[22] KABUR

750 51 2
                                        

Dengan sedikit tertatih dan menahan rasa perih di tubuhnya, Bara berusaha menggerakkan kursi yang didudukinya untuk menuju pada tumpukan kardus. Setelah beberapa jam yang lalu anggota Texas merayakan kemenangan atas tawuran kemarin, mereka banyak sekali meminum minuman keras dan tanpa sadar meninggalkan puluhan botol di atas tumpukan kardus.

"Kak Bara?" Bara tak menyahut. Sedikit lagi. Sedikit lagi ia sampai di tepi tumpukan kardus. Bara menggeram, dengan sekuat tenaga menggerakan kursinya lebih cepat. Andai saja kursi ini memiliki sayap dan bisa terbang, mungkin Bara tidak perlu repot-repot seperti ini.

Sesampainya di tepi tumpukan kardus, Bara dengan segera merobohkannya hingga puluhan botol kaca remuk dan jatuh berkelontangan ke lantai. Aura menjerit tertahan, takut jika ada salah satu anggota Texas yang mendekat.

Bara merobohkan diri lantas meraba lantai untuk mengambil kepingan botol kaca. Setelah mendapatkannya, Bara dengan segera menggesekkan kepingan botol tersebut pada tali yang mengikat kedya tangannya. Bara berdesis, memejamkan mata ketika merasakan darah segar mengucur dari telapak tangannya. Perih. Namun, mau bagaimana lagi?

Napas Bara memburu, sedetik kemudian dalam sekali gesekan, tali yang mengikat tangannya terputus. Dengan cepat ia beralih menggesekan potongan botol kaca pada ikatan tali di kakinya. Setelah terlepas, Bara menghampiri gadis berkepang duanya, memastikan bahwa gadisnya itu baik-baik saja.

"Lo gapapa, 'kan?" Bara menatapnya lekat dengan raut khawatir yang tercetak jelas di wajahnya, lantas mengusap pipi Aura lembut--membuat darah dari telapak tangannya ikut mengotori wajah mungil itu. Aura menggeleng lemah.

"Aura mau pulang." Bara tersenyum, beralih menggesekan potongan botol kaca pada ikatan tali tangan dan kaki Aura. Ia menggesekannya dengan hati-hati, khawatir jika gadis berkepang duanya itu terluka.

"Kak Bara ...." Setelah ikatannya lepas, Aura refleks memeluk Bara dengan sangat erat, membuat cowok itu mundur beberapa langkah. Aura menangis terisak, meluapkan segala rindu dan ketakutannya menjadi satu.

"Jangan nangis, nanti kedengaran." Aura mendorong dada Bara pelan, menciptakan ruang. Ia dengan segera menyeka air matanya yang menderas.

"Kalau nangis terus, nanti gue tinggal di sini. Mau?" Aura cepat-cepat menggeleng, ia tak mau ditinggal sendiri di ruangan pengap seperti ini.

Bara kembali tersenyum, beralih menggenggam jemari mungil milik Aura. "Kita cari jalan keluar." Bara beranjak, menatap ke sekeliling ruangan, mencari celah untuk jalan keluar. Beberapa saat kemudian, pandangannya menangkap sebuah jendela tanpa kaca, letaknya agak sedikit tinggi.

Bara melepaskan genggaman, menarik kursi kayu di dekatnya, kemudian meletakannya persis di bawah jendela. Bara menaiki kursi kayu itu, memastikan jendela yang akan digunakannya aman atau tidak. Tidak ada serpihan kaca ataupun kawat berlistrik, dan jarak jendela ini dengan tanah tidak terlalu jauh.

"Ayo!" Ajakan Bara justru disuguhi dengan gelengan kepala. Aura sedikit trauma dengan ketinggian.

"Kak Bara duluan." Bara menghela napas pelan lantas dengan segera melompat dari jendela tanpa pikir panjang. Aura meremat rok sekolahnya, ragu-ragu menaiki kursi tersebut. Aura menghembuskan napas pelan, menatap ke sekeliling ruangan, belum ada tanda-tanda kedatangan Texas.

Syukurlah. Setidaknya ia bisa bernapas lega sesaat. Aura beralih mencengkeram dasar jendela, menyembulkan kepala, terlihat Bara melambaikan tangannya--mengode untuk segera lompat.

WITH YOU | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang