Chapter 5

856 61 11
                                        

Alice's POV

Aku memegang setir sepeda Joshua. Untungnya aku sudah menghapal jalan dari rumah ke teater. Aku hanya perlu melakukan hal yang sebaliknya. Jika tadi kita berbelok ke kanan, berarti nanti harus berbelok ke kiri dan begitu seterusnya. Juga harus menghilangkan taman dari "peta"-ku karena tidak mungkin aku kembali lagi ke sana.

"Ngomong-ngomong, di mana kau sekolah?"

"Trafalgar."

"Benarkah?"

"Tentu. Memangnya ada sekolah khusus lain di daerah sini?"

"Uh, entah. Berarti hari ini kau bolos, Alice?"

"Begitulah."

"Boleh tau penyebabnya apa?"

"Aku sedang marah pada ibuku. Pacarku mengajakku pergi ke luar negeri dan ia melarangku. Sepertinya aku ini tidak bisa melakukan apa-apa."

"Oh... Sudah punya..."

"Hei!"

Aku berhenti. Spontan sepeda Joshua juga berhenti.

"Apa? Kenapa kau berhenti?"

"Kita dimana?"

"Kita akan menyeberangi jalan Danville."

"Di dekat lampu merah?"

"Ya, kita baru saja sampai."
*tung!*

Aku mengayunkan tongkatku untuk memastikan. Hampir saja kita tersesat.

"Lebih baik kita tidak berbicara hingga tiba di rumahmu. Kurasa kau ada sedikit masalah dengan fokus."

"Hehe."

"Ayo jalan."

Joshua's POV

Kami berjalan cukup jauh hingga tiba di sebuah rumah orang tua yang kukenal. Siapa lagi kalau bukan nenek Beth?

"Rumahmu yang mana?"

"Nomor 13."

"Kupikir kau serumah dengan nenek Beth."

"Dia tetanggaku tapi baru saja aku mengangkatnya sebagai nenekku pagi ini."

"Hahha, ada-ada saja."

Aku merogoh tas kecilku lalu mengambil kunci di dalamnya.

"Kau mau masuk?"

"Kau ini benar-benar..." Ucap Joshua dengan kesal.

"Aku ini kenapa?"

"Aku laki-laki, kau perempuan. Kita baru saja kenal dan kau sudah mengajakku masuk ke rumahmu. Kau tidak takut aku akan berbuat sesuatu?"

"Yah, sebenarnya cuma basa-basi saja. Aku pasti akan menutup pintuku untukmu. Hahhaha--Aduh!"

Joshua menjitak kepalaku.

"Huh, kau ini menyebalkan. Cepat sana masuk."

"Iya iyaa. Kuharap ini bukan pertemuan kita yang terakhir."

"Ckckck, dramatisnya... Tentu saja bukan. Aku akan menemuimu setiap hari jika aku mau."

"Benarkah?"

"Tentu. Kita 'kan teman."

"Hehe."

"Aku pergi dulu. Sampai nanti!"

DesireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang