Tempat yang ia tandai, berada di apartemen yang begitu kacau, 8 blok jauhnya dari sini. Tidak jauh. Ia juga menunjukkan nomor kamar tempat dia berada. Maksudku, apa yang dia lakukan di sana? Bukankah seharusnya dia bekerja sekarang.
Jika memang ia meninggalkan pekerjaannya, masalah serius mungkin menimpanya. Bagaimanapun, aku akan tetap pergi.
Aku segera berangkat dengan terburu-buru, menyetir. Dan tiba di sana dalam waktu sekitar 20 menit.
Apa yang aku saksikan di hadapanku sekarang ini adalah, apartemen terburuk di mana mata pernah melihat. Pondasinya sudah mulai rapuh, grafiti di seluruh dinding, enam puluh persen dari jendelanya pecah dan berantakan. Seperti puing-puing bangunan yang tersisa dari perang.
Aku tidak pernah bisa membayangkan diriku tinggal di tempat seperti itu. Yang ini benar-benar terlihat sangat buruk dan tak layak untuk dihuni. Mungkin, aku sedikit beruntung memiliki rumah yang nyaman.
Aku memasuki apartemen tersebut, berjalan menuju lantai atas.
Bangunan dalam tak jauh berbeda dengan apa yang aku bayangkan. Sangat penuh sesak dengan kehidupan keluarga. Banyak sekali residen, terlalu miskin atau bermasalah secara genetis untuk menjelajahi dunia luar. Perlakuan di sana tak jauh berbeda seperti asrama umum.
Aku tiba di lantai 5. Kemudian melintasi lorong. Semua pintu tetangga terbuka seperti kios pasar yang membiarkan udara masuk dan keluar.
Aku berjalan melewati sembari memerhatikan nomor ruangan di setiap pijtu. Mengikuti dengan perlahan, sampai aku menemukan kamarnya.
332.. 333.. 334, itu dia. Seorang anak laki-laki di samping, berwajah cokelat, kehilangan telinga, menatap diriku, dengan rasa ingin tahu dan ketakutan, diikuti oleh orang-orang di belakangnya.
Aku mengetuk pintunya. Hendak masuk ke dalam, Pintu itu dilukis dengan grafiti, mengatakan, "persetan Rachel. Jalang!"
Pintu dibuka perlahan. Bersamaan, seorang pria mengintip dari dalam, hanya menunjukkan kedua matanya.
"Ah, akhirnya kau tiba juga. Cepat masuk, ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan," ucap Cole sambil membuka pintu dengan lebar-lebar, akupun mendahuluinya.
"Apa yang kau coba tunjukkan padaku, Cole?"
"Di sana, lihat." Dia mengarahkan jarinya langsung ke tubuh yang terbaring tak sadarkan diri di sana.
Tubuh itu berada di atas tumpukkan buku-buku, serta di pinggirnya sebuah pemandangan yang begitu hancur dan kacau. Sepertinya ada perkelahian di sini, dan seseorang baru saja terbunuh secara tragis.
Ia seorang pria, berumur pertengahan 30-an, kulit putih, dan berambut pirang.
Aku melihat dengan terheran-heran, "Jasad?" Aku menajamkan kedua alisku, dan menegaskan, "kenapa kau tidak melaporkan hal ini ke pusat?"
"Coba kau perhatikan punggungnya baik-baik,"
"Apa?"
Cole membalikkan jasad itu dan menarik baju bagian belakangnya, di sana tampak sebuah nomor seri yang tertulis ZY - 443 - AR.
Ya, seorang Replicant.
Terbunuh dengan beberapa tusukan yang tepat mengenai arterinya. Tebakanku, ia meninggal beberapa menit setelah tertusuk sampai darahnya terkuras habis.
"Lalu, apa masalahnya?" Aku mengangkat kedua tanganku dengan perasaan terheran-heran, "bukankah hal ini sudah umum terjadi? Seorang Replicant sudah tidak berfungsi secara baik, dan pihak otoritas harus melenyapkannya."
"Dylan, kau sudah begitu lama berada di kepolisian. Tapi, kasus seperti ini saja kau tak bisa membedakannya?"
"Aku tidak mengerti apa maksudmu. Kau pikir kasus ini berbeda?"
"Ya. Sejauh yang aku ketahui dari kebijakan perusahaan Proximas. Protokol pemberhentian seorang Replicant tidak seperti ini," ujar Cole sembari menyodorkan selembar kertas kepadaku.
"Apa ini?"
Cole menyilangkan kedua lengannya, "Baca aturan no 13 terkait dengan 'Protokol Pemberhentian Kinerja Replicant', kau akan mengerti apa maksudku."
Aturan no 13 mengatakan bahwa,
"Jika Replicant sudah tidak berkerja secara baik lagi, dalam artian, malfungsi atau terjadi kerusakan sistem dan anomali dalam terminalnya. Maka pemberhentian sangat dianjurkan agar tidak membuang-buang sumber daya kelangsungan hidup, dan populasi yang kian menaik (Bagaimanapun, harus disetujui oleh kedua belah pihak.)
Petugas berwenang hanya boleh melakukan eksekusi kepada Replicant dengan metode eutanasia, tidak dengan senjata konvensional lainnya"
Aku dapat menangkap apa yang Cole bicarakan, Replicant ini terlihat seperti dibunuh. Bahkan, di aturan pun tertulis bahwa hanya dengan suntik mati seorang Replicant bisa dieksekusi.
Ya, aku sangat mengerti. Walau, hanya seorang Replicant. Metode itu sangat manusiawi untuk dilakukan. Tapi, dengan kasus ini, apakah terlihat sangat manusiawi?
Si pembunuh menikam korbannya, Replicant, di daerah yang tidak begitu fatal. Faktanya, ia ingin membuatnya menderita terlebih dahulu sebelum akhirnya mati.
Ini bukan eksekusi, melainkan, pembunuhan. Motifnya juga terlihat sangat pribadi melalui emosi. Pertanyaanku adalah, mengapa seseorang membunuh Replicant?
Mereka hanya melakukan pekerjaan mereka, tidak akan mengembangkan masalah pribadi dengan manusia. Seharusnya, tidak menjadi masalah, bukan? Tentu saja, aku bisa merasakan sesuatu yang aneh dari sini.
-
KAMU SEDANG MEMBACA
Equinox
Science FictionTahun 2066, umat manusia sudah mencapai puncak dalam bidang sains ketika mereka telah berhasil merekayasa hayati biologi makhluk hidup. Menciptakan apa yang disebut dengan "Replicant" Pada umumnya, seorang Replicant tidak akan pernah bisa memiliki...
