Malam Mencekam dan Keanehan

13 1 2
                                    





'Cklek'

Pintu terbuka dengan perlahan, cahaya temaram menyinari kamarnya seperti biasa.

Zidan melangkah masuk untuk menghampiri Zia yang tertidur di ranjang dengan selimut pink kesukaannya. Belum lama Zidan di sana, hawa tidak mengenakan itu pun kembali hadir mengganggunya.

'Brugh!'

Tiba-tiba pintu kamar tertutup dengan kerasnya.

Helaan napas panjang untuk menenangkan diri pun dilakukan oleh Zidan. Ia kembali berjalan untuk menghampiri adiknya, Zia.

"Zia ... Zia bangun, Zia!" pinta Zidan.

Angin kencang menerpa leher milik Zidan, membuatnya refleks bergidik. Keheningan yang melanda saat ini, sungguh tak bisa membawa ketenanagan. Hanya ada kekhawatiran dan ketakutan yamg sangat mencekam.

"Zia ... bangun, Dek!" Zidan terus berjalan secara perlahan.

Zia pun terbangun dengan posisi duduk disertai selimut yang masih membalutinya. Tatapannya lurus ke depan, tapi ... sedetik kemudian, ia perlahan memutarkan pandangannya pada Zidan.

"Dek, ini aku ... Kakakmu!" Zidan mencoba tersenyum dalam rasa takutnya.

"Hahaha," gelak tawa milik Zia memenuhi seluruh ruangan. Bukan suara tawa bercanda, tapi ... Zia tertawa dengan suara cukup berat.

"Dek, sadar! Ini Kakak," lirih Zidan.

Bukannya sadar, tawa dari Zia semakin menggelenggar. Nadanya lebih tinggi dari sebelumnya.

Perlahan, Zidan pun mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala adiknya. Namun, tiba-tiba tubuhnya terseret ke belakang, menempel kuat di pojok kamar dekat pintu.

"Kakak," ucap Zia, yang telah kembali sadar.

"Dek, kamu harus selamatin diri kamu! Cepat cari jalan keluar." Zidan berusaha terlihat kuat di depan sang adik.

Zia menggelengkan kepalanya, saat ini ia juga langsung terisak. "Zia gak mau ninggalin, Kakak."

Susah payah Zidan menahan tangis kala melihat adiknya itu. Seketika matanya membola, Zidan pun berteriak, "Tidaaak! Jangaaan!"

"Kakak," jerit Zia, sebelum tubuhnya terbuntal sempurna oleh selimut merah.

Selimut merah yang mengurung Zia, dengan sengaja membentur tembok pojok di seberang sana.

Zidan menggigit kuat bibir bawah miliknya, dari pelupuk matanya mengalir deras air mata yang sudah membasahi pipi. Ia tak tahan, tak kuasa melihat sang adik diperlakukan seperti itu di depan matanya sendiri.

'Brugh'

"Kumohon berhentilah! Jangan sakitin Zia!"

'Brugh'

"Bebaskan dia, dan ambillah aku sebagai gantinya."

'Brugh'

'Brugh'

'Burr!'

Tepat pada benturan keempat, selimut itu menyembur menjadi darah yang berserakan di lantai.

"Zia ...." Zidan menangis sesegukan. Adiknya telah hilang, bersamaan dengan selimut merah yang menyembur menjadi darah.

"Sialan, kau! Kalau berani, hadapi aku!" tantang Zidan, dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.

PojoKamarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang