Part 4

34 7 3
                                        

Pagi itu.
Matahari dengan cahayanya yang cerah menembus tirai kamarku.
Memberikan kesan warna keemasan ke dalam setiap sudut kamarku.

Cahayanya yang terang menemaniku mempersiapkan diriku untuk berangkat kuliah pagi ini.

Ya...  Saat ini aku adalah mahasiswi tingkat pertama. Dan jurusan yang ku ambil adalah Seni Rupa.

Ya...  Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Benarkan ?
Tidak heran bukan?

Tidak ada alasan khusus aku mengambil jurusan ini.
Mungkin karena aku terbiasa dengan peralatannya sejak kecil atau memang darah seni telah mengalir didalam darahku.

Aku memandangi bayangan tubuhku pada sebuah cermin besar seukuran tinggi tubuhku.

" 예뻐 ( cantik) " aku tersenyum memuji diriku sendiri.

Aku memeriksa kembali beberapa buku yang telah ku masukkan ke dalam tas ransel ku sejak semalam.

Kegiatanku terhenti sejenak saat melihat jurnal yang terletak di atas meja belajarku.

Pikiranku beradu didalam kepalaku. Apa aku akan membawanya hanya untuk membacanya disaat senggang. Ataukah akan meninggalkannya di dalam kamarku saja.

" mungkin aku akan membutuhkannya di saat aku bosan. " pikirku dalam hati.
Dan akhirnya aku memasukkannya kedalam tas ranselku.
*****

Aku memasuki halaman kampus dan di sambut dengan riang oleh sahabatku. Kim Soo Yeon

" A-Reum a.... " teriaknya kegirangan.

Kim Soo Yeon. Gadis bertubuh tinggi bak model sebuah majalah. Sangat cantik dengan semua jenis pakian yang di kenakannya.
Idaman semua pria di kampus kami. Bunga kampus. Seperti itulah istilahnya universitas.

Dibalik penampilannya yang begitu mempesona, Soo Yeon bukanlah orang yang sombong. Dia sangat sayang dan peduli padaku. Dan Soo Yeon sangat percaya pada takhayul, ramalan zodiak atau ramalan bintang.

Konon katanya dia merupakan wanita yang sangat jahat di kehidupannya yang sebelumnya.
Karena itu walaupun sangat cantik, Soo Yeon hingga saat ini belum pernah sekalipun pacaran.
Katanya itu seperti karma atas ala yang di lakukannya di masa lalunya.

Aku tertawa terbahak - bahak jika mengingat kembali apa yang di katakannya saat terakhir kalinya kami pergi ke seorang peramal di pasar malam.

" A-Reum a... Bogosipo ( aku rindu padamu. " teriaknya sambil memelukku.
" Bukankah kita baru saja berpisah lewat video call semalam? " Jawabku
" mmm memang benar sih. Apa mungkin di kehidupan sebelumnya kamu adalah adikku, atau jangan - jangan kamu adalah kekasihku, mungkim itu sebabnya aku merindukanmu. "
" Apa kamu ke peramal lagi? " Tanyaku heran.
Dan Soo Yeon hanya di balas dengam senyum nyengir.

( Saat angin berhembus
aku terbangkan layang layang cinta
untukmu.....)

Sayup sayup ku dengar suara puisi yang kubaca semalam.

" Soo Yeon a...  Apa kamu mendengarnya? " tanyaku padanya.
" Mendengar apa?  "  tanya Sok Yeon heran.

( bayang-bayang itu
masih memenuhi hati ini
ketika tetesan kerinduan ini
memenuhi jendela hatimu )

Aku mengikuti arah suara itu. Menuju ke arah gedung aula pertemuan.

( kasihku....
bukalah pintu
keluarlah.... )

Aku membuka pintu aula lebar lebar. Aku menatap seorang pria mengenakan setelan kemeja berwarna putih tengah duduk membaca secarik kertas.

Pria itu terdiam memandangku seakan sedikit terganggu dengan kehadiranku.

" Maafkan aku, Sepertinya aku  salah masuk gedung. " Jawabku tertunduk meminta maaf. Dan segera berbalik.

" A... Sebentar kamu yang disana. " Kata pria itu.
" Iya kamu. Disini hanya ada aku dan kamu kan?"
Aku menoleh ke belakang dan menyadari Soo Yeon tidak ada di belakangku.

" Karena kamu disini boleh ku minta pendapatmu tentang puisi ini? "
" Ne? Aku? Maafkan Aku. Aku tidak begitu paham tentang puisi. Dan juga aku mahasiswa Seni Rupa." Jawabku menolak permintaannya.

Pria itu hanya tersenyum. Mendengar jawabanku.
" Tak mengapa. Aku memang ingin mendengar tanggapan dari orang awam. " Jawabnya sambil memberikan secarik kertas kepadaku. 

Aku meraih secarik kertas dari tangannya dan melihat puisi Berjudul " Layang - Layang "

" O...  Ini... Bukannya puisi semalam yang kubaca di jurnal itu. " Ucapku dalam hati.

" Bagaimana menurutmu? " Tanya pria itu dengan senyuman menunggu jawabanku.

" Ironi. " Jawabku singkat. Membuat pria itu menatapku.
" Puisi yang bagus. Puisi yang menceritakan keceriaannya cintanya terhadap kekasihnya. Namun sayangnya dia mengukur kekuatan cintanya dengan benang layang-layang. Karena dia bisa membuat cintanya terbang tinggi di angkasa dengan benang yang kuat tapi tidak menjamin bisa mempertahankannya saat datang angin. Karena dia bisa saja kehilangan cintanya. " Ucapku.

Mendengar jawaban dariku. Pria itu tersenyum padaku
" ireumi mwoyeyo? ( Siapa Namamu? )" Tanyanya padaku.
" Ne?  A-Reum. Kwon A-Reum. " Jawabku bingung.
" Aku suka sudut pandangmu terhadap puisi itu. A-Reum ssi."

" Kamsahamnida. " Ucapku berterima kasih

"Banggawoyo Kwon A-Reum ssi... Aku Ha neul. Kang Ha neul. "

" Ne? " Aku terkejut mendengar namanya. Serasa seperti apa yang ku mimpikan semalam terjadi dalam versi yang berbeda.

The Missing StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang