"Hiks ... hiks ...." Nema terisak di dalam pelukan itu.
Zidan semakin bingung, apakah Nema masih hidup atau sudah meninggal. Karena saat Nema mendekati untuk memeluknya, Zidan melihat jelas dengan mata kepalanya. Kalau bagian perutnya masih terbuka lebar dan tidak ada jantung di tempatnya.
"Peluk aku!"
"Peluk aku!"
"Pe-luk! A-ku!"
Susah payah Zidan meneguk salivanya, dengan tangan yang bergetar hebat. Ia mencoba melakukan apa yang Nema minta untuk membalas pelukannya itu.
"Peluk! Aku!" teriak Nema dengan nada sangat melengking.
Deruan napas serta dada milik Zidan seakan berlomba. Ia baru saja tersadar dari bunga mimpinya, tunggu dulu! mimpi? Ya, semua kejadian tadi adalah mimpi paling buruk selama Zidan hidup.
Ia mencoba rileks dengan mengatur napasnya agar kembali netral. Cukup lega rasanya mengetahui kejadian tadi hanyalah bunga tidur, meskipun, semua itu terasa sangat nyata.
'Degh'
Zidan tertegun, baru saja ia menetralkan pernapasannya. Namun, ada saja yang membuat tubuhnya kembali menegang dan jantungnya berpacu kembali di atas abnormal.
Bagaimana tidak, ada sebuah lengan yang memeluk pinggangnya. Padahal ia hanya seorang diri di kamar. Susah payah ia meneguk salivanya, perlahan kepalanya memutar untuk melihat siapa yang ada di sampingnya, dan ...
Kosong. Tunggu dulu! Kosong? Setelah mengetahui tidak ada siapa pun di sampingnya, ia kembali melihat ke arah pinggangnya, dan lengan yang memeluknya tadi pun seketika menghilang. Zidan pun menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya, ia terus mengulanginya sampai merasa tenang.
'Tok ... tok ... tok ....'
Lagi-lagi Zidan kaget dibuatnya. Ia pun bangun dari tidurnya dan berjalan menuju pintu.
'Cklek'
"Ada apa?" tanya Zidan, kepada gadis cantik nan imut yang tak lain adalah Zia.
"Ada temen kakak, tuh."
"Temen? Padahal kakak gak ada janji apa-apa di hari libur ini."
"Yaudahlah, temuin aja. Mereka gak mau pada masuk, malah mau nunggu di luar." Zia pun langsung berlalu dari hadapan sang kakak.
Mendengar itu, Zidan pun langsung on the way mandi terlebih dahulu. Selepas beres-beres diri dan kamar, ia pun langsung keluar untuk menemui orang yang bertamu sepagi ini. Sesampainya di sana Zidan sedikit tertegun kala melihat Nema dan Saga, meskipun di situ ada Laura juga. Namun, jujur saja, Zidan masih belum siap melihat pasangan baru itu lama-lama di depannya.
"Ada apa?" Zidan langsung to the point.
Laura yang sedari tadi nampak kahawatir, langsung menghampiri Zidan dan berujar, "Dara hilang."
"Hilang? Hilang gimana?" Zidan langsung panik dibuatnya, apalagi ia tahu kondisi Dara tidak sedang baik-baik sekarang.
"Ibunya tadi telpon, kalau pagi ini Dara tidak ada di kamarnya. Kemungkinan besar kabur ke sekolah, karena itu satu-satunya tempat yang ia datangi setelah kejadian di rumah Nema. Ibunya meminta bantuan sama kita, kalau ada apa-apa dan perlu bantuan, Ibu Dara siap membantu. Namun, sekarang ia gak bisa ikut karena ada urusan pekerjaan, ia sangat berharap kita bisa menemukan Dara," jelas Laura panjang lebar.
"Yasudah, ayo berangkat!" ajak Zidan.
"Mau bawa mobil?" Saga menawarkan Zidan untuk mengendarai mobilnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
PojoKamar
HorrorTiba-tiba saja Zidan dihantui oleh makhluk yang sangat mengerikan dari pojok kamarnya sendiri. Padahal sudah lama ia tinggal di rumah itu, tapi, baru kali ini ia menemukan hal-hal ganjil itu. Siapakah sosok makhluk itu? Kenapa ia bisa datang? Rasaka...