saudara sepupunya yang berasal dari Semarang saat ulang tahunnya yang kelima belas tahun. Aneh, padahal Aura tidak menyukai club sepak bola mana pun.

Aura semakin mengeratkan bantalnya tatkala layar televisi menampilkan drama Korea berjudul "Angel's Last Mission: Love". Drama Korea bergenre fantasy-romance yang menceritakan tentang malaikat yang ditugaskan untuk mencari cinta sejati bagi seorang balerina yang penuh luka batin. Namun, justru malaikat itulah yang jatuh cinta pada gadis tersebut.

"Dor!" Sedang tegang-tegangnya untuk menerka kejadian yang akan menimpa Yeon Seo, mamanya justru dengan tega mengagetkannya sembari tertawa lepas. Hal itu sontak membuat Aura cemberut.

"Fokus amat, sih," heran Bu Mala seraya mendudukan tubuhnya di samping Aura. Aura menoleh sekilas lantas kembali menatap layar televisi. Masih ngambek rupanya.

"Ra? Mama perhatikan, kok, Delon jarang ke sini. Kalian ada masalah?" Pertanyaan yang dilontarkan mamanya sontak membuat Aura menoleh dengan cepat. Aura bingung harus menjawab apa. Bahkan sampai saat ini pun Aura belum menemukan jawaban atas Delon yang menjauhinya secara tiba-tiba. Aura menghela napas berat, menatap mamanya sendu.

"Delon menjauh dari Aura, Ma." Bu Mala sontak mengernyit heran. Padahal yang ia lihat Delon sangat dekat dengan putrinya, bahkan sesekali bersikap possesive jika ada cowok lain yang mendekati Aura selain dirinya. Anak zaman sekarang sungguh aneh. Katanya sayang, tapi kok malah pergi tanpa permisi?

"Aura buat kesalahan?" Aura menggelengkan kepalanya cepat.

"Aura bahkan gak tahu kesalahan Aura di mana." Aura menunduk lesu, ingin sekali hubunngannya dengan Delon membaik seperti dulu. Padahal, seperti baru kemarin ia tertawa bercanda bersama Delon, rasanya baru kemarin Delon menjahilinya, mengajaknya ke Pasar Malam. Tapi, semuanya dengan cepat berubah.

Satu detik yang mengubah segalanya. Delonnya, sahabatnya. Aura mengggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis yang hampir pecah tak terbendung. Bu Mala dengan sigap memeluk putrinya, mengusap surainya lembut.

"Hidup itu adalah tentang belajar, Sayang. Belajar bersyukur meski tak cukup. Belajar bersabar meski terbebani. Belajar setia meski banyak yang menggoda. Dan belajar memaafkan meski tersakiti berkali-kali. Tetapi, yakinlah buah dari kesabaran itu sangatlah indah. Percaya sama mama, pasti Delon punya alasannya tersendiri untuk melakukan semua ini." Aura mengurai pelukannya, menatap mamanya sembari tersenyum tipis. Tanpa sadar, air matanya lolos membasahi pipi mungilnya.

"Jika Aura tahu bahwa Allah yang membolak-balikan hati seseorang, maka satu-satunya cara menjaga hati orang yang Aura cintai adalah dengan mendoakannya," ucap Bu Mala sembari menyeka air mata pada pipi Aura. Aura justru memanyun, memukul lengan mamanya lirih.

"Aura lagi gak jatuh cinta, Ma," sangkalnya sebal. Bu Mala sontak terkekeh. Sepertinya, Aura belum menyadari perasaannya.

"Sana tidur. Besok Aura sekolah, 'kan?" Aura mengangguk, tapi seketika teringat pada Bara dan Delon yang dikenai skors dua hari karena perkelahian yang memporak-porandakan kantin.

Sepertinya, esok hari akan sepi tanpa mereka.

***

"Pembelajaran cukup sampai di sini saja. Jangan lupa untuk mengerjakan tugas Fisika yang sudah saya berikan. Saya akhiri. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."

WITH YOU | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang