Leo
Hari ini, tepat di bulan September, diawal musim gugur, aktivitas perkuliahan di Lanfrach kembali seperti semula. Kami semua masuk sesuai jadwal yang telah diatur oleh pihak universitas. Meski tidak seramai biasanya, setidaknya Lanfrach terlihat hidup. Memang sudah menjadi budaya disini, kalau saat pertama kali masuk perkuliahan, mahasiswanya malas masuk di hari pertama. Maklum saja, suasana libur masih menggerogoti.
Bahkan aku sebenarnya malas sekali untuk masuk sekarang, tetapi mengingat janjiku dengan Joshua, membuatku harus memaksakan diri. Yeah, ini semua demi Felicya. Demi mengembalikan kehormatan sang ratu drama Lanfrach.
Aku melintasi koridor Lanfrach yang sepi, hanya ada sekitar lima orang yang berlalu lalang disekitar koridor. Ketika aku fokus berjalan, tiba-tiba bahuku ditepuk oleh seseorang hingga membuatku terperanjat dan hampir terjungkit ke depan. Otomatis aku langsung menoleh ke arah samping dan menemukan Joshua berdiri dengan senyum lebar diwajahnya. Oh, aku hampir emosi, pagi-pagi dia sudah mengajak ribut.
"Bisa tidak, tidak usah memukul?" protesku, sebal.
"Haha.. maaf. Aku Cuma mau bilang kalau saat ini aku dapat akses ke ruang CCTV."
Aku pun akhirnya meluluhkan amarah, berkat kata-kata Joshua barusan. Dari yang awalnya aku kesal setengah mati padanya, sekarang aku begitu antusias. Tentu saja yang disampaikan Joshua itu berita baik, mengingat tugasku adalah memecahkan masalah Felicya.
"Apa kau melihat Lisya masuk hari ini?"
Joshua menggeleng. "Aku tidak melihat siapapun yang ku kenal, kecuali kau."
"Oh, baguslah, kalau begitu ayo kita ke ruang CCTV." kemudian aku memimpin jalan.
Beberapa langkah berjalan, aku tersadar kalau ternyata aku berjalan sendirian. Kemudian aku menoleh ke belakang untuk melihat Joshua. Dan benar saja, sesuai dugaanku, Joshua masih berdiri ditempatnya sambil menatapku aneh. Aku berdecak dan mengisyaratkan Joshua untuk jalan. Untungnya orang itu langsung mengerti.
"Kemarin Mr. Ford bilang kita bisa bertanya-tanya ke penjaganya mengenai rekaman kejadian beberapa bulan lalu." ujar Joshua ketika dia berada disampingku.
"Serius? Aku pikir rekamannya akan hilang dan tidak akan diperiksa jika tidak ada kerusakan atau segala hal yang berkaitan dengan kerugian Lanfrach." balasku, sedikit tak percaya.
"Entah, aku juga tidak tahu." kata Joshua sambil mengangkat kedua bahunya. Aku harap setelah ini ada titik terang, supaya tidak ada lagi pertanyaan dalam benakku.
-οΟο-
"Josh, kau yakin? Kita sudah satu jam disini, tapi masih belum menemukan apapun." aku sedikit geram melihat Joshua yang sejak tadi sibuk menggonta-ganti rekaman CCTV, padahal waktu yang kami miliki di tempat ini tidaklah banyak.
"Aku tahu! Tapi kita belum menemukan titik terang apapun." kemudian ku dengar dia bergumam, "Mr. Ford berbohong padaku."
Sebenarnya yang Mr. Ford katakan ada benarnya, kita cuma bisa bertanya-tanya saja dengan penjaga CCTV, bukan bertingkah diluar kendali seperti ini. Mengutak-atik rekaman sembarangan, sementara penjaganya tengah bersedakap dibelakang kami. Yeah, sejak tadi dia memang sudah mengawasi kami, sesekali berdeham.
Aku jadi ikut panik ditengah suasana seperti ini, ya ampun. Ketika aku mengarahkan mata ke rekaman CCTV, tiba-tiba aku melihat sesuatu yang aneh dari rekaman tersebut. Cepat-cepat aku menyinggung lengan Joshua. "Lihat itu!"
"Jennie?" seruku. Sedetik kemudian aku menatap Joshua, dia pun hanya mengangkat kedua bahu. "Apa yang diakukannya? Itu kan bukan loker miliknya."
Yeah, kami melihat sosok Jennie memaksa membuka kunci loker dengan jepit rambutnya, dan kurasa itu bukan lokernya, karena itu adalah loker bagian mahasiswa baru. Loker miliknya ada disebelah ruang seni. Dugaan Joshua memang benar, bahwa ada yang tidak beres dari Jennie. Dari awal Joshua mengatakan kalau Jennie memang ada hubungannya dengan kejadian yang dialami Felicya.
Ini tidak bisa dibiarkan. Aku heran, kenapa orang-orang tidak ada yang mengecek bagian CCTV untuk memperkuat bukti bahwa Felicya tidak bersalah. Aku pun menatap penjaga ruang CCTV dibelakang ku. "Apa para dosen atau orang-orang Lanfrach pernah kesini dan memeriksa rekaman?"
"Tidak ada." sahutnya. Mendadak laki-laki paruh baya dihadapanku gemetar, padahal tadinya pria yang berada dikisaran usia empat puluh tahunan lebih itu,
merasa diri paling kuat dengan memperlihatkan otot-otot lengannya ketika melipat tangan didepan dada.
Tidak berselang lama dia berkata lagi, "sebenarnya ada, beberapa waktu yang lalu. Dia juga kebetulan memeriksa rekaman yang sedang kalian putar. Setelah melihatnya, aku disuruh tutup mulut dan menghapus rekaman tersebut." aku sang penjaga pada kami.
Ini benar-benar gila. Aku tidak percaya bahwa ada sogok menyogok di Lanfrach. Aku pikir Lanfrach adalah universitas paling bersih.
"Kau menerima bayaran?" tanya Joshua.
"Bukan bayaran, tapi dia lebih ke mengancam." katanya.
"Siapa?"
"Seorang gadis muda, mungkin mahasiswi juga disini. Dia punya wajah yang kecil dan rambut panjang, aku tidak tahu namanya."
Aku mulai menduga itu Jennie. Meski ciri-cirinya tidak spesifik, tapi aku bisa menduga bahwa itu Jennie. Aku tidak percaya untuk mendapatkan popularitas dia harus melakukan hal rendahan seperti ini. Aku harus memberinya pelajaran.
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung meninggalkan ruang CCTV dan berlari disekitar koridor guna mencari sosok Jennie. Aku tahu lanfrach ini luas, tapi aku akan tetap mengelilingi tempat ini demi menemukan Jennie dan membuatnya bertanggung jawab atas perbuatannya.
Tidak lama setelahnya, aku melihat jennie sedang menaiki tangga menuju gedung, sepertinya dia baru datang ke kampus. Aku pun langsung menghampirinya setengah berlari dan menggengam pergelangan tangannya kuat. Dia terlihat kaget, karena perlakuan ku yang tiba-tiba.
"Siapa kau?" ujarnya.
"Tidak penting siapa aku, tapi kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu."
Aku pun menyeretnya untuk naik dan bicara didepan gedung. Aku merasa dia menyentakkan tangannya beberapa kali agar bisa lepas dariku.
"Kau sangat tidak sopan!" gertaknya.
Aku pun tertawa miris. "Mana yang lebih tidak sopan, aku yang menyeretmu sampai kesini atau kau yang mencuri karya milik orang lain."
Satu kalimat yang kuucapkan itu, mampu membuatnya diam seribu Bahasa. Bahkan kulihat tubuh Jennie langsung bergetar, kemudian mundur perlahan ketika genggaman tangannya ku longgarkan. Kentara sekali bukan? kalau dia memang melakukannya.
"Kau... kau, tidak mungkin......" bicaranya sudah semraut karena sudah tertangkap basah.
Aku tersenyum miring. "Kenapa? Kaget karena sudah ketahuan?" kembali aku menggenggam tangannya dan menyeretnya masuk ke dalam gedung. "Sekarang kau ikut aku!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Akasia
Fiksi PenggemarKisah tentang si penguat jiwa, dalam menghadapi kerasnya hidup. Tanpa banyak bicara, tanpa berusaha membuktikan kebenaran, tanpa rasa putus asa. Dia seperti akasia, terlihat kuat meski banyak rintangan yang dia hadapi. "Dia orang pertama yang menga...
